Antologi Cerpen Cinta Perempuan Biasa [Review Book]

About Antologi Cerpen Cinta Perempuan Biasa

Judul Buku : Antologi Cerpen Cinta Perempuan Biasa
Penulis : Nuri Thakya, Dian Permatasari, Rendi Aprian, Nyimas Maharani Shalima, Yunita Mercy Sabatini, Raisa Fardani, Nur Hidayah, Muhammad Ali Saidi, Felly Octaviani, Rianti Aprillia, Ela Indah, Rosanti Vivi Nuari/Kim, Erinda Nur Anisa
Tahun Terbit : Maret 2020
Jumlah Halaman : 107 halaman
Penerbit: Anara Publishing House
Bahasa : Indonesia
Genre : Fiksi Drama
ISBN : 978-623-7229-57-5

Nuri Thakya, Dian Permatasari, Rendi Aprian, Nyimas Maharani Shalima, Yunita Mercy Sabatini, Raisa Fardani, Nur Hidayah, Muhammad Ali Saidi, Felly Octaviani, Rianti Aprillia, Ela Indah, Rosanti Vivi Nuari/Kim, Erinda Nur Anisa
Doc. Pribadi

Antologi Cerpen Cinta Perempuan Biasa's Blurb

Ada banyak cerita kisah cinta perempuan yang meski bagi sebagian orang kehadirannya bukanlah siapa-siapa namun ternyata kisah cinta yang ia alami mampu mengubah hidup seseorang di dalamnya terutama di dalam hidup orang-orang yang ia cintai. Siapapun ia, remaja, gadis, janda, atau bahkan seorang istri yang memiliki "madu", tentu memiliki kisah cinta yang meski diceritakan secara sederhana namun dapat dijadikan pembelajaran bagi siapapun yang membaca kisah tersebut.

The Reason I Read, My Impression, and What I Learn

Setelah bulan Februari mengkhatamkan novel Hilda dan sebulan sebelumnya menuntaskan novel Dua Barista yang kemudian saya tuliskan resensinya, akhirnya di bulan Maret saya mendapatkan kiriman buku lagi, sebuah antologi cerpen yang berjudul Cinta Perempuan Biasa dari salah satu penulisnya.

Ya, karena ini antologi, otomatis ada banyak penulis di dalam buku ini yang berkontribusi untuk menuliskan satu atau dua cerpen. Ada banyak judul dalam kumpulan cerita pendek (cerpen) ini, diantaranya Janji Baru, Restu di Sepertiga Malam, Mungkinkah Ini Cinta Pertama dan Terakhir, Kudekap Erat Penantian Ini, Nara dan Senyumnya, Impian Cinta Wanita Biasa, Love and Faith, Aminah, Gadis di Tengah Hujan, Kakak Perempuan, Rian Adytian Wijaya, June in Love, Mimpi Bahagia, dan Romantisme Purnama.

Saya mengapresiasi keempat belas judul cerpen tersebut karena cerpen tersebut ditulis oleh generasi muda yang lahir di kurun waktu 1996 hingga 2005. Rentang umur yang cukup belia dan dini untuk memiliki sebuah karya dan dibukukan menjadi sebuah antologi.

Kisah drama percintaan yang ditulis oleh setiap penulis juga beragam, ada yang menulis tentang cinta pertama bersama teman main sewaktu kecil, cinta pertama ketika usia remaja yang tentunya ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, cerita cinta pada pandangan pertama, cinta tulus dari seorang gadis lugu bernama Aminah. Ada juga cerita tentang kehidupan berumah tangga, tentang upaya untuk mendapatkan restu orang tua, kejujuran dan kepercayaan dalam berumah tangga, memutuskan untuk rela dimadu, hingga kisah seorang janda yang sempat trauma untuk mencintai dan akhirnya mencoba untuk membuka hati.

My Favorite

Dari sekian banyak cerpen yang tertulis di dalam antologi ini, ada beberapa cerpen yang menjadi perhatian saya, diantaranya adalah Impian Cinta Wanita Biasa yang ditulis oleh Raisa Fardani dan Love and Faith karya Nur Hidayah. Selain karena kisah cintanya ada hikmah yang bisa diambil, juga karena penulisannya cukup sesuai dengan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) baik dari segi penulisan dialog, eyd (ejaan yang disempurnakan), tidak menggunakan kalimat yang sama berkali-kali dalam satu paragraf bahkan satu kalimat atau pemborosan kata, minimalisir kesalahan baik pada tanda bacaan maupun kata (typo), serta tidak berbelit-belit dalam merangkai kata.

Rate for Antologi Cerpen Cinta Perempuan Biasa

Menurut pendapat pribadi, mengikuti PUEBI memang bukan harga mati untuk sebuah cerita baik itu cerpen, cerbung, atau pun sebuah novel. Karena tentu selain PUEBI, ada juga penilaian lain seperti sudut pandang cerita, dan bagaimana cara penulis mengemas sebuah bacaan sehingga membuat pembacanya terhanyut dan tanpa sadar ingin terus-menerus membaca cerita tersebut hingga usai (readable). Tetapi tentu pedoman ini sudah dikemas sedemikian rupa agar tulisan yang diceritakan dapat memancing emosi pembaca sehingga terasa lebih menyentuh dan tidak merusak sebuah cerita. Terkadang tidak jarang isi atau pun kandungan cerita yang baik dapat rusak karena penyampaian yang kurang apik. Pemborosan kata juga menjadi salah satu faktor pengganggu terkait durasi waktu yang dibutuhkan oleh pembaca.

Salah satu faktor pendukung untuk memperbaiki hal ini adalah editor. Salah seorang teman saya di Women Writers Conference yang juga seorang mantan editor di sebuah surat kabar dan saat ini berprofesi sebagai dosen di sebuah universitas berkata, "sebuah tulisan akan semakin sempurna apabila semakin banyak pembacanya". Merujuk pernyataan ini, bagi saya pemilihan editor juga menjadi poin penting untuk finishing sebuah tulisan yang akan sampai pada konsumen yaitu pembaca. Namun di buku antologi ini, saya melihat keterangan yang menuliskan bahwa editor buku ini adalah penulis buku.

Selain itu, menurut saya sebagai pembaca, desain cover juga perlu diperhitungkan. Memang ada beberapa cerita dalam cerpen ini yang mengambil narasi agama untuk dijadikan sebuah kisah. Namun tidak sedikit pula cerita yang tidak berbau agama sama sekali. Sedangkan desain cover menampilkan ilustrasi seorang muslimah atau perempuan yang menggunakan jilbab yang menggiring opini "oh kayanya ini antologi cerpen islami nih" yang kenyataannya setelah dibaca "ah, tidak juga".

Oleh karena itu, berdasarkan penilaian pribadi saya di atas, akan lebih baik jika buku antologi cerpen ini mendapatkan "ruh baru" di cetakan selanjutnya agar pesan yang ditulis dapat tersampaikan lebih baik kepada pembaca. Untuk pembaca blog yang penasaran dengan buku ini bisa memesannya melalui Nuri Thakya.

Semoga honest review ini bermanfaat. Silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar ya :)



5 comments:

  1. semuanya memang mendukung ya kak, baik itu diksi, cover, alur cerita, dan lainnya. termasuk sang editor.

    Karena kadang suka gemes sama novel yang ceritanya bagus, tapi sayang ada banyak typo di dalamnya. Rasanya pengen kuedit sendiri itu supaya rapi. Meskipun kita tetap akan ngerti maksudnya meskipun typo, tapi kan tetap itu seperti mengurangi value dari buku tersebut. Eheheheh menurutku sih begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sama ka, kalau ada editor kan ada orang lain yang menilai tulisan kita selain "mata" kita sendiri. jadi kaya akan penilaian dan membantu sekali dalam penyempurnaan sebuah karya, cmiiw

      Delete
  2. makasih sharingnya mom, bisa jadi bahan bacaan #DiRumahAja nih

    ReplyDelete
  3. Keren review Mom Iffiah. Dari penulisan dan penjelasannya sangat baik.

    Semoga penerbit buku ini, bisa menjadikan "honest review " Mom Iffiah untuk memperbaiki buku ini pada cetakkan selanjutnya😉

    ReplyDelete
  4. Keren Mom Iffiah.. Semoga penerbit buku ini bisa menjadikan "honest review" dari Mom Iffiah untuk memperbaiki buku tsb pada cetakkan selanjutnya 😉

    ReplyDelete