Belajar Bermimpi dari Raga

Sebuah kutipan dari Hipwee[dot]com:
Beranilah untuk bermimpi dan bayangkan jika suatu saat kamu berhasil menggenggam mimpimu itu.

Akhir-akhir ini saya kembali banyak merenung dan sangat banyak-banyak membutuhkan waktu. Maka saya mulai kembali menjalani rutinitas mengajar TPA. Entah mengapa jika sedang bersedih hati, saya merasa mengajar TPA adalah salah satu cara saya menenangkan diri saya sendiri.

Sore itu Saya mengajar salah satu murid bernama Raga, murid baru yang hiperaktif. Saat waktunya mengaji iqro' maupun al-Qur'an, Raga mendatangi saya dan meminta saya menyimak bacaan iqro'-nya. Jilid satu, masih perkenalan huruf. Huruf wawu tepatnya.

Setiap mengajar iqro' jilid satu, saya selalu meminta anak-anak membacanya dari bawah, karena biasanya di bagian paling bawah huruf hijaiyah lengkap dari alif atau a (jika diberi fathah) untuk mempermudah anak-anak mengingat dan mengenal huruf baru. Termasuk Raga pun begitu. Saya memintanya untuk memulai dari bawah dan baru setelah itu dimulai dari baris pertama, dan jika ia lupa, saya mengingatkannya pada huruf-huruf hijaiyah yang berada di baris bawah agar ia mengingat sendiri (jika benar-benar lupa baru saya beri tahu). Bacaannya bisa dibilang baik walaupun ada beberapa huruf yang mulai sulit diucapkan sesuai dengan pengucapan seharusnya. Setelah selesai mengaji, saya bilang kepadanya sambil memaraf kartu kuning (kartu prestasi) nya, "Besok ngulang ya". Tapi tidak seperti kebanyakan anak yang lain. Biasanya mereka jika saya bilang kalimat seperti itu pasti memasang muka cemberut dan kemungkinan besar besoknya mereka 'ganti ustadz/ustadzah' biar bisa dapet paraf 'lanjut'. Raga justru mengingat-ingat huruf yang Ia lupa, Na dan Wa. Terlebih dia tidak memusingkan soal "Besok ngulang ya" melainkan dia malah membuka halaman-halaman yang lain mulai dari halaman huruf Wa sampai dengan softcover bertuliskan Iqro' Jilid 2. Sedang temannya yang lain yang melihat kelakuannya berkata, "ih kamu tu ngulang tau" sambil merasa sebal mungkin.

Saat itu saya seperti melihat, Raga sudah bermimpi (akan lanjut ke Iqro' jilid 2) dan sudah membayangkan berhasil menggenggam mimpinya (lanjut ke Iqro' jilid 2) tanpa memperdulikan jatuh-bangunnya (pengulangan saat belajar mengenal huruf wawu, ebta, dan yang lainnya) ketika berusaha menggenggam mimpinya tersebut. Meski tersadar, saya pulang mengajar TPA dengan hati yang masih banyak pertanyaan atau pernyataan bahwa saya seharusnya bisa menerima, mengikhlaskan, dan membangkitkan kembali semangat yang pernah redup dengan lebih baik, seperti Raga yang matanya berbinar hanya dengan berandai-andai bagaimana bahagianya saat mimpinya benar-benar jadi kenyataan.

0 Comments:

Post a Comment