-->

TERPAKSA TERBANG SAAT PANDEMI? BERIKUT PERSIAPAN YANG HARUS DIPERHATIKAN

Kali ini saya mau bercerita seputar perpulangan saya ke Jakarta yang serba mendadak. Mau tau ceritanya? Simak ulasan ini dengan membacanya perlahan ya :)

Test Rapid Balita Samarinda
Kafa saat rapid test


Jadi sekitar akhir bulan Juli sebenarnya saya sudah berenca untuk pulang ke Jakarta. Pada dasarnya saya memang tidak ingin berlama-lama di Samarinda, tetapi karena pandemi, saya menetap lima bulan di sana. Setelah berdiskusi cukup alot, suami pun memperbolehkan saya beserta buah hati kami yang baru saja dikhitan untuk pulang ke Jakarta.

Tetapi lagi-lagi saat itu Tuhan belum berkehendak. Bunda kurang berkenan atas kabar perpulangan ini. Dengan berat hati dan mencoba ikhlas, akhirnya suami pun mengajukan proses pembatalan tiket yang kami pesan di sebuah aplikasi T. Singkat cerita, pengajuan tiket berlangsung lama dan statusnya masih saja terus "diajukan" belum ada status diterima atau ditolak.

Sampai suatu hari tiba-tiba saya mendapatkan pesan dari maskapai yang saya pesan. Isi pesannya berbunyi,
Yth. Penumpang BA rute Samarinda-Jakarta TGL 3 AUG ID6257 JAM 1.35 DIALIHKAN Menjadi JAM 12.45. Info hub Call Center 021-63798XXX. Terimakasih.
Suami saya mendadak panik karena dia yang mengurus proses pembatalan tiket. Sejak ada pesan tersebut, dia mencoba untuk menghubungi call center aplikasi T dan berbagai informasi terkait penerbangan dibaca olehnya. Namun sayang, hasil yang didapat hanya menunggu dan menunggu. Call center selalu sibuk, status pembatalan tiket masih saja "proses". Informasi dari maskapai, tiket saya dan Kafa masih aktif karena masih bisa dilihat diweb resmi.

Kesimpangsiuran dan kabar-kabar yang kami lihat dari sosial media tentang pembatalan tiket era pandemi ini membuat segelintir netizen sambat, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan tiket tersebut. Benar-benar perpulangan yang serba mendadak mengingat belum ada pakaian yang dikemas, apalagi dengan pemeriksaan rapid test sebagai salah satu persyaratan penerbangan. Berikut persiapan yang kami lakukan menjelang penerbangan yang serba mepet.

Tes Rapid di Samarinda
Meja Pemeriksaan Rapid Test

Berkemas

Pukul 20.30 WITA kami pergi ke Klinik meDIAfarma untuk melakukan rapid test. Tapi ternyata lokasi tutup. Mungkin karena hari Minggu dan sudah terlalu malam. Akhirnya setelah makan malam di Tepekong, kami memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, saya langsung berkemas dan suami langsung mencoba menghubungi call center kembali, namun hasilnya tetap sama.

Rapid Test

Pukul 06.00 WITA suami masih berusaha untuk menghubungi call center, namun ketidakpastian yang kami dapat. Akhirnya ketika jam 07.00 WITA kami berangkat kembali ke Klinik meDIAfarma untuk melakukan rapid test. Sesampainya di sana klinik sudah membuka antrian untuk rapid test, dan saya mendapatkan nomor urut 5 dan 6.

Info Covid di Kalimantan Timur
Duduk di Ruang Tunggu sambil DBF


Sebelum mendaftar, kami diminta untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Selanjutnya mengisi formulir pendaftaran yang berisi data nama, tanggal lahir, tujuan pemeriksaan, dan memberikan data Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk melengkapi data-data lainnya yang diperlukan.

Setelah proses administrasi selesai, kami diminta untuk membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 200.000,- per pemeriksaan. Artinya hari itu saya harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 400.000,- untuk rapid test saya dan Kafa. Ya, anak-anak tetap membayar penuh untuk pemeriksaan ini. Tidak seperti pembayaran perjalanan yang hanya perlu membayar 20% jika usia anak masih di bawah dua tahun.

Setelah membayar, saya langsung ke bagian pengambilan sampel darah dan suami saya membawa Kafa ke ruangan berlabel "fisioterapi" yang digunakan untuk pengambilan sampel khusus bayi. Selang 30-45 menit hasil rapid test kami keluar dengan hasil negatif.

