Persiapan Persalinan dengan Metode Gentle Birth

Detik pertama mengetahui hasil testpack menunjukkan double strip alias positif hamil adalah salah satu momen terindah untuk setiap perempuan. Tidak hanya ibu hamil yang akan berbahagia dengan kabar suka cita ini. Pasangan, keluarga, kerabat, sahabat, dan teman-teman di sekitar tentu ikut berbahagia dan memberikan banyak ucapan, doa, serta nasihat-nasihat.
Salah satu hal penting dari banyaknya ucapan, doa, dan nasihat-nasihat saat ada kabar kehamilan adalah cerita tentang masa kehamilan dan proses persalinan yang sangat beragam. Sangat menyenangkan apabila dapat mendengarkan giving birth story yang menyenangkan dan jauh dari kata trauma seperti yang selalu diunggah oleh Yesie Aprilia seorang bidan melalui akun instagramnya yaitu @bidankita.

Kafabillah's Gentle Birth Prepare Story
Doc. Alat tempur penulis selama menjalani masa kehamilan

Dalam akunnya, Bidan Yesie menjelaskan banyak hal tentang masa kehamilan dan persalinan yang tidak pernah tidak menjadi momok bagi setiap kaum perempuan. Alasannya sederhana, karena masih banyak perspektif di luar sana yang menceritakan tentang persalinan yang menyeramkan, penuh cakar-mencakar, dan drama lainnya.
Namun informasi yang akan ditemui dari akun Bidan Yesie sungguh berbeda. Ternyata melahirkan tidak semenyeramkan cerita orang tua di masa lalu. Sudah banyak perempuan millenial di luar sana yang momen persalinannya begitu sakral, alamiah, tenang,  damai, bahagia, dan tentunya minim trauma dan drama karena berniat memberdayakan diri selama masa kehamilan berlangsung.
Istilah keren yang digaungkan oleh tenaga kesehatan (provider) dan millennial parents adalah gentle birth. Seperti mimpi di siang bolong, tapi hal itu memang terjadi. Meski begitu, persalinan seperti ini tentu memiliki prinsip-prinsip yang harus dilalui agar kelak terpenuhi inti kata gentle birth itu sendiri, yaitu:
Knowledge
Mindfulnes and Awareness
Healing Trauma
Breathe
Relax Mind
Movement and Gravity during Pregnancy and Labor
Gentle Birth Support, Partner and Providers
  1. Breathe
  2. Ketika masa kehamilan berlangsung, setiap ibu hamil akan banyak sekali mendapatkan pengetahuan dari berbagai sumber. Namun penting bagi setiap ibu hamil untuk mengetahui informasi tersebut apakah informasi tersebut kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan atau pun hanya sebuah mitos.
Banyak pengetahuan yang disediakan untuk ibu hamil baik melalui orang tua, komunitas millennial parents, buku tentang kehamilan, saat jadwal check up dengan provider maupun mengikuti prenatal class. Semakin sering kita menemukan infomasi yang kredibel, maka kita akan semakin sadar terhadap apa yang harus kita persiapkan dan lakukan.
Pengetahuan tersebut perlahan-lahan akan menguak banyak hal yang selama ini menjadi momok saat masa kehamilan berlangsung dan menuntun kita untuk berupaya memberdayakan diri sebaik mungkin.
Ada berbagai cara pemberdayaan diri untuk mendapatkan momen gentle birth  saat melahirkan. Beberapa diantaranya yaitu teknik mengatur nafas, fikiran yang tenang, tubuh yang selalu dipersiapkan untuk persalinan pervaginam dan tentunya dukungan dari pendamping persalinan baik keluarga, lingkungan, maupun provider.
Pemberdayaan ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada usaha yang terbaik pula. Penting bagi ibu hamil untuk berusaha melatih pernafasan karena nafas yang panjang dan tidak ngos-ngosan akan sangat berguna dimulai sejak trimester 3 berlangsung dimana saat itu perut sudah semakin membesar, saat kontraksi, saat persalinan (mengejan).
Selain nafas, pikiran juga harus tenang. Pikiran yang tenang akan memudahkan ibu hamil dalam mengontrol emosi saat masa kehamilan berlangsung karena biasanya ibu hamil mudah mengalami mood swing. Selain itu juga membantu ibu hamil berfikir lebih jernih dalam menentukan pilihan jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan selama proses persalinan berlangsung.
Pikiran yang tenang bisa diperoleh ibu hamil dengan cara mendengarkan hypnobirthing. Biasanya hypnobirthing berisikan tentang sugesti positif atau afirmasi yang  diharapkan selama masa kehamilan, persalinan, dan post partum. Umumnya rangkaian kata untuk hypnobirthing adalah kalimat-kalimat positif yang mudah dicerna seperti “masa kehamilanku bahagia, janinku sehat, persalinanku lancar, perineum elastis dan utuh, asiku lancar”. Mendengarkan lantunan ayat suci al-Qur'an juga bisa menjadi salah satu alternatif hypnobirthing.
Langkah-langkah ini tentu berkaitan dengan langkah selanjutnya yang bisa kalian baca selengkapnya di sini yang mana tulisan ini sebelumnya sudah diunggah di Mubaadalah News dan unggahan ulang ini sudah atas persetujuan redaksi. Semoga ulasan ini bermanfaat, silahkan tinggalkan jejak terbaik di kolom komentar ya :)

Antologi Cerpen Cinta Perempuan Biasa [Review Book]

About Antologi Cerpen Cinta Perempuan Biasa

Judul Buku : Antologi Cerpen Cinta Perempuan Biasa
Penulis : Nuri Thakya, Dian Permatasari, Rendi Aprian, Nyimas Maharani Shalima, Yunita Mercy Sabatini, Raisa Fardani, Nur Hidayah, Muhammad Ali Saidi, Felly Octaviani, Rianti Aprillia, Ela Indah, Rosanti Vivi Nuari/Kim, Erinda Nur Anisa
Tahun Terbit : Maret 2020
Jumlah Halaman : 107 halaman
Penerbit: Anara Publishing House
Bahasa : Indonesia
Genre : Fiksi Drama
ISBN : 978-623-7229-57-5

Nuri Thakya, Dian Permatasari, Rendi Aprian, Nyimas Maharani Shalima, Yunita Mercy Sabatini, Raisa Fardani, Nur Hidayah, Muhammad Ali Saidi, Felly Octaviani, Rianti Aprillia, Ela Indah, Rosanti Vivi Nuari/Kim, Erinda Nur Anisa
Doc. Pribadi

Antologi Cerpen Cinta Perempuan Biasa's Blurb

Ada banyak cerita kisah cinta perempuan yang meski bagi sebagian orang kehadirannya bukanlah siapa-siapa namun ternyata kisah cinta yang ia alami mampu mengubah hidup seseorang di dalamnya terutama di dalam hidup orang-orang yang ia cintai. Siapapun ia, remaja, gadis, janda, atau bahkan seorang istri yang memiliki "madu", tentu memiliki kisah cinta yang meski diceritakan secara sederhana namun dapat dijadikan pembelajaran bagi siapapun yang membaca kisah tersebut.

The Reason I Read, My Impression, and What I Learn

Setelah bulan Februari mengkhatamkan novel Hilda dan sebulan sebelumnya menuntaskan novel Dua Barista yang kemudian saya tuliskan resensinya, akhirnya di bulan Maret saya mendapatkan kiriman buku lagi, sebuah antologi cerpen yang berjudul Cinta Perempuan Biasa dari salah satu penulisnya.

