TIGA PEMBATASAN YANG MENGUNTUNGKAN BAGI PENGHAFAL AL-QUR'AN

Berbicara tentang tema pembatasan, saya sempat menerka-nerka tulisan apa yang sebaiknya saya tulis selain tentang pembatasan karena Covid 19. Bosan juga menulis corona lagi, corona lagi. Ternyata ada! yey! Dan itu sangat dekat kaitannya dengan pengalaman pribadi saya sewaktu mondok di beberapa Pondok Pesantren.

Tentu pembaca sudah sedikit banyak mengetahui tentang pondok pesantren. Jika ditanya lima kata yang berkaitan dengan pondok, pasti kebanyakan orang akan menjawab asrama, mengaji, al-Qur'an, santri, peraturan. Pada dasarnya, pondok pesantren merupakan sebuah pendidikan informal yang mana murid yang ingin berguru ilmu agama kepada suatu tokoh agama (kyai atau ustadz) cenderung nderek atau ikut tinggal dalam satu naungan bersama sang guru di suatu lingkungan. Zaman semakin berkembang, pesantren pun mengalami perubahan yang mana saat ini praktiknya tidak hanya mendalami ilmu agama tetapi juga ada beberapa pesantren yang menyediakan pendidikan formal atau pendidikan umum seperti Raudhatul Athfal (RA) atau Taman Kanak-Kanak, Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau Sekolah Menengah Pertama, Madrasah Aliyah (MA) atau Sekolah Menengah Atas, bahkan ada juga pondok pesantren yang menyediakan pendidikan untuk mahasiswa baik sekolah tinggi maupun institut.

Meski belajar ilmu agama, tetapi setiap pondok pesantren memiliki ilmu agama yang lebih khusus dan spesifik diajarkan untuk para santrinya. Ada yang khusus mengajarkan para santrinya terkait mempelajari ilmu kitab kuning, ilmu alqur'an dan tafsir, atau pun pondok modern istilah untuk pondok pesantren yang mewajibkan santrinya menggunakan bahasa arab dan inggris untuk berkomunikasi sehari-hari. Pondok Pesantren di Kudus, Pondok Pesantren Yayasan Ali Ma'sum Krapyak, Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta cenderung mendidik santrinya untuk fokus mengaji dan menghafalkan al-Qur'an.

Siapapun tahu menghafal bukanlah kegiatan yang mudah mengingat ganjarannya begitu besar. Selain ganjaran surga, penghafal al-Qur'an juga disebut sebagai hamilul Qur'an atau pembawa al-Qur'an dan juga keluarga Allah SWT sebagaimana sabda Rasulullah:


 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ» قِيلَ: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

"Sesungguhnya Allah SWT memiliki keluarga dari kalangan manusia. Ditanyakan kepada Nabi, siapakah gerangan wahai Rasul? Nabi bersabda: Ahli al-Qur'an adalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya." (Abdullah al-Darimi, Sunan al-Darimi, Saudi: Dar al-Mugni li al-Nasyr wa al-Tauzi' 2000, Juz IV, hal. 2094, No. Hadits 3369).

Predikat tersebut tentu tidaklah mudah didapat. Oleh karena itu, kebanyakan dari pondok pesantren memiliki peraturan yang sering kali terlihat seakan membatasi aktivitas santri khususnya yang kegiatan utamanya adalah menghafalkan al-Qur'an. Namun jika santri tersebut sadar dan faham, tentu ia akan berusaha untuk menerima peraturan tersebut dengan ikhlas dan tawakal. Karena sejatinya peraturan tersebut diciptakan demi kebaikan para santri agar tujuan berada di pondok pesantren dapat tercapai dengan tidak memakan waktu yang lama. Berikut adalah 3 peraturan yang dibatasi untuk santri:

penghafal al-qur'an
Tema Minggu Ke 19 Komunitas Blogger 1Minggu1Cerita

Gawai

Hampir setiap pondok pesantren tidak menganjurkan santrinya untuk membawa gawai atau handpone. Jelas hal tersebut dikarenakan gawai sangat mampu membuat santri menjadi lupa dan malas. Seharusnya tadarus dan menyiapkan hafalan untuk waktu setoran pagi atau sore hari malah keasikan bermain gawai. Akhirnya hafalan belum jadi dan lagi-lagi mengulang hafalan yang sebelumnya karena hafalan baru belum siap untuk disetorkan. Sebagian pondok memang melarang santri membawa gawai dan menyediakan gawai khusus santri yang disimpan melalui pengurus. Tetapi ada juga pondok pesantren yang memperbolehkan santri membawa gawai dengan catatan hanya boleh dipakai ketika jam mengaji usai atau hari libur (jum'at atau minggu dan tanggal merah). Setelah jam tersebut habis, maka gawai dititipkan kembali ke pengurus.

Nderes dulu, Nderes lagi, Nderes terus, ojo dolanan hape wae...

Berorganisasi

Semua orang tahu bahwa berorganisasi membutuhkan waktu, fisik, pikiran, dan loyality. Oleh sebab itu, banyak pondok pesantren yang menyediakan asrama untuk mahasiswa menganjurkan untuk tidak mengikuti organisasi di luar kampus. Hal ini tentu karena pihak pondok berharap agar para santri bisa fokus pada tujuan utama di pesantren yaitu menghafalkan al-Qur'an. Apabila tujuan santri sudah berhasil dicapai tentu pondok pesantren tidak akan melarang aktivitas tersebut karena pada dasarnya berorganisasi adalah sebuah kegiatan yang positif dan tidak jarang dari organisasi pula banyak santri yang mendapatkan keberuntungan seperti beasiswa, relasi, pekerjaan dan sejenisnya. Hal ini dapat dilihat dengan adanya sebuah wadah alumni yang diorganisir baik dari pihak pesantren maupun pihak santri yang sudah menjadi alumni.

Boleh berorganisasi tetapi ingat tujuan utama yaitu menghafalkan al-Qur'an

Keluar Asrama

Terakhir adalah keluar asrama. Selama saya mondok, ada beberapa pondok pesantren yang memperbolehkan santrinya keluar asrama untuk kepentingan belajar (kuliah) tetapi tidak boleh larut malam. Jikalau pun harus larut malam wajib memberi kabar terlebih dahulu. Bahkan  ada juga yang hanya memperbolehkan santri keluar asrama jika hari libur atau jika dijenguk oleh keluarga. Tetapi tidak sedikit pula yang tidak memperbolehkan sama sekali dan memberikan asrama tersendiri, khusus untuk santri penghafal al-Qur'an. Tentu tidak lain hal ini ditetapkan agar santri lebih fokus bersama al-Qur'annya di dalam pesantren. Lebih banyak tirakatnya, lebih banyak beribadahnya, lebih sering fokusnya, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menghafalkan al-Qur'an tidak terlampau lama.

Begitulah kurang lebih pembatasan-pembatasan yang kebanyakan dialami oleh para santri yang mondok di pondok pesantren yang mengkhususkan santrinya untuk menghafalkan al-Qur'an. Umumnya santri putra membutuhkan waktu 1-2 tahun untuk menghafalkan al-Qur'an sedangkan santri putri 2-4 tahun, namun bisa lebih cepat jika lebih giat, fokus, dan semangat. Insya Allah jika santri penghafal al-Qur'an bisa mampu bertawakal menerima pembatasan-pembatasan ini dengan ikhlas, tujuan mulia menghafalkan al-Qur'an akan mudah diraih. Wallahu a'lam bisshowab.

