PEMERIKSAAN BOD (BIOLOGICAL OXYGEN DEMAND)

Budayakan mencantumkan referensi pada daftar pustaka, terima kasih.


Pemeriksaan BOD (Biological Oxygen Demand)
Doc. Rawpixel.com


LAPORAN (KEDELAPAN) PRAKTIKUM KIMIA LINGKUNGANPEMERIKSAAN BOD (BIOLOGICAL OXYGEN DEMAND)


I.      Hari,Tanggal    : Senin, 10 Desember 2012
II.     Lokasi             : Laboratorium Kimia
III.    Materi             : Pemeriksaan BOD
IV.     Tujuan            : Dapat melakukan pemeriksaan kadar BOD
V.      Dasar Teori     :

              Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik atau pengurai/mengoksidasi hampir semua zat oranik yang tersuspensi dalam air,pada kondisi aerobik,pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik digunakan sebagi bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (PRESCOD 1971). Dan proses oksidasi tersebut dapat mengakibatkan kematian ikan-ikan dan air dan

keadaan menjadi aerobik dan dapt menimbulkan bau busuk dalam air.
            Pemeriksaan BOD didasarkan atas reaksi oksidasi zat organik dengan oksidasi didalam air dan proses tersebut berlangsung karena adanya bakteri aerob. Dan hasil oksidasi itu sendiri adalah akan terbentuknya karbohidrat dalam air dan reaksi oksidasi. Selain digunakan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan, pemeriksaan BOD juga dapat digunakan sebagai pemeriksaan beban pencemaran zat organik.

VI.     Alat dan Bahan

1.      Alat
a)      Botol oksigen
b)      Pipet ukur
c)      Pipet tetes
d)      Gelas ukur 500ml/1 L
e)      Labu erlenmeyer 500ml
f)      Corong kaca
g)      Buret basa
h)      Inkubator BOD
i)      Gelas kimia
j)      Statif
2.      Bahan
a)      Larutan MnSO4 20%
b)      Pereaksi Oksigen
c)      H2SO4 pekat
d)      Larutan Na2S2O3 0,025N
e)      Indikator amylum 1%
f)      Sampel Air Limbah
g)      Air Pencemar
h)      Aquadest
i)      CaCl 2,25%
j)      MnSO4
k)      FeCl3
l)      Buffer amoniak

VII.    Cara Kerja
1. Pemeriksaan DO Segera dari sampel
    a. Mengukur volume O2 dengan cara memenuhi botol O2 dengan air dan tutup botol O2, biarkan air tumpah saat ditutup. Kemudian tuangkan air tersebut ke dalam gelas ukur. Catat volume botol tersebut.
     b. Mengisi botol O2 dengan sampel sampai penuh lewat dinding botol agar tidak terjadi aerasi.
    c. Menambahkan 2 ml reagen oksigen dan 2ml MnSO4 40%. Menutup botol O2 kemudian gojok sampai merata. Setelah digojok biarkan beberapa saat sampai larutan mengendap. Jika timbul endapan kuning hingga kecoklatan maka lanjutkan pemeriksaan, namun jika timbul endapan putih maka pemeriksaan dihentikan.
    d. Menambahkan 2ml H2SO4 pekat dan gojok sampai endapan larut.
   e. Mengambil larutan sebanyak 200ml, kemudian menuangkan larutan tersebut ke dalam gelas ukur dan memindahkan larutan tersebut ke dalam labu erlenmeyer dengan menambahkan Xml dengan rumus perhitungan:
                            X ml = 200 [(Volume botol O2/Volume botol O2 - 4) -1]
   f. Mentitrasi dengan larutan Na2S2O3 0,025N sampai terjadi perubahan warna menjadi kuning muda, lalu menambahkan 1ml indikator amylum sehingga larutan berubah warna menjadi biru tua.
    g. Melanjutkan titrasi sampai warna biru tepat hilang kemudian catat volume titrasi.
2. Melakukan pengenceran dengan tingkat pengenceran sesuai tabel. Jika kadar DO kurang dari 8, maka harus diencerkan dengan perhitungan --> 1/p x 700ml = ...ml
3. Menentukan jumlah sampel yang diambil, jika pengenceran dilakukan 10x maka 1/10 x 700ml = 70ml
4. Pemeriksaan Air Campuran (AC)
    a. Membagi air campuran tersebut ke dalam 2 botol O2
    b. Memberi label AC1 dan AC2 pada masing-masing botol
    c. Menentukan DO segera pada label AC1 seperti pemeriksaan DO Segera
   d. Menginkubasikan botol berlabel AC2 selama 5 hari dalam suhu 20 derajat celcius ke dalam inkubator
    e. Setelah 5 hari, menentukan nilai DO 5.20 derajat celcius dari air pengencer
    f. Mencatat dalam tabel pengamatan
5. Pemeriksaan Air Pengencer (AP)
    a. Membagi air pengencer tersebut ke dalam 2 botol O2
    b. Memberi label AP1 dan AP2 pada masing-masing botol
    c. Menentukan DO segera pada label AP seperti pemeriksaan DO segera
    d. Mengeramkan botol AP2 selama 5 hari dalam suhu 20 derajat celcius ke dalam inkubator
    e. Setelah 5 hari, menentukan DO AP2 yang sudah diinkubasi
    f. Menentukan DO segera

VIII. Hasil Praktikum

      Perhitungan X ml volume 300ml = 200 [(v. botol O2/v. botol O2-4)-1]
                                                            = 200 [(300/300-4) -1]
                                                            = 200 (300/296) -1
                                                            = 200 (1,013-1)
                                                            = 2,6ml
     Hasil Titran    

Kode
Volume Awal (ml)
Volume Akhir (ml)
Volume Titrasi (ml)
AC1
0
5,8
5,8
AP1
0
6,7
6,7
AC2
0
3,6
3,6
AP2
6
10
4

     Dengan tingkat pengenceran 10 kali di mana 1/10 x 700ml = 70ml, maka diperoleh data:

     1. DO Segera = 5,15 (dari praktikum sebelumnya)
         Kadar DO  =1000/200×ml titrasi×0,025N×F.Na2S203×BE O2
                           = 1000/200×5,15×0,025×1×8
                           = 5,15 ml/L O2

     2. AC1 = 5,8 mg/L O2

         dengan perhitungan = vol. Akhir titrasi - vol. Awal titrasi = 5,8 - 0 = 5,8 mg/L O2
     3. AC2 = 4 mg/L O2
         dengan perhitungan = vol. Akhir titrasi - vol. Awal titrasi = 3,6 - 0 = 3,6 mg/L O2
     4. AP1 = 6,7 mg/L O2
         dengan perhitungan = vol. Akhir titrasi - vol. Awal titrasi = 6,7 - 0 = 6,7 mg/L O2
     5. AP2 = 3,6 mg/L O2
         dengan perhitungan = vol. Akhir titrasi - vol. Awal titrasi = 10 - 6 = 4 mg/L O2
BOD AC = (DO segera AC-DO 5.20) = 5,8 - 4 mg/L = 1,8 mg/L O2
BOD AP = (DO segera AP - DO 5.20) = 6,7 - 3,6 mg/L = 3,1 mg/LO2
BOD Sampel = (BOD AC - BOD AP) x P = (1,8 -3,1) x 10 = - 1,3 x 10 = -13 mg/L O2

IX. Pembahasan

      Dari hasil praktikum diperoleh DO segera dari AC 5,8 mg/L dan DO 5.20 4mg/L. Hasil DO segera AP diperoleh 6,7mg/L dan DO 5.20 dari AP diperoleh 3,6mg/L. Berdasarkan hasil perhitungan, maka diperoleh BOD AC 1,8mg/L, BOD AP 3,1mg/L. Hasil dari BOD AP dan AC diperoleh dari pengurangan antara DO segera dengang DO 5.20. Sedang BOD sampel diperoleh dari BOD AC dikurangi BOD AP kemudian dikalikan dengan pengencer, hasil yang didapat dari perhitungan ini adalah -13 mg/L, yaitu negatif di mana kadar okseigen turun lebih dari setengah kadar yang ada. Padahal seharusnya nilai kadar BOD harus bernilai positif berdasarkan KepMen KLH no. 2/MENKLH/1998 bahwa standar baku mutu kadar BOD harusnya sebesar 50mg/L.
        Faktor yang sangat memungkinkan menyebabkan terjadinya nilai negatif pada BOD Sampel bisa dikarenakan percobaan ini gagal. karena tidak mungkin nilai BOD adalah minus, kesalahan percobaan dimungkinkan pada pencampuran larutan dimana pada saat itu terjadi aerasi dan atau saat titrasi.

X. Kesimpulan

          Berdasarkan praktikum yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan BOD dari air sampel dan air pengencer diperoleh kadar BOD sampel sebesar -13mg/L O2.

Daftar Pustaka

http://alloybluebird.blogspot.com/2012/05/pemeriksaanBOD.html
http://adesuherman09.student.ipb.ac.id/files/--/jurnal-BOD-indonesia.pdf.
http://daniar-mustika.blogspot.com/2012/04/analisa-cod-chemical-oxygen-demand.html

Yogyakarta, 12 12 12

Pembimbing: Naris Dyah P.
Praktikan: Karimah Iffia Rahman, Mia Nandha Sari, Mifta Nurhayati, Septian Randa Gino Prakoso
Nilai sebelum direvisi: B (yang saya posting adalah laporan praktikum yang sudah direvisi)

Silahkan tinggalkan jejak terbaik di kolom komentar ya readers :)

0 Comments:

Post a Comment