Ya, karena ini antologi, otomatis ada banyak penulis di dalam buku ini yang berkontribusi untuk menuliskan satu atau dua cerpen. Ada banyak judul dalam kumpulan cerita pendek (cerpen) ini, diantaranya Janji Baru, Restu di Sepertiga Malam, Mungkinkah Ini Cinta Pertama dan Terakhir, Kudekap Erat Penantian Ini, Nara dan Senyumnya, Impian Cinta Wanita Biasa, Love and Faith, Aminah, Gadis di Tengah Hujan, Kakak Perempuan, Rian Adytian Wijaya, June in Love, Mimpi Bahagia, dan Romantisme Purnama.

Saya mengapresiasi keempat belas judul cerpen tersebut karena cerpen tersebut ditulis oleh generasi muda yang lahir di kurun waktu 1996 hingga 2005. Rentang umur yang cukup belia dan dini untuk memiliki sebuah karya dan dibukukan menjadi sebuah antologi.

Kisah drama percintaan yang ditulis oleh setiap penulis juga beragam, ada yang menulis tentang cinta pertama bersama teman main sewaktu kecil, cinta pertama ketika usia remaja yang tentunya ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, cerita cinta pada pandangan pertama, cinta tulus dari seorang gadis lugu bernama Aminah. Ada juga cerita tentang kehidupan berumah tangga, tentang upaya untuk mendapatkan restu orang tua, kejujuran dan kepercayaan dalam berumah tangga, memutuskan untuk rela dimadu, hingga kisah seorang janda yang sempat trauma untuk mencintai dan akhirnya mencoba untuk membuka hati.

My Favorite

Dari sekian banyak cerpen yang tertulis di dalam antologi ini, ada beberapa cerpen yang menjadi perhatian saya, diantaranya adalah Impian Cinta Wanita Biasa yang ditulis oleh Raisa Fardani dan Love and Faith karya Nur Hidayah. Selain karena kisah cintanya ada hikmah yang bisa diambil, juga karena penulisannya cukup sesuai dengan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) baik dari segi penulisan dialog, eyd (ejaan yang disempurnakan), tidak menggunakan kalimat yang sama berkali-kali dalam satu paragraf bahkan satu kalimat atau pemborosan kata, minimalisir kesalahan baik pada tanda bacaan maupun kata (typo), serta tidak berbelit-belit dalam merangkai kata.

Rate for Antologi Cerpen Cinta Perempuan Biasa

Menurut pendapat pribadi, mengikuti PUEBI memang bukan harga mati untuk sebuah cerita baik itu cerpen, cerbung, atau pun sebuah novel. Karena tentu selain PUEBI, ada juga penilaian lain seperti sudut pandang cerita, dan bagaimana cara penulis mengemas sebuah bacaan sehingga membuat pembacanya terhanyut dan tanpa sadar ingin terus-menerus membaca cerita tersebut hingga usai (readable). Tetapi tentu pedoman ini sudah dikemas sedemikian rupa agar tulisan yang diceritakan dapat memancing emosi pembaca sehingga terasa lebih menyentuh dan tidak merusak sebuah cerita. Terkadang tidak jarang isi atau pun kandungan cerita yang baik dapat rusak karena penyampaian yang kurang apik. Pemborosan kata juga menjadi salah satu faktor pengganggu terkait durasi waktu yang dibutuhkan oleh pembaca.

Salah satu faktor pendukung untuk memperbaiki hal ini adalah editor. Salah seorang teman saya di Women Writers Conference yang juga seorang mantan editor di sebuah surat kabar dan saat ini berprofesi sebagai dosen di sebuah universitas berkata, "sebuah tulisan akan semakin sempurna apabila semakin banyak pembacanya". Merujuk pernyataan ini, bagi saya pemilihan editor juga menjadi poin penting untuk finishing sebuah tulisan yang akan sampai pada konsumen yaitu pembaca. Namun di buku antologi ini, saya melihat keterangan yang menuliskan bahwa editor buku ini adalah penulis buku.

Selain itu, menurut saya sebagai pembaca, desain cover juga perlu diperhitungkan. Memang ada beberapa cerita dalam cerpen ini yang mengambil narasi agama untuk dijadikan sebuah kisah. Namun tidak sedikit pula cerita yang tidak berbau agama sama sekali. Sedangkan desain cover menampilkan ilustrasi seorang muslimah atau perempuan yang menggunakan jilbab yang menggiring opini "oh kayanya ini antologi cerpen islami nih" yang kenyataannya setelah dibaca "ah, tidak juga".

Oleh karena itu, berdasarkan penilaian pribadi saya di atas, akan lebih baik jika buku antologi cerpen ini mendapatkan "ruh baru" di cetakan selanjutnya agar pesan yang ditulis dapat tersampaikan lebih baik kepada pembaca. Untuk pembaca blog yang penasaran dengan buku ini bisa memesannya melalui Nuri Thakya.

Semoga honest review ini bermanfaat. Silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar ya :)



Merayakan Keragaman Beragama ala Minhatul Maula

Kabar tentang video viral Banser Nahdlatul Ulama (NU) yang dipersekusi di Pondok Pinang adalah salah satu perilaku intoleran oleh penganut sesama agama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), persekusi adalah perilaku buruk atau penganiayaan secara sistematis oleh individu atau kelompok tertentu terhadap individu atau kelompok lain, khususnya karena suku, agama, atau pandangan politik.
Hal ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika yang erat kaitannya dengan toleransi. Toleransi berasal dari bahasa latin "tolerare" yang artinya sabar dan menahan diri. Berdasarkan KBBI, toleransi adalah sifat atau sikap yang masih dapat diterima dalam nilai tertentu.
Menurut Wakil Rais PWNU DKI Jakarta, KH. Drs. Oo Suyitno Abdurrahman Mahmud, MA. dalam penuturannya saat menghadiri Peringatan Maulid Nabi di Masjid al-Mahallie Jakarta (15/12/19), toleransi adalah sikap saling menghormati antar sesama pemeluk agama dan antar pemeluk yang berbeda agama juga dengan pemerintah, serta memperbolehkan pemeluk agama lain untuk menjalankan ibadah dalam agamanya tanpa mengganggunya.
Pengertian ini beliau sampaikan berdasarkan al-Qur'an Surah al-Kafirun ayat 6 yang artinya "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku" dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani yang mana disebutkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda "Barangsiapa menyakiti seorang dzimmi (non muslim yang tidak memerangi umat muslim), maka sesungguhnya dia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang telah menyakitiku, maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah".
Memiliki perspektif senada dengan konsep toleransi di atas, maka Minhatul Maula, salah seorang putri dari KH. Abdul Muhaimin dan Nyai Ummi As'adah tiada henti menerapkan sikap toleran dan pluralisme dalam kesehariannya. Bahkan ia aktif di komunitas maupun  lembaga kemanusiaan seperti Komunitas Anak Jalanan, Pengajar Mengaji di Pesantren Waria, Komunitas Saint Egidio meski hidupnya kental dengan tradisi pondok pesantren.
Bagi Mila, sapaan gadis lulusan sarjana Ilmu Komunikasi ini, hidup dengan tradisi pondok pesantren tidak membuatnya tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang intoleran. Justru bagi Mila, pondok pesantren adalah salah satu ladang yang tinggi rasa toleransinya karena pondok pesantren mendidik santri-santrinya untuk mengaji dan mengkaji al-Qur'an dan al-Hadits secara kontekstual.
Meski menjadi anak Kyai, Mila juga aktif bersosial dan mengikuti kegiatan antar umat beragama sejak Sekolah Dasar (SD). Saat itu Ia sering mengikuti acara Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) yang mana dari forum tersebut Ia didapuk menjadi perwakilan doa dari umat muslim di depan menteri agama Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwana X, dan 300 Biksuni pada acara 14th Sakyadhita Internasional Conference for Buddhist Women.