Semoga bermanfaat. Silahkan tinggalkan jejak terbaik di kolom komentar :)


PENTINGNYA PERAN KELUARGA DALAM PENCEGAHAN RADIKALISME

Sabtu, 15 Februari 2020) Aman Indonesia bersama Lembaga Kemashlahatan Keluarga (LKK) Nahdlatul Ulama mengadakan kurus singkat “Perempuan dan Pencegahan Ekstrimisme” di Rumah Pergerakan Gus Dur Menteng, Jakarta. Dari 25 peserta yang hadir mayoritas berasal dari anggota Fatayat NU se-Jabodetabek dan sebagian lainnya adalah peserta umum yang mendaftar melalui akun instagram Aman Indonesia.
Para peserta begitu antusias mengikuti proses kursus yang berlangsung selama kurang lebih 8 jam (09.00 – 17.00 WIB). Apalagi materi yang disampaikan oleh Ruby Khalifah pemateri sekaligus fasilitator dalam acara ini sangat menarik untuk didalami. Materi yang diberikan selama kursus terdiri dari sejarah radikalisme di Indonesia, keterlibatan perempuan dalam ekstrimisme kekerasan, interseksi radikalisme dan hak-hak perempuan, serta peran pemerntah dan masyarakat dalam penanganan radikalisme. Peserta juga diajak untuk aktif menceritakan pengalamannya apabila pernah bersinggungan dengan pelaku ekstrimis, radikalis, maupun teroris dalam kehidupan pribadinya.

Fatayat NU DKI
Dokumentasi Pribadi

Ketika pemateri bertanya bagaimana peserta bersinggungan baik secara langsung mau pun tidak langsung dengan isu radikalisme dan bagaimana cara peserta mengenali kelompok ekstrimis, kebanyakan peserta sepakat proses tersebut biasanya berawal dari pengajian, media sosial, kegiatan organisasi di kampus, open donasi untuk kegiatan kemanusiaan, hingga yang tidak berkaitan dengan kegiatan agama seperti kelompok belajar maupun kegiatan bimbingan belajar (bimbel) pun menjadi salah satu media yang sering diupayakan oleh kelompok ekstrimis untuk mencoba memasuki anggotanya yang sudah terlatih ke dalam kegiatan-kegiatan bermasyarakat tersebut. Tidak hanya bimbel, bahkan pernikahan pun menjadi media empuk untuk mereka menjaring anggota baru.
Selain pendapat peserta, pemateri juga menjabarkan tanda-tanda radikalisme menurut Schmid (2004) yang diantaranya adalah cenderung menggulingkan tatanan politik, menampilkan fanatisme dan memposisikan diri sebagai pihak yang terancam, menampilkan sikap eksklusif, diktator, otoriter, dan totaliter, menolak kompromi dan ingin mengeliminasi siapapun yang bertentangan dengan pemahaman mereka, serta menunjukkan sikap intoleransi untuk seluruh pandangan yang bertentangan dengan cara yang agresif.
Tidak hanya itu, pemateri juga menjelaskan tentang trend perubahan peran perempuan dalam kelompok ekstrimis melalui studi kasus. Hal ini dirasa perlu mengingat trend ekstrimis di Indonesia mengalami suatu perubahan yang mana dari tahun ke tahun perempuan pada kelompok ekstrimis kini memainkan peranan penting dalam menyokong pergerakan dan jaringan mereka. Misalnya pada kasus terorisme yang viral pada tahun 2018 yaitu terdapat 11 anak-anak dan 3 perempuan terlibat dalam aksi bom bunuh diri.
Kejadian ini tentu menjadi salah satu indikator kuat yang menandakan bahwa perempuan memiliki peranan penting dalam radikalisme. Tindakan lainnya yang cenderung dapat dengan mudah dilihat beberapa diantaranya adalah menjadi Rahim para syuhada (melahirkan banyak anak dalam kurun waktu yang berdekatan), menyiapkan persediaan logistik untuk berjihad, berperan di sektor domestik, menyebar seruan jihad melalui media sosial, penggalangan dana, serta mempengaruhi keluarga. Peran ini tentu memiliki banyak faktor sehingga perempuan mau tidak mau atau secara sukarela terlibat didalamnya seperti faktor kemiskinan, minimnya pengetahuan dalam mendalami ilmu agama sehingga tidak mampu memahami ayat al-Qur’an secara konstekstual, hingga faktor broken home atau merasa tidak memiliki support sistem yang baik dilingkungan pun menjadi salah satu pemicunya.
Paparan diatas menjelaskan bahwa ekstrimisme, radikalisme, dan terorisme, sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, hanya saja permasalahannya bisa menjadi sangat kompleks ketika jejaring tindakan ini sudah semakin luas. Bahkan bibit-bibit tindakan ini bisa terlahir melalui lingkup tatanan bermasyarakat yang paling yaitu keluarga. Oleh karena itu, penting bagi siapapun yang ingin berkeluarga, yang sudah berkeluarga maupun yang belum berkeluarga untuk mengikuti kursus ini untuk mencegah munculnya jejaring ekstrimisme hingga terorisme yang lebih luas. Semakin banyak anggota keluarga maupun lembaga keluarga yang mengikuti kursus ini, akan semakin banyak individu yang mengerti bahwa keluarga mampu menjadi garda terdepan dalam pencegahan ekstrimisme.
Bagaimana bisa keluarga menjadi garda terdepan dalam pencegahan ekstrimisme? Tentu bisa. Beberapa langkah diantaranya dimulai dari memilih pasangan hidup yang pemahamannya sefrekuensi, menjadi orang tua dan anggota keluarga yang hangat, aman, dapat dipercaya, dan menyenangkan bagi anggota keluarga lainnya sehingga merasa saling sayang dan saling memiliki tanpa perlu merasa kurang kasih sayang dan mencari “keluarga” baru di luar rumah, membiasakan setiap anggota keluarga untuk melek literasi, mendorong setiap anggota untuk berfikir kritis sehingga tidak mudah menyebarkan dan percaya oleh berita hoax yang merajalela di sosial media.
Artikel ini pernah dimuat di Mubaadalah News. Semoga bermanfaat. Silahkan tinggalkan jejak terbaik di kolom komentar :)

Persiapan Berpuasa Ramadhan untuk Bumil dan Busui

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن
“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, At Thabrani, dan disahihkan Al Albani). Jika pembaca mendapatkan pesan broadcast sejenis ini, itu tanda bahwa sebentar lagi bulan Sya'ban akan tiba dan tidak sedikit disekitar kita yang bersemangat menyambutnya.
Tentu juga akan ada banyak broadcast yang berisikan amalan-amalan dan hadits-hadits seputar bulan ini. Misalnya amalan nisfu sya'ban dengan perbanyak ibadah dengan membaca yasin, sholawat dan dzikir lainnya. Perlu diingat kembali bahwa meskipun tidak dalam bulan Sya'ban, puasa sunnah (apalagi ketika yaumul bidh) dan sholat sunnah malam maupun memperbanyak ibadah dan membaca sholawat tentu memiliki keutamaan tersendiri.
Terlepas dari khilafiah ulama tentang amalan malam nishfu sya'ban, tetapi ada sebuah hadits shohih terkait bulan Sya'ban yang perlu diketahui.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ 
Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, “Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan: Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban. (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Dari hadist ini dapat kita ketahui bahwa sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW pada bulan Sya'ban adalah memperbanyak puasa di siang hari. Selain itu dari hadits ini juga nabi mengajarkan kepada umatnya untuk berlatih berpuasa di bulan Sya'ban agar ketika bulan Ramadhan tiba tubuh kita sudah mampu beradaptasi untuk berpuasa secara rutin selama 30 hari ke depan selama Ramadhan.
Konteks "perbanyak" ini juga perlu dipelajari kembali karena tentu banyak bagi setiap orang pastilah relatif dan berbeda yang bergantung pada siapa yang menjalaninya. Mungkin bagi yang sudah terbiasa berpuasa sunnah di bulan Ramadhan, satu hari berpuasa adalah sedikit.
Tetapi perlu kita ketahui, satu hari berpuasa untuk orang yang belum pernah berpuasa atau tidak terbiasa berpuasa tentulah terasa lama waktunya. Apalagi jika itu terjadi pada ibu hamil maupun ibu menyusui yang notabene memiliki tanggung jawab terhadap asupan konsumsi bagi janin maupun bayinya.
Ramadhan
Ilustrasi: Freepik.com

Berlatih di Bulan Sya'ban

Memang benar bahwa ibu hamil dan menyusui mendapatkan keringanan saat bulan Ramadhan tiba. Apalagi yang masih sering terjadi, ibu selalu memiliki peran logistik yaitu menyiapkan menu sahur dan berbuka saat bulan Ramadhan tiba. Akan tetapi tentu tidak sedikit ibu hamil dan ibu menyusui yang juga ingin berpuasa dan sebisa mungkin menggenapi puasanya hingga penghujung Ramadhan. Oleh karena itu, bulan Sya'ban dapat dijadikan momen untuk beratih berpuasa agar kelak ketika bulan Ramadhan tiba, ibadah yang dilakukan tidak hanya beristirahat karena tubuh sudah beradaptasi.
Cara berlatih berpuasa untuk ibu menyusui maupun ibu hamil bisa dengan bertahap dimulai dari membiasakan diri untuk bangun malam dan sahur kemudian tidak makan sampai jam 9 pagi. Hari berikutnya kembali bangun malam sekaligus sholat sunnah dan sahur kemudian berpuasa hingga jam 12 siang.
Lusanya anda bisa kembali bangun malam dan sahur serta berpuasa hingga pukul 3 sore. Hari keempat insya Allah tubuh anda mampu beradaptasi untuk bangun malam dan sahur serta berpuasa hingga maghrib. Hal ini juga dapat dilakukan oleh ibu menyusui yang sedang haid, bukan dengan ikut berpuasa melainkan dengan cara mengatur pola jam makan dan minum dengan tidak berlebihan agar tetap terhidrasi.
Insya Allah begitu Ramadhan tiba tubuh cenderung tidak mengalami detoksifikasi saat hari pertama berpuasa di bulan yang mulia ini karena sudah beradaptasi di bulan Sya'ban. Saat mencoba berlatih, yang terpenting juga tetap memperhatikan kesehatan pribadi dengan tidak memforsir fisik maupun mental untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang melebihi ambang kapasitas tubuh. 
Hamil maupun menyusui bukanlah sebuah halangan untuk melakukan aktivitas, tetapi tentu ibu hamil maupun menyusui perlu untuk mengetahui kemampuan saat harus beraktivitas fisik maupun psikis karena akan mempengaruhi janin maupun bayi, oleh karena itu Islam pun memberikan keringanan dalam hal berpuasa. Cara ini juga bisa diterapkan untuk anak usia dini yang baru akan belajar berpuasa maupun untuk mualaf.

Mengonsumsi Makanan yang Bergizi

Tentu setiap ibu hamil dan ibu menyusui memiliki suplemen khusus yang perlu dikonsumsi. Nah, jangan sampai karena berlatih berpuasa kemudian melupakan suplemen untuk diminum. Sebaiknya, suplemen diminum ketika sahur ataupun sebelum beristirahat di malam hari. Selain suplemen, akan lebih baik jika ibu hamil dan ibu menyusui mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi seperti bayam, buah naga, kurma, semangka, pisang, daging merah saat waktu makan tiba agar tetap fit dan nutrisi tercukupi selama berpuasa.

Istirahat yang Cukup dan Mengatur Pola Makan

Ketika kita berpuasa, tentu ada perbedaan di dalam tubuh. Oleh karena itu, ketika tubuh merasa lelah, sebaiknya segera beristirahat. Jangan memforsir tubuh apalagi dalam keadaan hamil maupun menyusui. Jika ada waktu untuk beristirahat, sebaiknya digunakan seoptimal mungkin baik di siang hari maupun di malam hari. Selain beristirahat, pola makan juga perlu dijaga. Meski berpuasa, bukan berarti porsi makan menjadi dua kali sehari hanya berbuka dan berpuasa. Bumil dan busui dapat makan tiga kali sehari ketika berpuasa yaitu setelah sholat tarawih.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَب وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ 
"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan". 
Selamat mencoba!
Tulisan ini pernah dimuat di Mubaadalah News. Semoga bermanfaat dan silahkan tinggalkan jejak terbaik di kolom komentar :)

Betapa Pentingnya Mencegah Tradisi Momshaming

Akan selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang merundung hidup seseorang dari lingkungannya yang tidak akan pernah habis. Semasa sekolah ditanya kapan lulus? kok gak ngambil jurusan ipa aja? Setelah masuk dunia perkuliahan, ditanya bagaimana skripsinya? kok gak lulus-lulus sih? Begitu pula setelah lulus, kok gak kerja? mau nyobain cpns apa kerja di perusahaan swasta? Bahkan ketika sudah kerja dan akhirnya menikah pun masih juga mendapatkan pertanyaan yang tidak ada habisnya yang bisa saja membuat orang yang ditanya merasa dirundung.
Lebih parah lagi setelah menikah masih juga diberi pertanyaan tentang momongan. Setelah memiliki momongan pun masih saja diberi pertanyaan yang sebenarnya hanya basa-basi atau tidak perlu ditanyakan seperti kok anaknya hitam sih? dijahit berapa jahitan? lho kok baru lahir sudah diberi susu formula?

Mubaadalah News
Ilustration: Freepik.com

Tak ubahnya dengan perundungan atau bullying, Menurut Roslina Verauli seorang psikolog (CNN, 2018) momshaming adalah tindakan yang dilakukan seseorang atau sekelompok untuk membuat malu seorang ibu atas pola pengasuhan terhadap anaknya seolah-olah pola pengasuhan pelaku momshaming adalah pola pengasuhan yang lebih baik jika dibandingkan korban. Seseorang yang melakukan momshaming sering kali tak sadar bahwa yang ia lakukan adalah tindakan kekerasan psikis karena efek dari tindakannya mampu mempengaruhi kesehatan mental atau psikis korban.
Biasanya pelaku momshaming atau momshamer tidak begitu peduli dengan dampak yang diterima korban momshaming akibat perundungannya. Padahal menjadi seorang ibu saja sudah berat, apalagi jika diberi beban tambahan psikis oleh momshamer.  Namun sebaliknya, seorang ibu atau orang tua yang menjadi korban momshaming akan terjadi perubahan pada sarafnya dan mengakibatkan korban tersebut merasa insecure, tidak percaya diri bahkan depresi (Ika, 2018) terhadap pola parentingnya dan dapat memicu terjadinya baby blues syndrome hingga Post Partum Depression.
Selain beberapa langkah menghadapi momshaming untuk korban, yang tidak boleh dilupakan adalah konsep mubaadalah atau konsep kesalingan. Faktanya pelaku dan korban momshaming seringkali adalah sama-sama seorang perempuan. Oleh karena itu, untuk memutus budaya momshaming, perlu bagi siapapun untuk mengingat konsep kesalingan kepada pelaku maupun korban momshaming, yang mana jika tidak ingin disakiti maka jangan menyakiti.
Seperti hadits Rasulullah SAW berikut ini, “Dari Yahya al-Mazini ra, Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak diperbolehkan mencederai diri sendiri maupun mencederai orang lain’ Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Muwathta’nya (Nomor Hadits 1435)” (Kodir, 2017).
Baik pelaku atau pun korban momshaming diingatkan kembali kepada prinsip kemanusiaan yang paling dasar yaitu persaudaraan. Jika merendahkan, mencibir, menghina saja sudah masuk tindak kejahatan, apalagi tindakan momshaming yang akibatnya dapat mempengaruhi efek Baby Blues Syndrome hingga Post Partum Depression dan dampaknya dapat membuat depresi, gangguan kesehatan mental bahkan membahayakan nyawa ibu dan anaknya.
Menjadi seorang ibu tanpa dikritik saja sudah sulit, apalagi menjadi seorang ibu yang menjadi korban momshaming. Jika memang peduli terhadap pola pengasuhan yang diterapkan kepada si anak namun takut komentar kita menyakiti orang tua terutama ibunya, maka hal yang sebaiknya dilakukan adalah menjadi baik atau diam (tidak berkomentar). Be kind please, because every single moms has her own battle.
Tulisan ini pernah dimuat di Mubaadalah News. Semoga bermanfaat dan tinggalkan jejak di kolom komentar ya :)

