Siger Sunda, Soon!

Percayalah,
Dalam hitungan hari aku akan menjadi putri pasundan yang mengenakan siger sebagai mahkotaku.
Dalam hitungan hari dihari yang sama, aku akan menjadi none betawi yang akan mengenakan pakaian adat betawi bersama pendamping hidupku kelak.
Dan dalam hitungan hari dihari yang sama, akan ada paes jawa (walaupun mungkin akan di modifikasi) di wajahku.
Aku tidak memilih gaun-gaun yang sedang kekinian saat ini, ingin sebenarnya, namun aku memilih gaun adat yang lebih sakral untuk hari yang sakral.

Percayalah,
Sesungguhnya aku sendiri terkaget-kaget.
Tidak pernah menyangka bahwa waktu begitu cepat berlari membawaku ke detik ini.
Detik dimana aku mulai tidak enak tidur, tidak enak makan, tidak enak berfikir.
Detik dimana aku mulai berdegub tidak karuan, bisikan setan mulai menghantui fikiranku, menakutiku, sedang rayuan malaikat terus memintaku untuk terjaga disaat alarm biologisku berbunyi.
Detik dimana aku lebih banyak mengikhlaskan daripada marah-marah tidak karuan karena sesuatu yang mungkin tidak diharapkan.
Detik dimana aku mulai belajar setiap hari mencintainya melalui do'a-do'a yang ku untai setiap harinya.

Percayalah,
Ternyata waktu ku bilang aku ingin cepat! Tapi Tuhan berkehendak lain.
Dan hari-hari kini terasa cepat.
Padahal dulu saat aku ingin bersegera, ternyata ditengah menuju "danau segera", akhirnya banyak kejadian yang aku alami dan membuat aku berfikir.

Percayalah,
Saat detik-detik hari siger itu tiba, rasanya aku ingin mengulang hari dimana hatiku dipinta.
Bersama keluarga terdekat, haru itu lebih terasa.
Tenang, meskipun sebelumnya aku harus berlari dan bersembunyi dari kejaran awak masinis karena aku terlalu (lagi-lagi) banyak fikiran sehingga aku salah rute.
Bahagia, walaupun sungguh sebenarnya hari setelah itu aku harus berusaha keras menghindar dari berbagai fitnah yang dapat mengacaukan detik-detik saat ini.
Indah, walaupun tidak ada satu dekorasi pun di rumah saat itu. Jangan kan di rumah, di parasku saja tidak.

Percayalah,
Tidak bisa kusebutkan dengan banyak kata ketika akhirnya ia yang meminangku.
Aku bahkan seketika terhenyak, mengingat petuah-petuah Kyaiku dulu saat hari lahirku yang ke dua puluh dua. Aku meminta padanya mohon didoakan. Dan Kyaiku selalu mendoakan santri-santrinya doa khusus, yaitu doa segera melepas lajang.
Hari itu beliau berkata, "mudah-mudahan entuk sing ganteng koyo bapak". Aku terhenyak! Lalu beliau meralat, "yo wes sing penting sholih nggeh nduk!". Maka aku amini.
Mudah-mudahan bukan hanya namanya, tetapi akhlaknya juga kelak sholih terhadap istrinya, yaitu aku.
Dan mudah-mudahan dia adalah jawaban dari do'a-do'a yang aku pinta kepada Yang Maha Pemberi Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah.

Percayalah,
Aku hanya ingin hari ketika ada siger di kepalaku, dan hari itu adalah hari yang berbahagia untuk semua, dan begitu juga setelahnya.

0 Comments:

Post a Comment