Pondok Pesantren Putri Nurul Ummahat
Doc. Minhatul Maula bersama para biarawati saat makan malam Perayaan Natal 2014


Penting bagi umat antar beragama dan generasi muda untuk melek literasi dalam mencegah sikap intoleran. Dalam hal ini beberapa langkah diantaranya adalah dengan menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan dalam bersikap toleran, mengkaji al-Qur'an dan al-Hadits secara konstekstual dan menyaring informasi yang tersebar di masyarakat.
Menurut Mila, sebetulnya Indonesia adalah negara yang cukup toleran dengan melihat contoh-contoh kecil bertoleransi dalam kehidupan sehari-hari yang tak diliput media. Media masa kini cenderung menampilkan berita tentang kasus intoleran yang bisa saja belum tentu benar adanya sehingga mudah memantik masyarakat yang tidak melakukan tabayyun.
Padahal dengan melek literasi, maka akan banyak wawasan dan informasi yang didapat tentang toleransi yang Nabi ajarkan. Misal ketika Rasulullah mengizinkan Masjid Nabawi untuk menjadi tempat ibadah umat Nasrani. Kemudian ada Perjanjian Madinah yang dilakukan Rasulullah dengan umat antar beragama.
Selanjutnya akhlak Rasulullah terhadap seorang Yahudi buta yang sering memakinya namun Rasul tetap memberinya makan, dan contoh yang terakhir ketika Rasulullah membiarkan Suku Badui arab yang mengencingi masjid, padahal sahabat sangat marah melihat perilaku tersebut, namun Rasul memilih sabar.
Tentu masih banyak contoh-contoh kecil yang perlu diteladani dari sikap Rasulullah tersebut, dengan melek literasilah generasi penerus bisa menemukan fakta bahwa Islam sangat toleran dari sikap-sikap Rasul yang tentu menjadi suri tauladan umatnya.
Semua hal tentang toleransi dan pluralisme ini Ia dapatkan dari bapak dan ibunya yang senantiasa menerapkan sikap toleran dalam bermasyarakat. Bahkan bapaknya, pendiri Pondok Pesantren Putri Nurul Ummahat pernah memberikan wejangan kepadanya "Kucing saja yang tidak mempunyai agama bisa kamu sayangi, kamu beri makan, kamu tangisi jika ia mati. Masa dengan sesama manusia yang Allah saja sangat memanusiakan manusia, kamu malah menghinanya?"
Ucapan di ataslah yang hingga kini menjadi motivasi dirinya untuk bersikap toleran. Bahkan untuk Perayaan Natal tahun ini, Ia telah memiliki agenda bersama Komunitas Saint Egidio untuk makan siang bersama Sahabat Jalanan Adik Sekolah Damai dan Para Lansia di Gereja Katolik Baciro Yogyakarta tepat pada tanggal 25 Desember 2019.
Terakhir, Ali bin Abi Thalib berkata, "Dia yang bukan saudaramu dalam Iman adalah saudaramu dalam Kemanusiaan. Semoga damai senantiasa menyelimuti manusia yang memanusiakan sesamanya.
Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Mubaadalah News dan Fahmina Institute. Unggahan ulang pada web ini sudah atas seijin redaktur. Silahkan tinggalkan jejak terbaikmu dikolom komentar :)

Surat Cinta 131415 untuk Kafabillah

Muhammad Kafabillah Amary
Doc. Ayah, Ibu dan Kafa setelah sholat maghrib

Surat Cinta yang Ketigabelas untuk Kafabillah

Waktu itu, menjelang kafa berusia 13 bulan, ibu fikir, ah, tidak ada tumbuh kembang yang perlu dipetik hikmahnya. Selain waktu Ibu dan Kafa jatuh bersamaan dari tangga Bank BTPN dekat rumah sepertinya sebulan terakhir ini biasa-biasa saja. Mau cerita sedikit tentang jatuhnya Ibu dan Kafa dari tangga, waktu itu ibu habis transaksi di teller Bank. Nah pas ditangga ayah nelfon, jadilah ibu berniat membuka gawai. Niat mau menerima panggilan eh ibu jadi gak fokus sama tangga, akhirnya keseimbangan ibu jatuh, kaki ibu tertekuk seperti duduk diantara dua sujud kemudian ibu terjun bebas sampai lantai dasar. Waktu itu yang ibu syukuri kafa aman, tidak tertindih sama sekali karena ibu berusaha menahannya meski kaki ibu sakit. Pegawai bank menghampiri ibu, sebetulnya ibu mau menangis, tapi ibu tahan dengan menertawakan kejadian hari itu agar orang-orang tidak terlalu khawatir dan agar ibu segera pulang. Tetapi akhirnya ibu menangis sewaktu perjalanan pulang. Kaki ibu bengkak dan malam harinya Ibu langsung diurut. Sayangnya hasil urutan hari itu tidak mempan, ada benjolan di tulang kaki ibu dan akhirnya ibu urut lagi di Mbak Nas dan alhamdulillah benjolannya langsung hilang selang 3 hari setelah diurut. Yah walaupun saat diurus sakitnya  minta ampun...



Yah, selain itu hari-hari memang terlihat biasa saja. Ternyata ibu ketulah. Sombong!!! Akhirnya Allah menegur ibu dengan sakit.




Awalnya sebulan terakhir ya memang biasa saja. Kafa sudah bisa jalan sendiri, ngoceh makin lancar, sudah bisa mengucap Da untuk panda, Ta untuk Unta, Jah untuk Gajah. Dan ayah untuk kata ayah tentunya. Kadang bilang dah untuk udah kalau sudah kenyang atau gak nafsu makan (seringnya menggeleng). Kadang2 kafa juga bilang mbah untuk neneknya (yangti) 😅 dan yangti kesal kalau dipanggil mbah (kesannya kaya tua banget ceunah). Kadang-kadang memanggil ibu dengan sebutan mbu, kadang juga mamah. Suka2 anaknya lah. Ibu masih okay dan menanggapi panggilannya selama masih sebutan untuk ibu.




Makan juga udah mulai mau makan sendiri, tapi karena ibu malas membersihkan remehan makanannya, jadi ibu memilih tetap menyuapi kafa, sambil sesekali gak papalah dia pegang nasi atau lauknya. Anaknya juga suka banget ternyata sama gorengan, kerupuk, dan tulang ayam! Buat diemut-emut doang tapi waktu makan jadi lebih lahap kalau dibandingkan dengan anaknya megang tulang ayam daripada tidak memegang apapun. Dan karena sudah 1 tahun, jadi kafa dapat hadiah dari ibu, hadiahnya makan buah duren (dari Engkong) dan mie 😂😂😂. Awalnya mie bayi, lama-lama ibu makan mie dia ikutan makan. Ya sudahlah, ibu mah bukan tipikal orang tua yang melarang anak makan ini itu, santai aja. Toh anak gak selamanya hand on sama kita, takutnya nanti ibu sudah melarang ini itu sudah memberikan peraturan banyak perfect saulaika, eh kecolongan orang lain yang kasih, jadi mending sekalian ibu aja yang kasih, biar gak nambah pikiran motherhood. Bulan ini juga Kafa akhirnya perdana ikut posyandu, jadi tinggi dan berat badan Kafa masih terpantau.