Tes Rapid untuk Balita
Ruang pengambilan sampel


Oleh-Oleh

Tidak enak jika pulang tidak membawa buah tangan meski bawaan saya sudah cukup banyak, satu koper, dua kardus, satu tas bayi, satu tas ransel, dan oleh-oleh. Sebenarnya sengaja membawa dua kardus takut jika bawaan kami melebihi kapasitas bagasi 20kg, setidaknya ada yang masih bisa dibawa kembali ke rumah oleh suami. Tetapi alhamdulillahnya semua bawaan tersebut masuk bagasi tanpa membayar biaya tambahan.

Oleh-oleh khas Kalimantan yang saya bawa saat itu hanya Amplang dan Teh Gunung Satria. Tehnya wangi sekali, setiap pagi keluarga di Samarinda meminum teh tersebut. Sebelumnya suami juga sudah menyiapkan cincin khas Martapura untuk Engkongnya Kafa, dan baju Abaya untuk Yangti dari Bunda Uti. Jadi begitulah oleh-oleh ala kadarnya yang saya bawa.

Setelah selesai semua, saya dan suami kembali ke rumah untuk mengambil semua barang-barang kami dan berpamitan. Perjalanan ditempuh selama 1-1.5 jam. Kami hanya diantar oleh Pakde Adams dan suami tentunya. Was-was mengingat status tiket kami sudah masuk proses pembatalan tetapi kok masih aktif. Akhirnya kami pun tiba di bandara.

Proses Check in

Masa pandemi tentu berbeda dari biasanya. Tidak hanya di luar negeri yang harus menyiapkan berkas seabrek untuk satu penerbangan seperti yang dialami oleh Kak Olivia Purba saat hendak menuju ke Belanda. Di Indonesia juga harus mengikuti syarat penerbangan yang sudah ditetapkan selama pandemi.

Selain bukti pemesanan tiket dan KTP, saya juga harus menyiapkan hasil rapid test yang akan ditandatangani oleh petugas yang berjaga. Setelah berkas selesai diperiksa, suhu tubuh kami pun diperiksa dengan thermometer oleh petugas. Selanjutnya setelah itu kami masuk seperti biasa. Bahkan tidak ada teguran terkait tiket kami yang saat itu masih dalam proses pembatalan.

Tulisan ini diikutsertakan minggu tema Komunitas 1 Minggu 1 Cerita dan Komunitas Indonesian Content Creator
 

Unduh Aplikasi e-hac Indonesia

Ada yang berbeda dari petugas-petugas di bandara kali ini. Selain petugas pemeriksaan berkas rapid test, ada juga petugas karantina. Saat di ruang tunggu, saya juga melihat ada standing banner tentang aplikasi e-hac Indonesia. Kata petugas karantina tersebut, sambil menunggu jadwal penerbangan, sebaiknya penumpang mengunduh dan mengisi data pada aplikasi tersebut agar memudahkan penumpang dan petugas ketika sampai di bandara tujuan.

Aplikasi ini adalah aplikasi yang disediakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Dit. Pencgahan dan Pengendalian Penyakit. Aplikasi ini juga menginformasikan data Covid 19 di Indonesia terkini. Oleh karena itu data penerbangan penumpang yang harus di isi agar dapat diselidiki (jika sewaktu-waktu terjadi kasus) adalah sebagai berikut: nama, nomor KTP, domisili di daerah penerbangan, lokasi di kota tujuan, jenis kendaraan yang digunakan, nomor pesawat/kendaraan, serta nomor kursi.

Download Aplikasi e-hac ketika pandemi
Contoh Tampilan Aplikasi e-hac


Setelah sampai di bandara tujuan, seluruh penumpang akan diminta untuk membuka aplikasi dan memindai kode yang ada pada aplikasi. Jika teman-teman atau ada penumpang yang tidak mengunduh aplikasi ini, maka petugas akan meminta untuk mengisi formulir "kuning" yang telah disediakan sebelum menuju ke lokasi pengambilan bagasi.

Physical Distancing di dalam Pesawat

Saat duduk di dalam kursi pesawat, saya menyadari satu hal. Bahwa penerbangan kali ini kami diberikan fasilitas jaga jarak dengan sesama penumpang. Satu baris berisi tiga kursi biasanya diisi oleh tiga penumpang, kini hanya ditempati satu sampai dua penumpang.

Uniknya, ternyata tidak semua penerbangan menerapkan hal ini. Ketika tau saya melakukan penerbangan, beberapa teman bertanya dan berbagi pengalaman ketika melakukan perjalanan dengan pesawat saat pandemi. Ada yang bilang di pesawat juga menerapkan jaga jarak, ada juga yang kedapatan tiga kursi ya seperti biasanya untuk tiga penumpang.

Selain itu, ketika sampai di bandara tujuan, penumpang juga diinstruksi oleh pramugari yang bertugas untuk berjaga jarak ketika turun dengan menerapkan sistem lima baris turun.

