Perpulangan


Perpulangan,

Mungkin bagi sebagian dari kalian ada yang masih enggan untuk bersiap-siap pulang
Ada pula yang sedang menyiapkan perpulangan itu sendiri dengan ala kadarnya
Ada pula yang merasa sedih saat akan hendak berpulang


Begitu pula saya,
Liburan kali ini saya agak malas untuk mempersiapkan perpulangan saya
 
Sehingga akhirnya saya memutuskan untuk Magang di salah satu Badan Pemerintahan yang bergerak di bidang Lingkungan agar bisa meminimalisir peluang kepulangan saya.
Bahkan pada saat orang tua merasa keberatan dan mengatakan hal tersebut melalui kakak-kakak saya yang cantik jelita,
pun saya masih enggan pulang

Yah walaupun sebenarnya secara alam bawah sadar, akhir-akhir ini saya jadi memikirkan mereka, keluarga saya yang WOW ramainya kalau sudah kumpul :)

Tapi Saya ingin merasakan lebaran di kota yang selama ini sudah menjadi saksi bisu perjalanan hidup saya,
menjadi saksi bisu perkembangan saya sejak SD hingga duduk di bangku perkuliahan

Saya ingin merasakan lebaran di kota yang masih memiliki Raja dan Ratu yang amat sangat dihormati setiap wejangannya oleh seluruh rakyatnya,
ingin sungkem kepada Raja dan Ratu di kratonnya . .
memakai kebaya, jarit sebagai pakaian bawahannya, pakaian adat jawa,
Saya ingin..


Namun sepertinya do'a ayah ibu terkabul berkat beberapa lembar yang terpampang di pintu ini, seperti yang terekam oleh kamera saya.

Betapa tidak, justru di sana
dan hanya di sana yang sangat antusias merayakan perpulangan

mempersiapkan perpulangan

menunggu-nunggu perpulangan

dan bahkan, itu adalah salah satu kenangan termanis ketika Saya pernah hidup di dalamnya

Yah, menanti perpulangan . .


Pekerjaan setiap harinya di detik-detik perpulangan hanya merobeki selembar kertas demi selembar
atau mencatat hari "H" perpulangan di papan tulis belajar tanpa ada gairah menuntut ilmu, dan guru-guru pun tidak akan ada yang keberatan,
tidak ada.


Dan pada saat hari H, semua bahagia, tak terlihat lagi wajah lesu dan bibir kering yang menandakan bahwa sebenarnya hari itu mereka masih diuji rasa menahan nafsunya seperti hari-hari yang lalu yang begitu terlihat.

Dan dokumentasi ini merupakan salah satu catatan harian adik saya sendiri . .

Sungguh, ini hanya terjadi di Pandanaran, komplek tiga, asrama pelajar.
Kalian yang pernah merasakannya tentu mengerti betul euforianya.


Akhirnya,
Beberapa lembar kertas tersebut menghantarkan saya untuk memutuskan bahwa saya akan pulang,
Memutuskan untuk pulang dengan tanggal yang akan mengejutkan orang rumah.
Memilih sungkem kepada ayah ibu, dan keluarga selagi mereka masih ada
Memanfaatkan sebaik mungkin waktu yang diberikan untuk mempersiapkan kepulangan ini . .


Semoga ketika suatu hari nanti ketika darah Sunda, Betawi, Banten, dan Arab ini sudah tercampur bersama darah Jawa, saya masih bisa diberikan kesempatan untuk sungkem kepada Raja dan Ratu di Kraton sana . .


Semoga.

0 Comments:

Post a Comment