Sebulan terakhir kemarin karena ada tante Kiki liburan akhir tahun dari pondoknya, akhirnya pas ibu sakit, tante kiki yang bantu memandikan kafa. Karena ibu tiba-tiba sakit meriang gak jelas, kena air dikit menggigil, badan panas dingin. Eh tau-tau liat ibunya sakit, anaknya malah ikutan sakit. Tiba-tiba demam dari dicek anget-anget pakai tanganmeter sampai akhirnya dicek pakai termometer sudah 40°C tapi ibu denial dengan mempercayai hasil termometer yang pertama yaitu masih 39.2°C. Kata yangti langsung aja ke Puspita.




Akhirnya subuh-subuh hari Jumat ke Puspita. Dokternya bilang, "ini dua-duanya sakit, mesti cek darah, karena gak tau demamnya karena apa". Lagi-lagi pasti kalau demam yang ditakutkan itu kalo gak tipes ya dbd. Akhirnya kami berdua cek darah ke Puskesmas ditemanin Mas Kholison murid ayah. Sebenarnya gak enak karena masnya harus kerja, berkali-kali bilang udah mas kerja aja, akhirnya jam stgh 9 pagi masnya pamit kerja. Tinggal ibu dan kafa sendirian nunggu giliran ambil darah. Sebelum dikasih rujukan dari Puspita, dokternya ngasih obat panas untuk kafa yang dimasukin ke lubang feses. Pernah baca-baca lupa dipostingan siapa, katanya obat demam yang dimasukin "ke sana" lebih ampuh dan cepat dalam menurunkan panas. Maka akhirnya ibu memperbolehkan permintaan dokter karena sebelumnya juga sudah diberi  Paracetamol tapi gak mempan.




Tiba giliran kami dipanggil untuk diambil darahnya, ibu sudah tidak demam, kafa demamnya mulai turun di angka 38.2°C. Pas cek darah, karena ibu tau biasanya hasil laboratorium keluar sekitar jam 3 sore, maka ibu bilang ke tenakesnya, "kata dokternya kalau bisa hasilnya sebelum jumatan jadi ya pak" padahal sih enggak, cuma emang kalau gak dibilangin begitu, hasilnya keluar jam 2 siang, nah kalo jam 2 siang baru keluar, berarti periksanya mesti lanjut keesokan harinya, jadi ibu gak mau. Akhirnya darah kami berdua pun diambil untuk dicek. Setelahnya kami menunggu lagi. Sambil menggendong kafa, ibu menahan ngantuk karena hari itu ibu terakhir tidur jam 3 sore hari sebelumnya (efek minum obat dari Engkong). Jadi semalaman ibu belum tidur. Tiba-tiba kafa muntah, kena jaket, baju, celana, kemana-mana. Akhirnya ibu meminta tolong orang rumah untuk menyusul dan membawa perlengkapan baju ganti Kafa. Datenglah bude Tia.




Jam 11.30 hasil lab keluar, ibu (seperti biasa) kena gejala tipes. Agak sedih juga sih, sakit yang sama dengan bulan Oktober/November sebelumnya. Yang bikin kaget justru hasil tes darah kafa baik-baik saja, yang tidak baik-baik saja hanya satu yaitu kadar Hbnya. Hbnya rendah diangka 10, padahal bayi minimal diangka 13 dan itu yang bikin anaknya demam tinggi, seperti pusing (bingung juga kan menceritakan bayi kalau pas pusing bagaimana) jadi intinya suka tidur. Jadi kalau anak sering demam tinggi tanpa sebab (tidak setelah imunisasi), itu juga bisa jadi salah satu tanda-tanda Hb rendah. Ibu sedih. Jadi keinget dulu sebelum berusia 40 hari kafa juga pernah cek darah karena kasus udel, dan yaaaa Hbnya memang rendah. Waktu itu karena masih ASIX, jadi domplengnya ya hanya ASI. Ibu harus memakan segala-gala yang membuat kandungan nutrisi pada asi optimal. Dan pas waktunya MPASI, ibu kira MPASI homemade dan MPASI terfortivikasi sudah cukup mendongkrak Hb. Tetapi oh ternyata tidak semudah itu fergusooonnnn...




Walaupun sedih, sambil menahan nangis dan emosi, ibu tetap tanya-tanya di grup wa mamah muda alias mahmud barang kali ada yang pernah senasip. Sambil nanya pengalaman, sambil ibu compare dengan hasil resep dari dokter, akhirnya sesuai dengan anjuran dokter dan belajar dari ibu-ibu di grup, sekarang kafa sehari sekali masih mengonsumsi vitamin penambah Zat Besi. Harusnya sih 3 hari setelah cek lab, anaknya cek darah lagi (kontrol), melihat hasilnya ada perubahan atau belum. Tapi belum ibu lakukan, ya karena sedih melihat anak diambil darahnya (lagi) walaupun ternyata anaknya hebat pas diambil darah gak nangis gak apa, malah ngeliatin pas ibunya ambil darah 😅.




Jangan sombong! Tamparan halus buat ibu, sekalipun cuma ngebatin. Alhamdulillah badai pasti berlalu, kafa berangsur-angsur normal lagi suhu badannya, batuknya juga sudah sembuh, dan yang tadinya badannya sampai sempat menggigil juga karena demam, lemes sampai jalan sendiri aja gak mau, yang tadinya suka bebenah depan tv dan sekitarnya saking aktifnya sampai gak mau bebenah sama sekali, akhirnya sekarang sudah ceria lagi, sudah mau jalan lagi, sudah mau bebenah lagi 😅😅😅Malah waktu kafa sakit lucu-lucu kesalnya, lagi-lagi ibu dikaitkan sama mitos, katanya sakit gara-gara sudah bisa jalan tapi gak disawer-sawer sih. Masya Allaaaaahhhhh (begitulah grandparent kolonial) waktu itu ibu bilang, "gak ada kaitannya tradisi sawer sama Hb rendah". Tapi diomongin begitu sih, ibu masih gak nangis, gak baper, cuma kesal tapi geli lucu aja. Nangisnya  malah pas ditelfon ayahnya kafa, eaaa. Sedih juga ya ternyata Long Distance Married (LDM) tuh apalagi kalau dapat ujian seperti ini. 



Tapi ibu yakin, badai pasti berlalu. Insya Allah, mudah-mudahan sebulan berikutnya dan selanjutnya kafa sehat selalu. Dan mudah-mudahan ibu juga bisa lebih rajin. We love you.


Surat Cinta yang Keempat Belas untuk Kafabillah

Surat kali ini ibu tulis lebih awal sebelum hari H tiba, hari dimana Kafa berusia 14 bulan. Entah kenapa ibu merasa perlu menulis lebih awal. Selalu ada fikiran, ayo ndang nulis, ayo ndang nulis... Akhirnya daripada kepikiran terus, mending ibu tulis saja meskipun ibu punya deadline tulisan yang harus segera ibu kirim untuk sebuah acara. Selain itu, mungkin juga karena bulan lalu ibu lebih banyak menulis kesedihan ibu ketika kafa sakit jika dibandingkan tumbuh kembang kafa yang pesat.

