Surat Cinta 161718 untuk Kafabillah

Surat Cinta Keenam Belas untuk Kafa


Akhirnya setelah 4 bulan, disurat kali ini Kafa bertemu lagi dengan ayah. Setelah maju mundur tentang kapan berangkat ke Samarinda, ayah setuju untuk menunggu ibu datang di pekan kedua bulan Maret. Sengaja ibu menundanya karena masih banyak pesanan novel Dua Barista dan novel Hilda yang harus ibu pastikan dikirim sebelum ibu pergi ke Samarinda. Agar tenang saja, karena yaaa entah kenapa, setiap kali ibu buka preorder atau jastip, kalau bukan ibu yang handle langsung pasti kendalanya banyak. Berbeda jika ibu yang handle tanpa perantara distributor maupun supplier.

Selama memanfaatkan waktu yang tinggal menghitung hari, Kafa masih menemani ibu kesana kemari, ke tempat seminar dan sejenisnya yang lokasi acaranya di Jakarta dan bisa ibu hadiri secara cuma-cuma meskipun suasana sedang mencekam. Ya, mencekam. Mengingat sejak 31 Desember 2019 dunia sedang dihebohkan oleh virus Corona atau Covid-19. Apalagi dua pasien pertama yang positif terkena virus ini berada di Depok, kota yang tidak jauh dari Jakarta. Tapi ibu mencoba menyikapinya dengan tidak panik dan berusaha untuk tetap waspada serta melakukan pencegahan pada perilaku hidup bersih dan sehat yang lebih intens seperti lebih rajin mencuci tangan memakai sabun, berusaha untuk tidak bersentuhan dengan orang lain seperti bersalaman dan juga meminum vitamin. Berdoa tentu tidak lupa untuk dilakukan, mengingat semua ini adalah kehendak Allah SWT.

Keadaan semakin membuat lebih banyak mengucap kata "Ya Allah" ketika ada kabar tentang Covid-19 yang pasiennya terus bertambah di Indonesia. Sampai pada 3 hari menjelang keberangkatan, kasus bertambah sampai 19 pasien. Kemudian 2 hari sebelum keberangkatan, kasus meningkat menjadi 34 orang. Sambil menyiapkan barang-barang yang hendak dibawa, ibu masih menyempatkan diri bertemu dengan teman-teman ibu yang di Jakarta. Ada beberapa yang pada akhirnya tidak bisa bertemu atau ibu kunjungi di periode perpulangan kali ini, tetapi ibu husnudzon mungkin memang takdirnya sudah seperti itu. Meski ibu ingin, apalagi sowan-sowan ke guru-guru tertentu, tapi ibu tidak bisa memaksakan kehendak. Insya Allah lain waktu pasti bisa.

Karena akan menempuh perjalanan dengan pesawat, maka ibu harus menyiasati bagasi. Sebelumnya ibu hanya membawa satu ransel, satu koper, satu tas bayi dan oleh-oleh satu kardus 4 bulan yang lalu sebelum ke Jakarta. Kini semuanya membengkak menjadi berdus-dus setelah 4 bulan menetap di Jakarta. Entah itu buku-buku hadiah, hadiah ulang tahun Kafa, mainan Kafa, baju-baju ibu yang tidak terpakai atau hasil harbolnas yang membuat ibu khilaf. Setelah semuanya rapi, tersisa lah satu kardus di Jakarta. Sengaja ibu tinggal tidak ibu kirim bersama teman-temannya yang sudah terlebih dulu pergi ke Magelang karena rencananya kami akan kembali ke Jakarta sebelum Engkong dan Yangti berangkat haji kembali. Tetapi karena ada Pandemi Covid-19 maka saat ini yang bisa ibu lakukan adalah berdo'a dan terus memantau perkembangan.


Sisanya saat di bandara, ibu membawa dua kardus, 1 tas bayi, 1 tas ransel, dan 1 koper, plus bayi lincah :D

Dan karena bagasi berlebih, maka ibu harus membawa 1 bayi lincah, satu tas ransel, dan satu tas bayi sendirian. Yap! sebuah pengalaman yang luar biasa pegelnya. Tapi ibu bersyukur Kafa sudah bisa jalan tanpa dibantu, sehingga ketika ibu rasa sudah aman untuk tidak digendong, maka ibu pun membiarkan Kafa jalan sendiri sampai ke ruang tunggu.

Masih saat di bandara, karena masih dalam suasana wabah Covid-19, maka bandara terlihat sepi. Ibu dan juga keluarga yang ikut mengantar ke bandara memakai masker. Tak lama setelah sampai, kami pun berpisah.Yangti menangis sedih karena berpisah dengan Kafa. Kafa selama perjalanan menuju bandara juga hanya diam saja. Sepertinya Kafa tau akan berpisah dengan keluarga di Jakarta.

Ya, hanya itu yang ibu sesali, ibu lupa tidak mengafirmasi Kafa untuk tetap tersenyum (meski akan berpisah sementara bersama Yangti dan yang lainnya) setelah merasakan beratnya bawaan yang harus ibu bawa. Selebihnya Kafa mengerti keadaan seperti yang ibu afirmasikan. Anteng selama penerbangan, mau makan apa saja terutama Roti O'. Tidak merasa kebisingan selama take off maupun landing. Kalau pun pada akhirnya bingung mau ngapain lagi, mau tidak mau ibu keluarkanlah jurus youtube. Untungnya lagi, karena sepi penumpang, maka kursi sebelah kami yang tadinya penuh, saat berangkat menjadi kosong karena para bapak-bapak di sebelah kami berpindah di kursi yang kosong tanpa penumpang secara sukarela. Jadi ketika Kafa mengantuk, Kafa bisa tidur terlentang. Bahkan sampai penerbangan selesai pun Kafa masih tertidur.


Yey, finally we met Ayah in Samarinda.

Kafa tidak lupa pada ayah, malah semakin manja. Apalagi ayah kan pola parenting-nya tidak ingin membuat anak nangis, jadi dikit-dikit gendong, dikit-dikit iya. Ada perbedaan dengan ibu walaupun tidak banyak. Kafa dengan keluarga di Samarinda butuh beberapa hari saja untuk merasa nyaman dan mengerti bahwa Bunda Uti, Mbah Kakung, Pakde Valthen sekeluarga, Pakde Adams, dan Om Wais adalah keluarga. Dua hari sebelum kami tinggal di Samarinda WHO menetapkan bahwa wabah Covid-19 kini menjadi pandemi global. Kemudian, tiga hari setelah kami berada di Samarinda, tak lama pemerintah menghimbau pada masyarakat untuk #dirumahsaja dan menerapkan #workfomhome.

Maka, karena ibu sadar bahwa balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia serta penderita penyakit tertentu adalah kelompok yang rentan terkena Covid-19 maka ibu memutuskan untuk sebisa mungkin tidak keluar kemana-mana, yah lagi pula, ibu kan memang sudah tidak ada kepentingan di luar jika sudah di Samarinda alias 100% stay at home mom. Tapi ternyata minggu pertama ibu tidak berhasil di rumah saja karena ibu sungkan untuk menolak ajakan Bunda Uti menghadiri majelis ta'lim Darus Shofa. Agak sedih sih, karena akhirnya di tempat pengajian ibu tidak fokus apalagi Kafa berlari-larian baterainya tidak habis-habis. Tapi ya sudah lah, bismillah. 

Akhirnya di minggu kedua dan ketiga, ibu berhasil #dirumahsaja. Selama itu, hari-hari yang ibu kerjakan adalah bangun pagi setelah shubuh kadang tadarus kadang tidur lagi, habis itu bebenah rumah bersama Bunda Uti dan Bude Eli sambil menyiapkan sarapan dan makan siang. Setelah itu mengurus Kafa mulai dari makan, mandi, hingga tidur siang. Ayah juga kadang ikut membantu memandikan Kafa. Setelah makan siang dan sholat, biasanya ibu tadarus sebentar kemudian istirahat sampai ashar.  Bangun tidur biasanya sambil menemani Kafa main sembari makan siang. Setelah sholat ashar, ibu kembali ke dapur bersama Bunda Uti dan Bude Eli menyiapkan makan malam. Jika adzan maghrib tiba dan kegiatan ibu sudah selesai, biasanya ibu akan sholat maghrib dan mengaji sambil menunggu adzan sholat isya' tiba. Baru setelah itu ibu makan malam sambil menyuapi Kafa juga. Kalau tidak lelah, dan kafa sudah tertidur, ibu melanjutkan kegiatan tulis-menulis. Kalau ibu kelelahan ya ibu istirahat.

Jujur, kegiatan seperti ini sebenarnya membuat ibu takut. Karena budayanya berbeda sekali dengan budaya ketika di Jakarta. Tetapi ya mau bagaimana lagi? Awal-awal tentu ibu harus beradaptasi, tidak sehari dua hari tetapi satu dua tahun dan hingga saat ini pun menuju 3 tahun pernikahan ibu masih harus berproses. But its okay, i'll try dan semoga Allah meridhoi proses ini (usaha ibu) sebagai ladang ibu untuk berbakti dan berbuat baik kepada sesama khususnya keluarga.

Perkembangan Kafa selama sebulan ini Kafa sudah mulai berani turun dari ranjang yang tingginya kurang lebih 60 cm, tinggal naiknya saja yang masih belum bisa meski sudah ada tekad. Kafa juga semakin pintar ngoceh seperti benar-benar membicarakan sesuatu *LOL. Selain itu, Kafa suka sekali kucing, walaupun pernah dicakar kucing dan menangis, tetapi Kafa tidak kapok mendekati kucing, malah sering kali Kafa menirukan kucing dengan merangkak dan rebahan di lantai *LOL. Kafa juga semakin hebat silatnya, karena pakde-pakde, om wais, ayah, dan mbah kakung senang jika melihat kafa sedang memperagakan silat. Kafa mau makan apa saja, yang dimasak di rumah, rawon, ayam goreng, ikan layang, telur dadar, ikan patin goreng/kuah, tempe rebus, jenang mutiara dan kafa suka sekali dengan wortel. Yang Kafa kurang suka adalah bubur *LOL. Kafa juga sempat makan telur pedas tapi tidak kepedasan. Hebaaaatttt Hahahhaa ...

Kalau soal gadget jangan ditanya, tapi belum parah. Hanya saja ibu suka khawatir speech delay kalau terlalu sering melihat gawai. Sejauh ini Kafa semakin pintar untuk memanggil ibu dengan sebutan ibu. Kalau ayah jangan ditanya ya!

Hmmm, apalagi ya?
Mungkin sampai sini dulu kali ya surat keenam belas ini ibu buat. Seperti biasa, kalau sudah ada yang ibu ingat lagi, nanti ibu tambahkan. Tambah sholih, sehat selalu ya anakku. Semoga pandemi ini segera berlalu.


Surat Cinta Ketujuh Belas untuk Kafa

Bulan ini masih seperti bulan kemarin sayangku. Pandemi Covid 19 belum juga usai dan angka penderita positifnya terus bertambah hingga ke angka 8000an. Tapi ibu gak kuat juga kalau diminta benar-benar di rumah aja. Setelah sebulan lebih dua hari ibu gak kemana-mana, akhirnya ibu keluar rumah juga. Tetapi zonk karena yang ibu cari tidak ada. Kemudian ibu mencoba kembali dilain waktu setelah sekian minggu tidak keluar rumah, lagi-lagi zonk yang ibu dapat. Hanya saja ibu memang merasa perlu keluar rumah jika merasa sudah penat.

Kemarin Kafa sempat ditanya sama Bunda Uti, "kok belum mengeja kata seperti paannn...daaaa, gaaaa...jaaaah, ci....caaakkk ya?" Ibu juga merasa selama Kafa di Samarinda, Kafa jarang sekali mengeja kata-kata di atas seperti waktu di Jakarta. Tetapi kalau untuk babling jangan ditanya, ngoceh-nya makin tidak karuan, seperti ada kalimatnya. Tetapi yang lebih sering terdengar adalah kata tuh, dan luh, juga ayah tentunya.

Bulan ini Kafa sempat jatuh dari Kasur dan benjol besar sekali. Ibu merasa menyesal karena ada bekas pada jidat Kafa. Tetapi kata mbah-mbah tukang pijit lama-lama bekasnya akan hilang kok, asal diolesin terus pakai minyak tawon. Yap, sebenarnya ibu takut membawa Kafa ke tukang pijit apalagi di tengah pandemi seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, ibu yakin sekali badan Kafa pasti pegal-pegal karena tidurnya selalu sebentar-sebentar dan dikit-dikit jatuh. Tapi bismillah, mudah-mudahan setelah dipijit pun Kafa sehat selalu bebas dari Covid 19 begitu juga ibu, ayah, dan anggota keluarga yang lainnya.

Perkembangan Kafa yang lainnya, Kafa sudah bisa mengadu atau menolak kalau dijahilin Kakak Lila atau Kakak Nana, pura-pura menangis jika keinginannya tidak tersampaikan, masih suka beradegan silat, sudah bisa naik dan turun di bangku anak tanpa dibantu, sudah bisa naik dan turun ranjang dengan benar apalagi pasca jatuh dari kasur dengan gaya headstand, nafsu makannya selalu surut jika sedang tumbuh gigi tetapi habis itu lahap lagi. Yap! bulan ini gigi Kafa sudah 9, empat di depan atas, empat di depan bawah, dan 1 di geraham kanan. Bulan sebelumnya gigi Kafa tumbuh satu setelah sekian lama gak tumbuh-tumbuh.

Bulan ini akhirnya kembali lagi bertemu dengan bulan Ramadan. Ramadan kali ini karena Kafa sudah berusia 16 bulan, maka ibu memberi Kafa susu formula di siang dan sore hari. Tetapi tidak konsisten, hanya di awal Ramadan saja. Selebihnya Kafa lebih banyak makan lahap dari pada minum susu. Kalau habis diberi susu formula, Kafa pasti langsung mengantuk dan minta digendong agar bisa tertidur. Menu favorit Kafa selama bulan Ramadan adalah capcay ala-ala. Dan selama ramadan kali ini pola tidur Kafa berubah. Jam 2 pagi sampai jam 2 siang tidur. Kemudian bangun mandi dan makan kalau mau, masih lanjut main sampai sore jam 5 atau ba'da maghrib kiyep-kiyep ngantuk akhirnya tidur. Bangun jam 10 atau jam 12 kemudian main lagi sampai jam 2 atau ba'da shubuh baru tidur. So hufty.

Mungkin segini dulu ya Fa surat kali ini, nanti ibu lanjutkan kembali. Peluk cium ibu untuk Kafa, selamat tambah bulan anak ibu sayang, tumbuh sholih ya nak :)












0 Comments:

Post a Comment