Jadi jika penumpang di lima baris pertama sudah turun, baru kemudian lima baris berikutnya diminta untuk turun. Begitu seterusnya hingga pesawat tidak tersisa satu penumpang pun. Pukul 14.05 WIB saya tiba di Jakarta dan memindai kode pada aplikasi e-hac. Perjalanan yang serba mendadak dan sedikit terpaksa ini akhirnya selesai dengan selamat dan semoga selalu sehat wal 'afiyat.

Sekian ulasan kali ini, semoga bermanfaat. Tinggalkan komen di kolom komentar dan berkunjung kembali ya. Stay safe everyone!











Karimah Iffia Rahman
Seorang perempuan sagitarius yang hidup dalam peran ganda sebagai istri, ibu, dan penulis lepas. Karya pertamanya yang berhasil diterbitkan berada dalam Buku Antologi Menyongsong Society 5.0

Related Posts

12 komentar

  1. Baru inget, abis di rapid, pas nyampe Jkt terus imun kan bu? Ya ampun Kafa hebat beud. Sama kayak ibunya nih, super setrong!

    BalasHapus
  2. Strong banget nih mamahnya kafa. Aku seumur-umur paling gak mau pulang naik pesawat sendiri. Apalagi bawa anak dan barang-barang banyak. Gak kebayang betapa repotnya.

    Sekarang sabar-sabar dulu di rumah. Gak bisa jalan-jalan jauh.

    BalasHapus
  3. Kafa hebatt. Aku selama ini selalu bertanya-tanya sama orang yang terpaksa harus naik pesawat di tengah pandemi kayak gini. Ternyata prosedurnya sedemikian rupa, bisa dibilang ribet kalo buatku sih. Hebat ibu Kaffa mah. Sehat sellaalu yaaaa

    BalasHapus
  4. masyaAllah aku tahu rasanya cuma berdua sama ank di pesawat. aku malah bertiga sama kakak dan si bayi. alhamdulillah ya bisa. kalau rapid testnya ga dibandara bisa kan bu? jadi biar minimalsir cranky anak di bandara

    BalasHapus
  5. Wah dag dig dug gak sih melakukan perjalanan ini kak? Bawa anakanak kecil pula. Untung Kata gak rewel yaaa

    BalasHapus
  6. Deg-degan banget emang yaa. Apalagi status pesawat udah pembatalan. Jadi tmbah deg-degan soalnya akhir bulan ini bakalan balik ke jawa lagi.

    Semoga sehat-sehat selalu yaa. Kafaaa, ya ampun baru abis disunat terus disuntik lagi buat rapid test, anak lanang kuat ya Nak. :)

    BalasHapus
  7. ya ampunnn, banyak juga ya prosedurnya. Semoga sehat-sehat selalu ya Ibu dan Kafa :)

    BalasHapus
  8. dear ibu kafa,
    yeaayy pulang kampung juga akhirnya. selamat kangen kangenan ya.

    aku penasaran sama teh khas samarinda, suka teh juga soalnya, hihihi. sama itu, cincin khas martapura, kaya gimana sih?

    BalasHapus
  9. Sebuah keterpaksaan karena keadaan, dan harus ikhlas dengan keadaan yang ada ya kak.

    Kafa lucu, gemes liat pipinya hehe

    BalasHapus
  10. Cincin khas Martapura mah berlian bukan, Mbak? Dan itu bukan seadanya kayaknya ya, hehehe. Sama, sih, Mbak. Aku juga walaupun bawaan sudah banyak tapi tetep yang mamanya oleh-oleh sebisanya tetap bawa, bahkan kadang buat tetangga juga, meski cuma sebungkus makanan khas tapi semoga bisa jadi perwakilan perhatian. Ujungnya kadang diprotes kebanyakan tas yang ditenteng sana sini, tapi yaa gimana, hehehe.

    Alhamdulillaah sudah sampai kembali di sini ya, Mbak. Semoga bisa segera berkumpul kembali dengan keluarga, dan ketika sedang berjauhan begini tetap dilindungi, dimudahkan semua urusan,dan
    diberi kesehatan sekeluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi bukan yg berliannya mom, yg berlian mah buat ibu kafa aja :D
      ini cincin akik tu lhoo yg buat bapak-bapak :D
      aamiin...

      Hapus
  11. Ya Allah ternyata bisa gitu ya. Udah dibatalin tapi masih aktif. Sama temen yang ngajuin refund di T masih pending padahal udah beberapa bulan. Tapi takdir berkata lain, IbuKafa akhirnya jadi ke Jakarta.

    Btw test rapid kemarin harusnya udah maksimal 150k dari pemerintah udah netapi harga segitu. Tapi masih dikit mahal ya hmm

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter