Untuk Para Penuntut Ilmu (baca: Aku)

Hari pertama ngaji kitab sorogan ala KH. Abdul Muhaimin. 18 Mei 2015
Entah kurang kerjaan atau memang beginilah seharusnya alur kehidupan berjalan.
Aku berada di dua Pesantren secara bersamaan, kali ini di Pondok Pesantren Nurul Ummahat.

Selepas Shubuh Pertama di PPNU, isi dari absahan kitab teman-teman santri baru (bagiku) bertemakan tentang ilmu.
Mungkin, aku tidak secerdas yang aku fikirkan. Aku tidak benar-benar bisa mengemas pengalaman ini melalui sebuah tulisan dengan sebaik seperti aku menerimanya.

Tapi ketahulah kamu! (baca: aku) yang selama ini ka-ta-nya sedang menuntut ilmu, yang selama ini merantau, entah apakah sudah jelas tujuannya atau belum tentang menuntut ilmu i-tu sen-di-ri.
Kamu, yang selama ini di elu-elukan oleh sanak keluargamu, oleh seluruh kolega dan kerabatmu tentang ilmu yang kamu bangga-banggakan selama ini. Apakah kamu benar-benar mengerti apa arti dan makna dari kata ilmu itu sendiri? Jangan-jangan benar, bahkan sekalinya kamu benar dikata sedang menuntut dan mencari ilmu, namun pada hakikatnya kamu tidak benar-benar tahu apa makna dari kata ilmu itu sendiri. Ah, tidak perlu repot-repot mungkin. Kamu hanya perlu memberi tahu apa arti dari kata ilmu tidak secara teoritis mencari di google melainkan dari dirimu sendiri.

Yang kutakutkan, bahkan kamu akan mengatakan bahwa ilmu adalah bla, bla, bla. Terlebih jika kamu tidak benar-benar mengetahui perbedaan dari kata "ILMU" dan "PENGETAHUAN". Sebenarnya masih akan sangat-sangat lebih baik jika se-ti-dak-nya kamu bisa menjawab pengertian dan perbedaan dari kedua kata tersebut. Hanya saja, itu akan menunjukkan kepadamu tentang yang sebenarnya. Bahwa kamu benar-benar belum mengerti dan memahami arti dari apa yang selama ini kamu cari dan kamu tuntut.

Sebelum Pakyai berkata, dan masih mencari-cari mana saja santri (lama) yang bisa dengan "pas" menjawab pertanyaan beliau tentang apa perbedaan dari ilmu murni dan ilmu terapan? Apa perbedaan antara ilmu dan pengetahuan. Mengapa ada Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, bahkan sekarang sudah bertambah lagi Ilmu Pengetahuan Humaniora. Yah, sebelum Pakyai berkata bahwa ilmu adalah cahaya "al-'ilmu nuurun" kata-kata tersebut sudah melesat di dalam benakku. Entah. Aku tidak tahu mengapa, tapi yang jelas sebelumnya Ayahku sudah pernah menjelaskan ini sebelumnya.

Kamu tahu? Bahkan kata-kata tersebut menjadi lebih indah ketika Pakyai mengaitkannya dengan kata "Ngelmu" yang selorohnya angel nek durung ketemu (susah kalau belum ketemu), padahal seharusnya kepanjangan dari kata tersebut adalah sebuah filosofi tanah jawi yang terdiri dari kata tinemune kanthi laku. 

Sampai pada titik ini, memang kedua pengertian tersebutlah yang paling indah ketika didengar. Adalah ilmu merupakan suatu cahaya yang mana kita tidak akan menemukan cahaya tersebut jika tidak sungguh-sungguh mendalaminya, mempelajarinya, dan menjalaninya. Janganlah yang sedikit-sedikit berunsur jawa, kejawen, jawir ini langsung kamu anggap makanan bernama bid'ah. Coba fahami betul, sekali saja sampai rasanya filosofi ini merasuk ke dalam sanubarimu hingga akhirnya kamu menemukan makna dan hakikatnya, bukan hanya sekedar sejarah dan filosofinya saja.

Mudahnya seperti ini, pernahkah kamu belajar sesuatu, tentang cara menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan? Mungkin kamu tahu. Yah, tapi bisa saja kamu tahu namun kamu belum tentu menjalaninya atau bisa saja kamu tahu namun kamu menjalaninya dengan ogah-ogahan, atau yang lebih baik lagi jika kamu tahu dan kamu menjalaninya dengan sepenuh hati, memilah-milih sampah bahkan hingga menerapkan 3R (reduce, reuse, recycle).

Nah, di sanalah perbedaannya antara ilmu dan pengetahuan (yang paling sangat sederhana). Selama kamu tahu akan sesuatu, namun hal tersebut belum melekat kepadamu, belum menjadi life style-mu sehari-hari, maka itu hanya akan menjadi sebuah pengetahuan. Sedang jika kamu tahu akan sesuatu, hal tersebut kamu lakukan setiap hari, terus-menerus hingga melekat kepadamu, bahkan kamu merasa sedih jika tidak melakukannya, maka disanalah ilmu yang selama ini kamu cari, yang selama ini kamu tuntut kehadirannya disebuah selebrasi perguruan maha tinggi telah kamu dapatkan. Al 'ilmu nuurun. Ilmu adalah cahaya. Cahaya itu hanya untuk mereka yang istiqomah (terus-menerus) mempelajarinya, mendalaminya, dan menjalaninya, tinemune kanthi laku.

Mungkin cukup sekian ulasan kali ini. Kalau saja kamu masih kebingungan akan tulisan ini, jangan khawatir, sudah kukatakan sebelumnya bahwa aku tidak secerdas yang aku fikirkan. Aku tidak benar-benar bisa mengemas pengalaman ini melalui sebuah tulisan dengan sebaik seperti aku menerimanya. Atau mungkin cahaya itu belum hadir kepadamu, karena cahaya itu, cahaya ilmu, sama hadirnya dengan hidayah-Nya. Petunjuk Tuhanmu.

0 Comments:

Post a Comment