Ibu throwback sebentar. Kemarin setelah Kafa sakit dan cek lab, seharusnya ibu kontrol, tetapi ibu enggan melakukannya. Akhirnya setelah mangkir, ibu datang juga ke poli MTBS karena kafa demam, bapil, dan seperti masuk angin setelah sebelumnya menemani ibu menonton film IP Man 4. Sebenarnya tidak ada niatan nonton film sama sekali, apalagi terakhir kali kafa nonton film adalah film Gundala yang mana kafa cukup tidak kondusif dan pada akhirnya ayah memilih mengalah menggendong kafa keluar studio dan membiarkan ibu tetap menonton film tersebut dengan dalih me time. Kemarin ketika menonton film Ip Man 4 adalah rejeki ibu dan bude tia yang tiba-tiba bertemu dengan bude bila bersama teman2nya yang mau menonton film ip man 4. Akhirnya ditraktirlah kita.

Kembali ke poli MTBS, Dokter yang bertugas hari itu tentu membaca rekam medis kafa dan menegur ibu yang seharusnya membawa kafa untuk kontrol. Karena gejala yang kafa rasakan baru 1 hari, akhirnya dokter memutuskan untuk menunggu dan meminta ibu untuk kembali kontrol di hari Jumat sembari memberikan resep agar kafa lekas pulih karena kafa memiliki 2 agenda penting yaitu menghadiri wisuda s1 tante ririn dan menjenguk om adil. Yangti lagi-lagi seperti biasa mengaitkan sakit kafa dengan tradisi sawer yang belum ibu laksanakan. Sebelum sesi konsultasi selesai, Ibu juga bertanya dan dijawab oleh dokter tentang keluhan ibu karena kafa tidak mau makan selama sakit ini. Dokter bilang gpp bu, satu sendok aja udah alhamdulillah jangan dipaksa, nanti dicoba lagi 1 jam kemudian. Maka akhirnya seharian kafa tutup mulut dan hanya mau dbf, ya sudah, ibu mencoba bersikap tenang. Alhamdulillah malam hari ketika makan malam tiba ada peningkatan, anaknya mau makan 3 suap. Habis itu kafa bermain dengan Kakak Y dan sebelum tidur dicekok obat. Panasnya pun mereda meski masih meler ingusnya.

Terkadang ibu memang lelah dan kewalahan mengurus kafa sedang ayahnya jauh di Samarinda. Tetapi jauh di fikiran ibu yang lainnya, ibu merasa sangat ingin untuk selalu bersyukur. Bersyukur karena ditengah maraknya kasus PPD atau BBS, ibu bisa survive melihat kafa tumbuh dengan menggemaskan.

Kafa sudah semakin sering memanggil kata mbu untuk ibu. Memanggil engkong dengan baba atau papa untuk abah. Mulai bisa berkata tu tuh tuh sambil menunjuk untuk memperlihatkan sesuatu. Sudah bisa minum digelas tanpa dibantu. Sudah tahu kalau ada anggota keluarga yang rapi dia ingin ikut pergi. Sudah tahu kalau pintu terbuka dia harus segera keluar untuk bermain. Sudah ingin memakai sandal sendiri, apalagi kafa terlihat senang sekali dengan sendal tayonya yang menandakan berakhirnya ia memakai sepatu prewalker.

Semakin suka menirukan huruf-huruf yang ia dengar dari youtube maupun smarthafidz. Seperti huruf tsa, da, ya, ba, ta, ma, pa. Memang setelah usia 1 tahun ibu memperbolehkan kafa menonton youtube. Meskipun ibu harus terima resiko kadang anaknya menunjuk atau swipe up layar hp ibu untuk menonton channel yang sudah ibu donlot. Tetapi jika tidak urgen seperti diperjalanan atau ibu mau sholat tetapi tidak ada org lain, maka tidak ibu beri dan akhirnya ia menangis. Ya tak apa menangis, selesai nangis dbf tidur. Selesai. Akan berbeda ceritanya jika ibu luluh dan memberikan hp padahal mungkin saat itu ia adalah jam tidur siangnya.

Sengaja ibu memperbolehkan kafa menonton youtube atau media lainnya yang kontennya sudah ibu pilih terlebih dahulu. Karena memang sisi positifnya dari sana pula kafa ngocehnya semakin mantul dan bahkan ia bisa menyanyi lagu aurora soundtrack sekuel film frozen. Meskipun hanya huuu uuu huuu uuuu nya 🤣🤣🤣. Dari sana pula kafa sudah mulai bisa joget baby shark. Dan memang pada dasarnya anaknya suka joget. Setiap ada musik, badannya yang gempal akan bergerak seperti puding yang tersenggol wkwkwk.

Di bulan ini pula akhirnya ibu menggundul kafa untuk yang ketiga kalinya. Engkong yang membawa kafa ke tukang cukur dan alhamdulillah no drama. Kafa anteng selama digundul, apalagi ada film upin ipin yang ditayangkan saat itu. Mudah-mudahan gundulan kali ini hasilnya rapi sehingga rambut kafa bisa ibu panjangkan seperti rambut al el dul waktu kecil, hihihi.

Bulan ini juga akhirnya kafa berkenalan dengan Timezone dan saudaranya. Tetapi ia terlihat belum nyaman dan bisa menikmatinya. Its okay. Setelah acara WWC, dibulan ini akhirnya kafa menemani ibu mengikuti seminar Pasar Modal di Senayan City. Ibu senang kafa sangat kooperatif selama acara.


Daaannn akhirnya bulan ini Kafa disawer. Yaaa, setelah Yangti pulang dari ziarah wali songo, akhirnya pas hari Jum'at ibu beli cemilan-cemilan untuk bingkisan anak-anak TPA yang hari itu hadir ngaji dan ikutan saweran. Yangti bikin kalung-kalungan yang bandul-bandulnya diisi sama snack. Terus acara dimulai sederhana saja, setelah anak-anak TPA hadir, baca juz 'amma sebentar, engkong mimpin do'a, terus yangti nyawer deh, pada senang deh akhirnya. Yangti senang, Ibu lega, dan eh ternyata sehabis itu Kafa makannya lahap lho, hahaha. Pastilah Yangti bilang, tuh kan, makanya, coba dari kemarin-kemarin disawer... :D

Segini dulu ya kafa, nanti kalau sudah ada cerita baru akan ibu tambah. I love you, i dont know how much i say and i write it to you...




Surat Cinta yang Kelima Belas untuk Kafabillah


Kafa, surat ini memang panjang-panjang, sengaja ibu buat detail perkronologis, karena apa? Karena ya memang surat ini dikhususkan untuk ibu yang kelak akan menua dan tetap ingin selalu ingat setiap hal yang akan menjadi kenangan di kemudian hari. Sengaja juga ibu buat pertiga bulan, karena apa? Karena sering kali tumbuh kembang di 1000 hari pertama perubahan signifikan terjadi setiap per tiga bulan sekali, seperti misalnya tiga bulan pertama sudah bisa tengkurap, tiga bulan selanjutnya sudah bisa duduk, kurang lebih  seperti itu. Jadi ibu buat pertiga bulan agar ritme tumbuh kembangnya nyambung.

Bulan ini Kafa playdate bareng Kamila dan Gamal anaknya Mama Furi dan Ibu Wilda, teman Ibu sewaktu sekolah di MA. Sunan Pandanaran (MASPA). dibulan ini Kafa juga menemeni ibu ikut Kursus Pencegahan Ekstrimisme di Rumah Pergerakan Gus Dur, seminar investasi saham shari'ah di Senayan, dan talkshow investment di Central Park. Banyak hal yang ibu dapat untuk apa yang harus ibu lakukan yang berkaitan dengan masa depan Kafa. Apalagi untuk kesehatan Kafa, mengingat akhir-akhir ini kita berdua sering bolak-balik ke faskes terdekat.

Tentang Hb yang ibu khawatirkan, sudah ibu coba tingkatkan dengan vitamin penambah darah selama sebulan lalu, tetapi tidak ada perubahan yang signifikan, mungkin hanya naik 0,4 dari kadar di bulan sebelumnya. Dokter menyarankan untuk cek Analisa Hb, jadi ambil darah lagi tapi pemeriksaannya spesifik untuk mengecek Hb Kafa saja, tidak pemeriksaan darah seperti yang sudah-sudah. Tapi ibu masih perlu untuk menguatkan mental dan hati. Apalagi ketika ibu tau tentang adanya fimosis. Tidak berbahaya memang, tetapi Kafa harus segera disunat agar tidak terjadi hal-hal berikutnya yang tidak diinginkan seperti ISK dan sejenisnya.

Dokter bilang sebaiknya sunat di Dokter Bedah Anak, tapi Engkong dan Yangti bilang di Puskesmas saja. Dari pada adu argumen terus, ibu cek ke puskesmas terdekat, ternyata di sana diberi tahu tidak melayani sunat, malah petugasnya bilang, "sunat mah manggil, Bu". Akhirnya ibu pergi ke RS terdekat yang menurut ibu pelayanan dan tingkat ketepatan dalam proses penyembuhannya cukup tepat dan mereka bilang disana tidak ada dokter subspesialis dan mereka menyarankan untuk RS besar sekelas kabupaten/kota dan nasional. Kata Yangti disana mahal. Akhirnya ibu tanya via telpon, dan ya, di RSAB Harapan Kita saat ini untuk sunat dengan bius lokal sebesar minimal 3jt dan untuk sunat bius total dikisaran angka 6jt rupiah.

Sebenarnya ibu juga belum kuat mentalnya menghadapi anak alias toddler yang belum toilet training untuk proses kehidupan pra dan pasca sunat walaupun ibu sudah membeli celana sunat. Setelah banyak hal yang ayah dan ibu pertimbangkan, akhirnya kami akan menyunat Kafa beberapa bulan lagi, setelah sampai di Magelang dan sudah ada RS yang kami tuju untuk kami percayai melakukan tindakan sunat tersebut. Yah, sambil ibu menyiapkan mental tentunya...

Terlepas dari itu, banyak hal yang ibu syukuri, seperti suara Kafa semakin bagus kalau menyanyi. Kafa sudah bisa minum lewat sedotan. Kafa juga sejak 2 bulan yang lalu sudah mengerti kalau ibu minta cium maka Kafa akan mencium pipi ibu, tidak lagi sun klomoh ya Fa. Akhirnya ibu pun merindukan sun klomoh a la Kafa secepat ini, huhu. Selain itu, Kafa sudah bisa meminta kepada Ibu untuk dibukakan sesuatu jika ingin meminum atau memakannya. Semakin senang pakai sandal dan sudah tahu harus berlari kemana jika ada yang berpakaian rapi kemudian membuka pintu. Semakin lincah larinya sampai-sampai sering kepentok kepalanya, menakutkan memang. Apalagi yang paling parah pernah sampai kepentok tiang di masjid karena mengejar ibu yang sedang membantu membawakan barang dari mobil ke rumah. Yah, mudah-mudahan Kafa tetap sehat ya sayang :)

Bulan ini beberapa kali Kafa ibu tinggal keluar sekitar 3-5 jam seperti ketika ibu ada perlu ke Tanah Abang atau pun saat ibu harus tes CPNS. Yaaa, ibu ikutan CPNS, tidak berekspektasi tinggi karena pada dasarnya hanya untuk iseng-iseng barang kali beruntung, yaaa jadi mengapa tidak? Hehehe... Selama ibu pergi, Kafa diasuh oleh Yangti, Engkong, dan Bude Tia. Katanya anteng-anteng aja sih, tapi kalau pas inget mau DBF tetep aja nangis. Jadi selama ibu tidak di rumah, pokoknya Kafa makan apa saja dan tidak dibiarkan perutnya kosong agar kenyang dan tidak menangis. Mendengarnya agak seram tapi mau ketawa juga sih sebenarnya. Terlepas dari CPNS lolos atau tidaknya, yang terpenting ada satu kemajuan dalam dunia tulis menulis yang akhir-akhir ini kerap ibu lakukan. Alhamdulillah, mungkin belum bisa ibu tulis disini, karena ibu belum tau akan seperti apa kedepannya. Tetapi ibu optimis pasti indah. Bismillah.

Hmmmm, ibu bingung mau nulis apa lagi Fa. Ya sudah mungkin bulan ini cukup sampai disini dulu. Terima kasih karena sudah menjadi anak ibu yang pintar, yang kosa kata bicaranya tambah banyak. Sudah bisa bilang mau, gak mau, lagi, muh (minum), nenen (dbf). It's meaning full for me. Sebentar lagi kita akan menyusul ayah ke calon ibu kota baru, sehat-sehat selalu ya anak ibu. We love you.

Surat Cinta Istimewa edisi HUT Kafabillah


Muhammad Kafabillah Amary
Doc. Pribadi


Akhirnya tanggal 6 Desember 2019 tiba juga. Itu artinya, genap satu tahun usia Kafa. Selamat ya nak, doa-doa terbaik akan selalu ibu usahakan untuk ibu panjatkan kepada Tuhan wa bil khusus untukmu. Karena satu dan sekian hal, maafkan ibu yang berencana untuk tidak merencanakan perayaan apapun di hari kelahiran pertamamu ini. Awalnya ibu kira Kafa akan ultah dan dirayakan di Magelang, tetapi ternyata Kafa dan Ibu pulang ke Jakarta, sehingga saat hari ulang tahun kafa, ayah tidak bisa hadir. Maafkan ibu yang tidak berupaya lebih, semua tart dan balon-balon, ditemani bude Tia ibu beli seperti tahu bulat alias dadakan padahal sebetulnya Ibu bisa memberikan yang lebih dari itu. Maafkan ibu yang tidak membuat selebrasi seperti ulang tahun pertama ‘pada umumnya’. Karena ibu fikir saat ini kafa belum butuh itu, kafa belum mengerti tentang perayaan, tiup lilin, kado, dan sejenisnya. Meski begitu, pelukan, keluarga yang hangat, senyuman, kasih sayang, doa-doa tulus lah yang ibu usahakan untuk ibu hadirkan di setiap hari Kafa.

Maafkan ibu juga lagi-lagi telat menulis surat cinta untuk Kafa. Akhir-akhir ini ibu jarang membuka laptop karena laptop ibu masih dalam masa perbaikan, karena saat ini ibu sedang libur sholat, maka ibu fikir, inilah saat yang tepat untuk menulis surat cinta yang tertunda untuk Kafa.

Selama sebulan terakhir, banyak sekali yang sudah ibu lalui bersama kafa. Terlebih ketika ibu dan kafa akhirnya memutuskan untuk menjalani hari-hari di Jakarta ketika ayah mengurus pesanan kayu yang kemudian hari berencana untuk mencoba peruntungan di Samarinda. Sebenarnya banyak hal yang ibu pertimbangkan, apalagi terkait Kafa. Mulai dari Kafa bangun tidur hingga Kafa terlelap di malam hari. Atau hal-hal seperti mencuci baju, karena mesin cuci di rumah Yangti dan Engkong saat itu rusak dan belum diperbaiki, sehingga untuk cuci-mencuci harus manual atau menggunakan tangan. Tetapi setelah ibu fikir-fikir lagi, ah sama aja, di Magelang juga kalau air lagi habis ya nyuci pakai tangan gak bisa pakai mesin cuci. Dan ternyata ya setelah ibu lalui hari-hari di Jakarta bersama Kafa untuk persoalan cuci-mencuci dan lain-lain ya sesantai itu, ibu tetap bisa mengurus Kafa dan mengerjakan pekerjaan yang lainnya, tak selelah yang ibu bayangkan.

Akhirnya pikiran-pikiran halu itu ibu tepis jauh-jauh, belum apa-apa kok sudah ketakutan. Lagi pula, mumpung ada kesempatan, kapan lagi kan ibu bisa mudik ke Jakarta dalam jangka waktu yang lama? Meskipun pada akhirnya Ibu harus memberanikan diri pergi ke Jakarta seorang diri membawa Kafa dalam perjalanan dengan kereta api. Ya karena apalagi kalau bukan kendala di biaya? Tetapi ternyata setelah dilalui sangat menyenangkan, walaupun awalnya dagdigdug derrrr. Ternyata the power of Sounding Alhamdulillah sering kali berhasil. Kafa sangat menikmati perjalanan dan mau bekerja sama dengan ibu Selama di perjalanan. Rewelnya hanya ketika mengantuk dan ingin rebahan. Tapi akhirnya semua itu berlalu. Ibu bahkan bisa membuat satu thread untuk pengalaman naik kereta hanya berdua bersama Kafa. Kapan-kapan akan ibu post ya :)

Namanya anak-anak, pasti ada masa lupa-lupa ingat terhadap anggota keluarga yang jarang bertemu. Sesampainya di Jakarta, anggota keluarga yang langsung bisa akrab dengan Kafa adalah Kakak Y yang saat itu berusia 3 tahun. Selebihnya Kafa menganggap anggota keluarga di Jakarta adalah stranger. Akhirnya, setiap kali digendong oleh Yangti, Engkong, Bude Tia, Bude Bila, Bulek Ririn, Kafa langsung menangis dan merengek mencari Ibu. Untungnya keadaan ini tidak berlangsung lama. Pada akhirnya Kafa mulai beradaptasi dan memudahkan kegiatan yang harus ibu lakukan selama di Jakarta.

Hal pertama yang membuat Ibu panik dalam mengurus Kafa di Jakarta adalah ketika Kafa harus mandi. Biasanya di Magelang, Kafa masih mandi dengan bak bayi, tetapi karena di Jakarta tidak ada bak bayi, mau tidak mau, akhirnya Kafa harus mulai beradaptasi untuk mandi dengan berdiri sambil berpegangan ke bak kamar mandi. Untungnya Kafa sudah bisa berdiri cukup tegak, sehingga hanya beberapa kali Kafa nyaris dana tau terjatuh ketika mandi. Walaupun terjatuh, tetapi Kafa jarang sekali menangis J Malah semakin hari semakin pintar berkeliling kamar mandi melihat dan menunjuk-nunjuk keramik bergambar ikan di dinding kamar mandi setiap kali sesi mandi berlangsung.

Adaptasi selanjutnya adalah kasur lantai. Karena di rumah Yangti tidak menggunakan springbed, sering kali di awal-awal hidup di Jakarta, Kafa sering kepentok kepalanya ketika bangun atau hendak tidur. Biasanya kalau di Magelang kan dimana-mana ibu sediakan kasur, jadi Kafa sering bergulung-gulung ria tanpa harus terjembab dan benjol karena jatuh di lantai. Tetapi hal ini juga tidak berangsur-angsur, beberapa hari kemudian Kafa sudah tidak menjembabkan diri ke lantai.

Kemudian waktu makan. Meskipun ibu sudah menyiapkan MPASI Instan agar memudahkan ibu ketika waktu makan tiba, dan Kafa jufa sudah mulai bisa memakan nasi, tetapi ibu tetap saja agak panik. Jadi ibu agak berhati-hati, Ibu lebih memilih memberi makan secukup dan se-mood nya Kafa daripada Kafa trauma makan yang kemudian hari bisa menambah beban ibu jika sampai terjadi trauma. Ibu mencoba untuk chill, ya sudah kalau memang pas maunya makan sebanyak 1 sendok makan orang dewasa ya gakpapa. Alhamdulillah Kafa lebih sering makan banyak daripada sedikit makan dan itu sangat membantu Ibu. Selama di Jakarta jadwal makan Kafa sudah tiga kali. Pagi hari makan bubur MPASI Instan yang diberi campuran abon, kemudian siang dan sore atau malam hari nya menu makan Kafa adalah masakan keluarga. Menu keluarga yang paling sering Kafa makan adalah ikan kembung dana yam goring, sesekali bakso.

Akhirnya setelah 6 bulan Kafa tidak berenang, Kafa kembali lagi bermain di wahana kolam renang. Awal-awalnya sebelum nyemplung di dalam air, Kafa sangat bersemangat. Setelah tau airnya dingin, Kafa selalu berpegangan erat dengan ibu dan menolak mengambang di ban spiderman yang sudah Engkong belikan. Untungnya semakin lama Kafa mulai mau main kecipak kecipuk alias menepuk-nepuk air. Yang ibu sayangkan adalah sepatu Kafa yang tertinggal di tempat wahana bermain air. Karena itu adalah sepatu terkecil dan termuat yang bisa Kafa pakai dari 3 pasang sepatu yang Kafa punya. Akhirnya walaupun saat itu Kafa belum bisa berjalan, beberapa hari kemudian, ibu membelikan Kafa sandal cit cit alias sandal yang bisa berbunyi. Waktu itu yang ibu fikirkan, barang kali dengan sering pakai sandal, jadi otot kaki Kafa semakin kuat sehingga Kafa bisa lebih cepat untuk berani berjalan sendiri.

Viola! Ternyata benar! Tepat di penghujung awal Desember, Kafa bisa melangkah sebanyak  3 langkah, usianya saat itu nyaris satu tahun. Satu tahun kurang 5 hari. Setelah itu, akhirnya Kafa semakin sering berdiri, semakin bisa menyeimbangkan diri dan bisa berdiri sendiri tanpa harus dibantu, persis seperti yang Nenek Aam bilang, katanya kalau bayi sudah bisa jongkok kemudian berdiri sendiri dari posisi jongkoknya, maka sebentar lagi pasti bisa berjalan. Alhamdulillah semua proses itu sudah Kafa lalui dan proses berjalan Kafa sangat memudahkan ibu karena ibu tidak perlu repot-repot memapah Kafa berjalan :)

Selama Kafa di Jakarta juga Kafa sering bersilaturahmi baik bersama anggota keluarga yang berdomisili atau yang tidak berdomisili di Jakarta maupun teman-teman Ibu yang berniat bertemu dengan Kafa. Kafa bertemu dengan keluarga dari Engkong ketika menjenguk Om Adil di Majalengka dan Tante Kiky di Bandung. Saat itu Kafa sempat masuk angin dan malas makan, baju Kafa juga habis terkena muntahan. Akhirnya Ibu membeli baju piama baru untuk Kafa di rest area. Selain keluarga, Kafa bertemu dengan teman-teman Aliyah Ibu seperti Tante Bedri, Om Ahya, Pakde Mardhon tepat saat Kafa berulang tahun. Kafa juga bertemu dengan teman-teman SMP Ibu di Cikampek saat menghadiri resepsi pernikahan salah satu teman. Kafa bertemu dengan Una anaknya Mama Vani, Lubna anaknya Mama Qonita, Azhar anaknya Mama Tim-tim, dan Om Imam. Di Cikampek juga Kafa menghadiri akad dan resepsi Uwa Ardi anaknya Nenek Mama dan bertemu banyak keluarga dari Yangti yang menghadiri acara namun tidak berdomisili di Tanah Sereal.

Acara pernikahan yang Kafa hadiri di Cikampek berbeda hari, Sabtu dan Minggu. Akhirnya Ibu memutuskan untuk naik kereta dari Stasiun Tanjung Priuk – Stasiun Cikampek pada hari Jum’at. Alhamdulillah, meski bawaan Ibu cukup banyak, Ibu dan Kafa mendapatkan kursi untuk duduk. Bahkan sesampainya di Stasiun Cikampek, ada bapak TNI bernama Imam B. yang bersedia menolong Ibu untuk membawakan tas perlengkapan Kafa. Sesampainya di Cikampek, Ibu nostalgia bersama Mama Una yang keesokan harinya barulah bertemu dengan teman-teman ibu yang lainnya dan pada hari Minggu Ibu dijemput oleh Yangti untuk menuju tempat akad dan resepsi Uwa Ardi yang tidak jauh dari tempat tinggal Mama Una.

Tidak hanya pergi berdua bersama Kafa ke Cikampek, Ibu dan Kafa juga pergi berdua ke Cirebon selama 5 hari. Waktu itu ibu mendapatkan broadcast akan ada Women Writing’s Conference (WWC) yang diadakan oleh Mubaadalahnews.com dan Institut Fahmina. Iseng-iseng karena laptop Ibu sedang rusak, sambil menyusui Kafa, Ibu membuka aplikasi note di ponsel ibu dan mulai membuat naskah yang harus Ibu kirimkan ke panitia untuk di seleksi dalam rangka mengikuti konferensi tersebut. Alhamdulillah dari sekian ratus naskah, ternyata naskah Ibu masuk, akhirnya mau tidak mau dari Cikampek, Kafa bersiap ke Cirebon. Saat itu ibu tidak bilang kepada panitia bahwa ibu akan membawa Kafa, tetapi ternyata ada peserta lain yang konfirmasi kepada panitia akan membawa anaknya ke acara tersebut dan sedang mencari daycare. Padahal saat itu sedang booming kasus di Kalimantan ada anak balita hilang dari daycare dan ditemukan dalam keadaan tewas. Ternyata Allah berbaik hati dan memberikan kabar melalui pernyataan panitia WWC di grup whatsapp yang berisikan bahwa penyelenggara WWC menyediakan panitia dari Mahasiswa ISIF yang ditugaskan khusus untuk menjaga anak-anak peserta WWC selama kegiatan WWC berlangsung. Masya Allah tabarokallah, sebuah bantuan psikis yang luar biasa untuk meringankan tugas ibu-ibu dalam mengurus anak yang kami bawa di acara tersebut.

Yang ibu syukuri lagi, Kafa sangat anteng dan kondusif selama di Cirebon, jarang sekali menangis, menangis hanya ketika mengantuk tetapi tidak bisa tidur karena mau direct breastfeeding (dbf). Mandi juga tidak kesulitan karena dari hotel sudah disediakan air hangat, awal-awalnya saja Kafa kaget dengan air yang muncul dari shower. Waktunya makan juga mudah, meski Ibu sudah wanti-wanti untuk membawa MPASI Instan, tetapi karena Kafa sudah bisa memakan masakan keluarga, maka Ibu coba tawarkan menu sajian pihak hotel yang ibu santap, alhamdulillahnya Kafa suka. Hanya di hari terakhir Kafa malas makan. Nantinya akan ibu tulis di postingan yang berbeda tentang acara ini, mudah-mudahan dalam jangka waktu dekat.

Selesai 4 hari mengikuti acara WWC, akhirnya Ibu bertemu dengan Mama Salsa atau Hera teman semasa SD ibu yang bersedia bertemu dan mengantarkan ibu ke Pesantren Madrasatul Huffadz 1 di Gedongan. Sebelum menuju ke Gedongan, Ibu dan Kafa diajak berkeliling Keraton Kasepuhan dan mendengarkan cerita-cerita tentang Raden Kiansantang dari guidetour yang mengantarkan kami. Alhamdulillah selama perjalanan menuju Gedongan Kafa akhirnya mau makan pudding alpukat yang Mama Salsa bawakan. Hanya saja karena mengantuk atau bosan, akhirnya kafa rewel sebelum sampai di Gedongan.

Sesampainya di Gedongan, Kafa bertemu dengan teman SMP Ibu yang baru saja melahirkan putri pertamanya. Di pondok tersebut Kafa juga anteng, mau diajak ke kamar santri dan ikut menyantap masakan rumah yang telah disediakan. Saat tau akan ke Cirebon, Ibu memang sengaja mampir ke Gedongan, karena sudah sejak lama ibu ingin sowan ke orang tua teman Ibu yang juga adalah bunyai dari pondok tersebut. Keesokan harinya, walau pun agak susah mencari taksi online di daerah tersebut, Alhamdulillah lagi-lagi Allah berbaik hati membawakan kepada kami Elf yang rutenya menuju Stasiun Cirebon. Alhamdulillah kami bisa sampai stasiun sebelum jam keberangkatan. Walaupun perjalanan pulang ke Jakarta harus dilalui dengan ketidaknyamanan Kafa karena pup, tetapi akhirnya Ibu dan Kafa sampai di rumah dengan selamat.

Alhamdulillah, meskipun selama tinggal di Jakarta beberapa kali Kafa lagi-lagi terkena ruam popok (yang membuat ibu ingin pulang ke Magelang dan memakaikan Kafa clodi lagi) dan atopik Kafa kembali muncul karena harus beradaptasi dengan kondisi, cuaca dan lingkungan di Jakarta, tetapi  ibu sangat sangat bersyukur, terlebih perkembangan kafa selama satu bulan terakhir ini. Selain bisa berdiri dan berjalan sendiri, Kafa juga sudah bisa mengikuti ritme musik dan menggoyangkan badan apabila mendengarkan instrumen musik. Kafa juga semakin pintar bablingnya dan semakin ekspresif. Ibu semakin mudah mencerna ocehan-ocehan dan gerak gerik Kafa, begitu pun dengan Kafa yang juga mulai sedikit demi sedikit mengerti ucapan Ibu.

Mungkin cukup sekian ya nak surat cinta kali ini, sudah ada lebih dari 2000 kata yang ibu rangkai dalam surat ini. Jika sewaktu-waktu ada yang ibu ingat lagi, pasti akan ibu tulis. Peluk cium untuk anak ibu, muridnya Habib Umar, santrinya Kyai Tashim dan Gus Baha’. Sehat dan Bahagia selalu ya nak, semangat untuk naik bulan berikutnya. Love you.