Empat Lifestyle yang Bisa Mencegah Banjir

Global Warming atau pemanasan global. Tapi sebagian orang menyebutnya bukan pemanasan global melainkan global dipanasi. Kata dipanasi cenderung terdengar lebih masuk akal karena kata tersebut menunjukkan adanya sesuatu atau seseorang atau sekelompok yang melakukan kata kerja aktif yaitu memanasi (membuat panas). Tanpa adanya segelintir oknum yang memanasi global untuk tujuan tertentu, dampak global warming agaknya tidak akan sedrastis beberapa tahun terakhir hingga hari ini.
Tentu saja perubahan iklim, banjir dan air bah menjadi salah satu dampak dari global warming. Penyakit berbasis lingkungan seperti leptospirosis, demam berdarah dengue, disentri, diare, influenza, iritasi kulit juga menjadi dampak turunan akibat banjir (Depkes, 2013).


وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ



Artinya: Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan di bumi; QS. Asy-Syu'ara, Ayat 183




Hampir tak dipungkiri lagi jika masyarakatlah yang pada akhirnya terkena dan merasakan dampak-dampak tersebut. Oleh karena itu, menjadi masyarakat yang sadar akan lingkungan kemudian menjadi hal yang perlu dilakukan untuk setiap individu sebagaimana yang telah Allah SWT firmankan dalam QS. Asy-Syu'ara ayat 183 di atas. Hal ini bisa dilakukan dari lingkup paling mendasar dalam hidup bersosial yaitu lingkaran rumah tangga. Berikut adalah langkah mencegah banjir yang dapat dilakukan di lingkup rumah tangga:


Karimah Iffia Rahman
Ilustrasi: Freepik.com


1. Menerapkan 2R (Reuse, Reduce) dengan Membawa goodie bag dan/atau food container sebagai pengganti kantung plastik


Menghilangkan penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari memang bukanlah hal yang mudah tetapi bukan juga suatu hal yang sulit jika sudah diniati. Oleh karena itu yang dapat dilakukan dengan penggunaan plastik adalah dengan meminimalisirnya. Masyarakat tentu banyak yang sudah mengetahui hal ini, sehingga pebisnis pun mau tak mau mengikuti green lifestyle ini terlihat dari swalayan dan restoran-restoran cepat saji yang kini memberlakukan tarif terhadap sekantung plastik mulai dari 200 rupiah hingga 5000 rupiah.

2. Menerapkan 3Ng


3Ng adalah ide kampanye Walhi Yogyakarta bersama Sahabat Lingkungan untuk meminimalisir penggunaan air minum dalam kemasan (AMDK) dengan cara Nggodog, Nggowo, Ngunjuk yang artinya merebus air sendiri di rumah, membawa air dengan botol minum pribadi, dan kemudian meminum air tanpa perlu membelinya. Semakin banyak masyarakat yang membawa botol minuman pribadi, semakin meminimalisir sampah-sampah AMDK.

3. Recycle dengan Menabung di Bank Sampah


Ironis jika kaleng, botol, maupun wadah bekas lainnya terabaikan begitu saja dan menjadi tempat berkembang biak binatang vektor atau menjadi faktor penghambat saluran air limbah hingga dibuang sembarangan dan mencemari perairan, lebih baik dikumpulkan dan ditabung ke Bank Sampah. Selain mendapatkan untung berupa pundi-pundi rupiah, rumah bersih dari sampah, sampah tersebut juga biasanya dapat didaur ulang oleh pengelola Bank Sampah menjadi kerajinan tangan seperti tas, vas bunga, lukisan, dan sejenisnya.
4. Yang terakhir bisa kalian baca di sini :). Semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan jejak terbaik di kolom komentar ya :)