-->

MEMBACA QASIDAH SALAMULLAHI YA SADAH KETIKA MENGUNJUNGI MAKAM WALIYULLAH

Kali ini saya akan membagikan ulasan seputar Qasidah Salamullahi Ya Sadah. Mengapa Qasidah ini menjadi penting untuk saya tulis, karena setiap kali mengunjungi makam para wali, ayah saya selalu bilang, "tolong share bacaan Salamullahi Ya Sadah". Akhirnya, saya memutuskan untuk menulis qasidah yang diciptakan oleh Habib Abdullah bin 'Alawi al Haddad ini di web yang saya kelola.

Qasidah Salamullahi Ya Sadah
Design by: Canva

Dasar hukum berziarah ada pada hadits berikut:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

Artinya: Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, (HR. Muslim)

Meski begitu, masih saja ada yang memperdebatkannya meskipun sesungguhnya berziarah makam sudah menjadi budaya di Indonesia. Apalagi bagi penganut agama Islam, berziarah ke makam para wali atau awliya (jama' dalam bahasa arab) menjadi tradisi yang sering dilakukan ketika memiliki hajat khusus dan mendapatkan keberkahan dalam proses menuju hajat tersebut.

Tentu selama berziarah ada adab maupun etika yang harus diperhatikan, apalagi jika makam yang diziarahi adalah makam hamba-hamba Allah yang sholih atau pun para kekasih Allah (awliya). Kurang lebih adab tersebut sama seperti ketika kita bertemu dengan para kekasih Allah semasa beliau-beliau masih sehat wal 'afiat, misalnya memakai pakaian yang sopan, menjaga sopan santun dan mengucapkan salam.

Ketika berziarah ke makam para wali, biasanya membaca salam dilakukan dengan berdiri dan menghadap ke hadirat Allah SWT dengan sepenuh hati sambil membaca qasidah Salamullahi Ya Sadah. Di beberapa makam para wali, teks sholawat ini ada yang sampai ditempel di sekitar makam agar memudahkan peziarah. Berikut lirik, bacaan latin, dan terjemahannya.

LIRIK DAN BACAAN LATIN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
سَلاَمُ اللهِ يَـا سَادَةْ   مِنَ الرَّحْمٰنِ يَغْشَاكُمْ
Salâmullâhi yâ sâdah minar-Rahmâni yaghsyâkum
عِبَادَ اللهِ جِئْنَاكُمْ   قَصَدْنَاكُمْ طَلَبْنَاكُمْ
'Ibâdallâhi ji’nâkum qashadnâkum thalabnâkum 
تُعِيْنُوْنَا تُغِيْثُـوْنَا   بِهِمَّتِكُمْ وَجَدْوَاكُمْ
Tu'înûnâ tughîtsûnâ bihimmatikum wa jadwâkum 

فَأَحْبُوْنَا وَأَعْطُوْنَا  عَطَايَاكُمْ هَدَايَاكُمْ
Fa ahbûnâ wa a'thûnâ 'athâyâkum hadâyâkum
فَلاَ خَيَّبْـتُـمُوْا ظَـنِّيْ   فَحَاشَاكُمْ وَحَاشَاكُمْ
Falâ khayyabtumû dzannî fahâsyâkum wahâsyâkum
سَعِدْنَا إِذْ اَتَيْـنَاکُمْ   وَفُزْنَا حِيْنَ زُرْنَاکُمْ
Sa'idnâ idz ataynâkum wa fuznâ hîna zurnâkum

فَـقُوْمُوْا وَاشْفَعُوْا فِيْنَـا   إِلَـى الرَّحْمٰنِ مَوْلَاكُمْ
Faqûmû wasyfa'û fînâ ilâr-rahmâni mawlâkum
عَسَى نُحْظَى عَسَى نُعْطَى   مَزَايَا مِنْ مَـزَايـَاكُمْ
'Asâ nuhdzâ 'asâ nu'thâ mazâyâ min mazâyâkum 
عَسَى نَظْرَةْ عَسَى رَحْمَةْ   تَغْشَانَـا وَتَغْشَاكُمْ
'Asâ nadzrah 'asâ rahmah taghsyânâ wa taghsyâkum 

سَلَامُ اللهِ حَيَـاكُـمْ   وَعَيْنُ اللهِ تَرْعَاكُمْ
Salâmullâhi hayyâkum wa 'ainullâhi tar'âkum 
وَصَلَّى اللهُ مَـوْلَانَا   وَسَـلَّمْ مَا أَتَـيْنَاكُمْ
Wa shallâllâhu mawlânâ wasallam mâ atainâkum 
عَلَى الْمُخْتَارِ شَافِعِنَا   وَمُنْقِـذِنَا وَإِيَّاكُمْ
'Alâl mukhtâri syâfi'înâ wa munqidzinâ wa iyyâkum

ARTI ATAU TERJEMAHAN


“Wahai Tuanku, semoga salam Allah tetap tercurah padamu.
Wahai hamba-hamba Allah, kami datang kepadamu.
Kami bermaksud (bersentuhan dengan rohanimu) dan kami berharap (berkahmu).
Untuk menolong kami, menyejukkan kami dengan siraman yang berasal darimu, sesuai dengan tekad dan pencapaianmu (selama ini).
Maka cintailahlah dan berikanlah kepada kami hal-hal yang Allah berikan dan hadiahkan padamu.
Jangan biarkan pengharapan ini sia-sia, jauhlah engkau semua (dari sifat tega menyia-nyiakan kami).
Kami sangat beruntung datang di haribaanmu dan kami amat berbahagia dengan menziarahimu,
maka bangkitlah dan syafaatilah kami bermohon pada Allah yang bersifat Ar-Rahman, Tuanmu.
Mudah-mudahan kami diberi (Allah) keberuntungan dan diberi limpahan karunia yang selama ini dianugerahkan kepadamu.
Mudah-mudahan kita dipandang dan dilimpahi rahmat yang akan menyelimuti kami dan engkau.
Semoga engkau semakin dihidupkan dengan keselamatan (dari) Allah dan semoga pandangan Allah senantiasa menuntun engkau.
Mudah-mudahan rahmat Allah dan keselamatan semakin terlimpah kepada tuan kita,
manusia pilihan yang mensyafa’ati dan menyelamatkan kita”

Begitulah kurang lebih teks Qasidah Salamullahi Ya Sadah yang biasa dibaca oleh peziarah. Beberapa ada yang membaca lebih sedikit atau pun ada yang membaca lebih banyak. Namun inti yang dibaca tetaplah sama. Jika teman-teman ingin mengetahui bagaimana cara menyenandungkan qasidah ini, silahkan dilihat video youtube yang satu ini. Tinggalkan comment, like, subscribe and share video ini jika bermanfaat.


Sekian ulasan kali ini, semoga bermanfaat ya. Jika ada ulasan tentang kehidupan santri yang ingin ditulis di web ini, silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar dan kembali berkunjung ya :)

Sebelum tulisan ini diakhiri, izinkan saya mengutip perkataan Habibana  Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz ketika ada seseorang yang bertanya "Mengapa berziarah makam awliya sedangkan ia tiada memberi kuasa apa-apa karena tempat meminta hanyalah kepada Allah?" Habib Umar menjawab:

Benar, bahwa mereka tidak memiliki kuasa apapun, tetapi aku lebih senang berziarah ke makam mereka karena bagiku mereka tetap hidup dalam membangkitkan jiwa yang mati ini kepada Allah. Kematian dan kehidupan di sisi Allah adalah jiwa. Banyak diantara mereka yang hidup tetapi sebenarnya mati begitu pula sebaliknya.
Aku lebih senang berziarah ke makam kekasih Allah dan para syuhada karena ia mengingatkanku akan kematian dan hidup adalah perjuangan. Karena aku dapat melihat jiwa mereka ada kuasa cinta yang hebat sehingga mereka dicintai oleh Allah lantaran cinta yang hakiki
Meski para wali Allah telah tiada, tetapi cinta tidak mengalami kematina, ia akan tetap hidup dan terus hidup dan akan melimpah kepada para pecintanya. Aku berziarah karena sebuah cinta, mengambil semangat mereka agar aku dapat mengikuti mereka dalam mujahadahku. Mengangkat tangan di sisi makam mereka bukanlah meminta kuasa dari mereka, melainkan memohon kepada Allah agar aku juga dicintai Allah sebagaimana mereka dicintai Allah.
Wallahu a'lam... 




Karimah Iffia Rahman
Seorang perempuan sagitarius yang hidup dalam peran ganda sebagai istri, ibu, dan penulis lepas. Karya pertamanya yang berhasil diterbitkan berada dalam Buku Antologi Menyongsong Society 5.0

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter