BUNTELAN CINTA PERTAMA

Ini adalah jurnal yang aku tulis tentang kehamilan pertamaku. Karena aku yakin, setiap kehamilan memiliki cerita manis yang berbeda-beda. Dan setiap ingatan, meski kita mengingatnya dengan sangat kuat untuk dikenang, lambat laun akan memudar, yang membuat ia terkenang dengan manis hanyalah sebuah tulisan.




Trimester Pertama

Trimester Pertama masa kehamilan biasanya dihitung sejak usia kandungan 0-13 weeks. Tentu seperti pada umumnya setelah menikah, salah satu do'a yang terus dirapal adalah segera dianugerahi keturunan yang baik. Setelah menjalani pernikahan jarak jauh selama 3 bulan dan 3 bulan selanjutnya kami akhirnya bisa hidup seatap. Alhamdulillah, menginjak usia pernikahan yang ke 6 bulan, saat mengetahui bahwa aku sebentar lagi akan memasuki siklus haidku, aku dan suami sudah mewanti-wanti saling menunggu-nunggu apakah akan terjadi siklus haid seperti biasanya, ataukah ada yang berbeda. Biasanya aku mengalami masa suci setelah haid hanya sekitar 21-22 hari. Memang sangat sebentar. Menjelang sebulan tidak haid, konsentrasi kami terhadap tamu datang bulan terbuyarkan dengan adanya gangguan pada gigiku. Awalnya aku merasa gigi gerahamku dibagian sebelah kanan sering nyut-nyutan, lambat laun gusinya membengkak sampai gusi tersebut mulai menimbulkan nanah dan membuatku tidak enak mengonsumsi apapun. Akhirnya setelah meminum paracetamol tidak mempan, barulah kami berinisiatif ke dokter gigi di RSGM.

Aku yang jarang sekali mengalami sakit gigi, pun kalau aku sakit gigi biasanya ayahku yang mengobatinya dan langsung sembuh, akhirnya mau tidak mau harus memeriksakan gigiku yang terbilang cukup terawat. Sebelum di rontgen, aku bilang kepada petugas yang berjaga hari itu bahwa aku sedang promil (program hamil). Sebenarnya sih itu hanya sebuah alasan yang masuk diakal agar ia lebih berhati-hati. Karena tentu millenial parents tau bahwa ada tindakan khusus untuk ibu hamil dimanapun mereka berada. Petugas sempat bertanya sudah telat berapa bulan (sambil melihat wajahku yang terlihat masih seperti bocah, dan perutku yang masih rata), tapi kujawab saja baru telat beberapa hari. Akhirnya ia memberikanku baju rontgen untuk ibu hamil. Yang di rontgen bagian mukanya tapi yang dikasih pelindung mulai dari bahu ke lutut, dan itu sumpah bajunya berat banget! Belum lagi ga bisa dipakai sendiri, harus dibantu orang lain untuk memakainya.

Akhirnya setelah di ruang rontgen selesai, aku dan suami menunggu panggilan untuk kontrol. Setelah menunggu cukup lama, setelah dzuhur kami mulai berkonsultasi. Hari itu dokter gigi yang bertugas melayani kami adalah dokter gigi residen berinisial RH. Saat membaca hasil rontgen, drg.RH bilang bahwa ada gigi tumbuh disamping gigi gerahamku padahal gigiku sudah tumbuh sempurna, tidak ada gigi yang belum tumbuh. Dan drg.RH menyarankan untuk mencabut gigi yang lama (yang gusinya bengkak dan bernanah) agar gigi yang kecil ini bisa tumbuh dan menggantikan yang lama. Mengingat aku sedang (anggap saja) promil, dan sudah telat datang bulan meskipun belum dipastikan minimal testpack, dan katanya ibu hamil tidak boleh diberi tindakan gigi karena membahayakan janin, akhirnya aku sampaikan kepada drg.RH tentang kecemasanku. drg.RH sempat merasa bingung, di satu sisi ingin ikut bahagia dan di sisi lain merasa kasihan kalau aku terus-menerus merasa sakit dibagian gigiku.

Konsultasi selesai setelah drg.RH bilang bahwa aku harus memastikan kehamilanku. Jika benar aku hamil, "selamat atas kehamilannya" ucapnya waktu itu dan tentu tidak boleh ada tindakan (meskipun sebenarnya dia rada keukeuh mau memberikan tindakan karena merasa mumpung masih usia kandungan muda, kalau di nanti-nanti kan bisa memakan waktu lebih lama, anggap saja 9 bulan mengandung di tambah 2 tahun menyusui) dan hanya memberikan obat paracetamol serta amoxcilin untuk diminum sesuai resep. Jika aku tidak hamil maka minggu depan aku dijadwalkan untuk tindakan yang artinya aku harus operasi gigi. Pulang dari rumah sakit, kami membeli testpack untuk esok harinya menguji kandungan urine ku. (Tes urine lebih dianjurkan saat pagi hari setelah bangun tidur dimana konsentrasinya masih belum tercampur oleh apapun intinya kurang lebih begitu deh).

Keesokan harinya sebelum sholat shubuh kami menunggu hasil testpack sambil harap-harap cemas. Temanku bilang kalau menunggu jangan dipantengin mending ditinggal ngapain dulu gitu. Akhirnya selesai sholat shubuh kami melihat dua garis di stick tespack yang kami beli, itu tandanya aku positif hamil. Walaupun garis ujinya sangat tipis, tidak seperti garis kontrolnya. Akhirnya kami mengabarkan ke drg.RH via whatsapp bahwa aku positif hamil. Namun ternyata drg.RH menginginkan dari hasil USG bukan hanya testpack. Akhirnya malamnya kami pergi ke tempat praktek dokter kandungan terdekat. Alhamdulillah ternyata kami bertemu dengan dokter kandungan yang sudah sangat berpengalaman, beliau berinisial dr.P, Sp.Og. Beliau bilang bahwa sakit gigi pada ibu hamil adalah wajar, maka tidak perlu diberikan tindakan. Beliau hanya menyarankan kami untuk berkumur air garam. Dan tetap memberikan sugesti yang baik bahwa kalau sudah positif hamil dari testpack sudah 95% hamil meski janin kami belum terlihat (karena baru terlihat jaringan kehamilan). Selanjutnya kami disarankan untuk kontrol kembali setelah 2 pekan (kemungkinan sudah terlihat janinnya, dan selang dua pekan memang sudah terlihat janin kami).

Saat pertama kali periksa kehamilan dan mengetahui bahwa Hari Perkiraan Lahir (HPL) janinku berdekatan dengan hari lahirku, yang aku rasakan adalah sangat campur aduk. Di satu sisi merasa sangat menyenangkan mengetahui hal itu, namun di sisi lain terasa sangat menegangkan bagai bertaruh nyawa jika mindset-ku masih seperti cerita-cerita proses melahirkan yang "menyeramkan". Untungnya dari sebelum aku hamil, aku sudah sering bertanya-tanya kepada teman-temanku yang sudah mengalami masa ini, sehingga mereka banyak memberi masukan yang baik seperti mengubah pola pikir, mengikuti sosial media tentang gentle birth, hypnobirthing, dan sejenisnya. Aku juga belajar dari awal, apabila ada drama-drama yang mungkin tidak seharusnya terjadi dari cerita-cerita mereka. Karena kehamilan setiap orang berbeda-beda, sebisa mungkin apa yang aku lakukan saat ini adalah sesuatu yang aman dan masih dalam kemampuanku. Maka sedari awal masa kehamilan aku mencoba untuk tetap tenang dan rileks. Aku juga berusaha terus memberikan do'a dan afirmasi-afirmasi untuk kelangsungan proses yang aku jalani saat ini.

Setelah dari dokter kandungan, kami tidak kembali ke RSGM dan aku terus berkumur air garam walau nafsu makanku masih kurang baik. Selang satu sampai dua pekan berkumur air garam, akhirnya gigiku sembuh. Barulah setelah itu aku mengalami gejala morning sickness, yang mana tidak hanya pagi hari aku mengalami mual-mual, tetapi bisa siang hari, sore hari, bahkan menjelang tidur malam. Bahkan sempat 2-3 kali aku mengalami feses berdarah karena mendadak fesesku kurang baik padahal selama bersama suami, aku termasuk sering mengonsumsi makanan berserat.

Pada fase ini, aku sempat merasa begah, mual berkepanjangan sampai aku tidak enak makan apapun. Seingatku, yang bisa aku makan hanya roti tawar tanpa diberi apapun, air putih hangat, sesekali jagung, arem-arem, buah apel, buah jambu (dibuat jus), buah semangka dan bubur kacang hijau. Lebih senang nggrogoti jagung daripada makan nasi. Kepinginnya bisa makan yang berkuah-kuah segar seperti sayur bening yang masih hangat, sayur asem, bakso atau ramen. Memang seringnya sehabis makan kemudian dimuntahkan kembali, tapi ya memang seperti itu. Akhirnya aku mencoba melihat youtube dan untuk menghilangkan begah seperti rasa masuk angin aku melakukan yoga yang aman dilakukan untuk ibu hamil dengan usia kandungan muda. Tapi banyak teman yang menyarankan untuk tidak melakukan yoga sebelum usia kandungan minimal 20 weeks ke atas. Aku pun menghentikannya untuk dilakukan lagi nanti setelah kandunganku masuk trimester 2 akhir. Namun mualku masih terus berkepanjangan. Dulu waktu aku masih di Jakarta, jika aku merasa tidak enak badan, begah, dan mual, aku pastikan untuk mengonsumsi air kelapa serat merah. Akhirnya aku coba untuk meminum itu kembali dan berhasil! Betapa senangnya beberapa hari bisa kembali makan "enak". Yaaaa walaupun masih ada mual-mualnya tapi tidak separah sebelumnya. Dan aku hanya minum sekali karena kata teman-temanku sebaiknya jangan minum kelapa serat merah untuk usia kandungan muda, lebih baik jika ingin kelapa ya air kelapa muda (degan) saja.

Sebenarnya mual-mual tersebut wajar bagi ibu hamil, karena tentu ada perubahan hormon dan sejenisnya. Tapi yang namanya kepengen bisa makan enak kan yaaa gimana lagi. Akhirnya baru setelah itu aku minum susu ibu hamil yang khusus untuk meringankan rasa mual. Dan itu cukup efektif jika aku meminum susu tersebut sebelum makan.

Masih dalam masa trimester pertama, rasanya aku ingin sekali pulang ke Jakarta. Akhirnya setelah dirasa cukup sehat, sekitar 2-3 minggu setelah check up, sebelum ramadhan, aku pulang ke Jakarta. Di bandara baik selama perjalanan pergi maupun pulang kembali, aku sempat ditanya apakah sedang mengandung, tapi karena malas untuk pengecekannya, aku menyangkalnya.


Entah mengapa selama di Jakarta badanku tiba-tiba merasa segar dan lebih sehat. Memang masih mual-mual dan muntah, tapi frekuensinya tidak sesering saat bersama suami di Magelang. Suamiku sempat berkata, "ya sudah kalau malah seger di sana mending di sana aja dulu (dalam jangka waktu yang lama). Lagian di sini juga kondisi Gunung Merapi masih belum stabil". Tapi aku hanya berkunjung sampai 7 hari pertama bulan Ramadhan.


Selama di Jakarta, nafsu makanku meningkat. Aku dengan mudah mengonsumsi banyak makanan kesukaanku walaupun dengan porsi yang sedikit-sedikit namun sering, seperti gado-gado, ketoprak, tekwan, nasi padang, nasi uduk Ci Mbot dan kawanannya, seblak dan soto tangkar. Pernah juga memakan durian (porsi ibu hamil ya!). Sampai-sampai kakakku bilang makan terus (karena yang lain merasa sudah terlalu kenyang). Selama di Jakarta juga aku sangat fit untuk ibu hamil trimester pertama dalam hal wira-wiri. Bahkan saat berziarah wali di Banten dan pulangnya mampir ke Pantai Anyer pun aku hanya merasa mual sesaat dan selebihnya janinku mampu beradaptasi.


Memasuki bulan Ramadhan, ibu sudah mewanti-wanti aku untuk berusaha puasa sebulan penuh. Aku juga menginginkan hal itu, rasanya waktu di rumah bersama suami sudah membayangkan bisa puasa sebulan penuh. Padahal saat itu merasa tidak yakin karena kondisiku masih mual begah yang sangat tidak mengenakan badan. Namun akhirnya mengikuti jejak ibu (dulu kata ibu, saat ibu mengandung anak-anaknya, jika bertemu dengan bulan Ramadhan, ibu pasti tidak bolong satu pun puasanya), akhirnya aku memulai sahur pertamaku. Bismillah, sambil minum air kelapa serat merah, hehe. Aku merasa jika aku yakin, maka janinku akan baik-baik saja atau mendukung ibunya.


Hari-hari selama Ramadhan aku lalui dengan banyak ujian. Awal-awalnya aku hanya berdiam diri; tidur-tiduran, sholat, tadarus, main ludo tanding dengan kakakku. Tapi hari-hari selanjutnya aku harus terbiasa melakukan aktivitas hingga menjelang Idul Fitri. Saat berpuasa, yang paling terkenang ada beberapa momen, yaitu ketika aku melakukan tes kesehatan untuk ibu hamil (ambil darah), pergi menemani suami ke Tulung Agung, dan mencium aroma beberapa bumbu dapur.


Tes kesehatan sengaja aku lakukan di Jakarta. Namun ternyata aku harus mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya dalam keadaan berpuasa. Ini membuatku sangat lemas dan linglung, kepalaku terasa berputar dan penglihatanku serasa buram. Tapi aku tetap berusaha untuk tenang sampai akhirnya aku pulang ke rumah dan di rumah aku langsung merebahkan diri agar aku tidak membatalkan puasaku mengingat beberapa jam lagi sudah adzan maghrib. Akhirnya hari itu usai dan puasaku aman.


Selama puasa di Jakarta, aku sering membeli makanan untuk ta'jil yaitu Pacar Cina, karena tidak ada yang menjual Pacar Cina baik di Jogja maupun di Magelang. Akhirnya aku kembali menemani suamiku.


Beberapa hari setelah kembali, suamiku mendadak mengajakku menemaninya pergi ke Tulung Agung. Ya, dari pada aku ditinggal sendirian di rumah, lebih baik aku ikut serta, walaupun kami pergi dalam keadaan puasa dan dengan berkendara motor, hihi! Sebenarnya saat perjalanan tidak masalah, karena kami memulai perjalanan saat menjelang adzan maghrib dan begitu pun sebaliknya saat kembali ke rumah. Hanya saja yang tidak mengenakan adalah saat di hotel, menu sahur yang kami makan semuanya berminyak, tenggorokanku seperti panas dalam, sangat mengganggu kenyamanan dalam berpuasa, bahkan sampai kembali ke Jogja. Akhirnya sampai di rumah karena merasa lemas dan tidak enak badan, keesokan harinya kami langsung check up. Tensiku rendah, namun semua rasa sakit hilang ketika melihat janin kami dengan sehatnya berupaya menendang-nendang perutku. Indah dan bahagia sekali memiliki anak yang kuat dan cepat beradaptasi dalam keadaan apapun. Saat itu usianya genap tiga bulan. Dan genap sudah perjalanan trimester pertama janin kami dengan sangat penuh warna.


Bulan Ramadhan masih terus berlanjut, dan terkadang selama menyiapkan menu buka puasa, aku merasa berkeringat dingin dan kliyengan jika mencium aroma bumbu dapur yang sedang di rebus dan terutama buncis. Entah kenapa aku kurang suka buncis, bahkan ternyata selama hamil pun begitu. Namun yang menyenangkan dari puasa kali ini adalah anakku mampu mendukungku untuk berpuasa sebulan penuh. Ternyata menyenangkan sekali di usia yang sudah dewasa, yang biasanya ada qodho puasa karena ada tamu datang bulan, namun kini bisa berpuasa satu bulan penuh, di tambah lagi puasa tersebut diniati untuk tirakat si kecil yang masih berada di alam kandungan. Menjelang akhir bulan puasa, maka anak kami yang manut ini akhirnya memasuki jenjang berikutnya yaitu Trimester Kedua.



Trimester Kedua.


Kata banyak ibu hamil, ini adalah trimester surga. Dimana ibu hamil sudah berkurang mual-mualnya, sudah bisa makan enak, bisa kesana-kemari dengan perut yang belum begitu besar. Tentunya lagi karena trimester surga maka ibu hamil bisa babymoon di minggu-minggu ini. Tetapi aku merasa sudah babymoon sejak usia kandungan anakku jalan 3 bulan, hihi. Dan apa yang aku tulis adalah benar seperti yang aku rasakan. Mual-mual berkurang, nafsu makan kembali normal. Saat memasuki awal trimester kedua, rasa sakit yang aku rasakan (saat ini) hanya sedikit migrain dan gejala flu. Karena tidak boleh mengonsumsi obat, maka yang aku lakukan untuk migrainku adalah istirahat dan tidak ingin terlalu lelah. Sedangkan untuk gejala flu aku berusaha untuk meminum air hangat, larutan penyegar, dan madu murni serta jeruk hangat. Entah mengapa selama hamil aku merasa malas mengonsumsi jeruk seperti biasanya, aku lebih senang mengolahnya menjadi minuman.

Mulai trimester 2 ini, karena sudah memasuki usia 4 bulan maka kami pun melakukan tradisi mapati atau empat bulanan ala kadarnya bersama anggota keluarga yang ada pada saat itu, yaitu aku, suamiku, bunda, dan mba djihan. Kemudian sesuai amalan dari ayahku, kami membaca tawasul, surat-surat penting (Yusuf, Maryam, Lukman, Yasin kemudian ditambahi dengan surat Ar-Rahman, Al-Waqiah, Al-Mulk, Muhammad, Al-Jumu'ah, Al-Hasyr, Al-Fath, Al-Mu'minun) serta do'a pada surah Ash-Shaffat ayat 100 yang berbunyi "Robbi habli minash-sholihin" kemudian dilanjutkan dengan tahlil dan ditutup dengan do'a. Meski begitu, keluarga di Jakarta juga melakukan acara 4 bulanan untuk janin kami. Terima kasih semuanyaaa :)


Awal minggu-minggu trimester ini bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, tentu kami bertemu banyak sekali keluarga. Pastinya pertanyaan tahun ini bukan lagi kapan selesai kuliah, mana calonnya, kapan nikah, udah kerja belum, kerja dimana. Pertanyaan tahun ini bagi mereka yang belum mengetahui kabar kehamilanku pasti bertanya dengan pertanyaan sejenis "sampun diparingi dereng?" "nembe angkatan po?" dengan bahasa sejenisnya yang intinya "udah isi/hamil belum?". Bagi mereka yang sudah mengetahui kabar kehamilanku akan bertanya, "kok belum kelihatan?". Hampir 75%! Bahkan pertanyaan itu masih berlanjut sampai di Halal Bi Halal dan setelahnya. Tapi kusikapi dengan senyum dan santai saja. Dari tahun-tahun sebelumnya pun, pertanyaan apapun di saat Idul Fitri, aku tidak pernah menyikapinya dengan sewot. Karena aku tahu setiap orang memiliki timing-nya sendiri-sendiri. Waktu ditanya seperti itu aku berfikir, ah santai aja, banyak ibu hamil yang senasib denganku. Bahkan di usia kandungan 6 bulan pun terlihat seperti 4 bulan yang artinya belum kelihatan. Kalau public figure seperti Sandra Dewi, kalau teman-teman di WAG Mahmud (Mamah Muda) (Anggota grupnya adalah alumni komplek 5 PPSPA yang sudah diberi anugerah hamil dan menyusui. Syarat masuk grup ini harus sudah positif hamil atau menyusui) ternyata juga banyak. Jadi aku santai saja. Tapi ternyata setelah check up yang kesekian, kali itu aku sengaja check up di bidan, setelah itu aku mulai berfikir dan harus mencari timing kapan aku akan mengalami belly bump seperti ibu hamil pada umumnya.


Hal ini bermula ketika sehabis lebaran, tentu ada liburan cuti bersama. Karena tahun ini aku tidak mudik kemana-mana, baik ke Jakarta maupun ke Samarinda, dan hanya mengikuti perayaan pertama di Magelang, maka keluargaku di Jakarta berinisiatif setelah lebaran di Jakarta, mereka berlibur sekaligus mudik dengan melakukan perjalanan dari Jakarta, mudik ke Majalengka, kemudian mampir ke Magelang dan berlibur di Malang. Tapi rencana ke Malang belum terealisasi karena pertama macet ada dimana-mana, yang kedua kondisi kakakku tidak fit untuk mengendarai mobil. Akhirnya mereka memutuskan untuk berlibur di Magelang dan Jogja. Tentu saja liburan kami diisi dengan ziarah ke Makam Mbahyai Mufid, Wisata Kuliner, Karaoke, dan Wisata Alam (Taman Dewari dan Pantai Gunung Kidul). Saat berwisata ke pantai Gesing dan bermain ombak, aku sempat kehilangan keseimbangan dan terjatuh duduk karena terseret gelombang ombak, saat itu tidak merasa pegal. Sempat khawatir juga takut kenapa-kenapa. Tapi saat bilasan tidak ada bercak apapun maka aku berfikiran yang baik-baik saja. Baru setelahnya, selang beberapa hari aku merasa badanku pegal-pegal di sekitar punggung. Aku sempat bertanya di grup dan temanku lainnya tentang kapan ibu hamil mulai merasa sakit punggung. Kebanyakan dari mereka menjawab usia kandungan hamil tua atau pun trimester 2  akhir. Aku sempat berfikir, duh, masa baru trimester 2 awal udah boyoken gini sih. Setelah aku ingat-ingat, sambil terus dibantu pijat cinta oleh suami yang baik hati agar tidak terlalu terasa sakit, akhirnya aku ingat akan hal itu. Yaaa, aku sempat terjatuh saat bermain ombak. Akhirnya aku memutuskan, check up selanjutnya aku harus ke bidan.


FYI! Selama hamil, setiap bulannya jika jadwal check up, aku sengaja memilih provider yang berbeda-beda. Alasannya adalah, mumpung masih awal-awal kehamilan, aku harus tau provider mana yang pro dengan kehamilan normal dan tidak. Karena tidak sedikit nakes yang sukanya menakut-nakuti, dan aku pernah bertemu dengan yang seperti itu (saat menderita gejala penyakit XYZ). Dikit-dikit nakutin, harus operasi, inilah itulah, akhirnya aku periksa di nakes yang lain ternyata disarankan berlainan yang sarannya sependapat dengan yang aku rasakan. Selain itu, dengar-dengar "katanya" kalau periksa di bidan itu lebih banyak konseling dan ilmu kehamilan yang di dapat dari pada di dokter. Kalau bidan lebih banyak memberi masukan, sedangkan di dokter kandungan kalau tidak ditanya ya tidak diberi masukan apa-apa selama kandungan dilihat sehat dan normal. Tapi ya, yang aku alami memang ternyata ada benarnya. Walaupun sejauh ini dokter kandungan yang aku temui alhamdulillahnya mereka semua sangat berpengalaman, walau sudah sepuh masih berkenan membantu persalinan yang tentunya pro kelahiran normal (hasil observasi cerita dari sepupu yang kebetulan pasien yang ditangani oleh dr.P, Sp.Og). Wallahu a'lam.


Saat periksa di bidan, walau kondisi janinku di usia 4 bulan terbilang normal dari berat badan dan panjangnya, detak jantungnya, gerakannya, posisinya tidak masalah meski masih melintang karena masih usia kandungan muda, namun bidan menganjurkanku untuk tetap terus menambah berat badan untuk perkembangan janin yang lebih optimal dan untuk kedepannya memiliki tenaga yang cukup pada saat melahirkan nanti. Karena yang diharapkan adalah ibu dan janin sehat dan selamat hingga proses melahirkan dan menyusui. Karena berat badanku sudah naik 2-3 kg dari berat badan sebelumnya, maka aku pun diberi saran untuk menaikan berat badan 6-9 kg. Agar nutrisi yang terserap tidak hanya untuk anak, melainkan untuk ibunya juga. Itu masukan yang aku dapat mengenai belly bump-ku setelah aku iseng bertanya pada bidan, "ko udah banyak makan, nafsu makan sudah ada lagi, tapi susah naikin BB ya mba?".

Kemudian untuk keluhanku mengenai jatuh di pantai kemarin, bidan tidak menyarankan untuk dipijat dan tidak masalah jika aku melakukan yoga. Tapi bidan tersebut menyarankan untuk menggunakan korset hamil dan memberikan resep obat untuk nyeri yang aku rasakan. Obat tersebut dikonsumsi selama masih merasakan nyeri, jika sudah tidak nyeri langsung dihentikan dan jika belum ada kemajuan lebih baik pergi ke fisioterapis daripada ke tukang pijat. Tapi aku tidak meminum obat tersebut karena setelah aku telusuri di mbah google, obat-obat yang diberi bidan hanya obat pereda rasa nyeri bukan obat yang diperuntukan untuk menghilangkan rasa sakit yang aku rasakan (yang artinya nyeri tersebut bisa saja akan datang kembali saat aku sudah tidak meminum obat). Mbakku yang saat ini sedang mengandung juga bilang tidak usah khawatir, karena sebelumnya ia juga sempat terjatuh di kamar mandi dan alhamdulillah kandungannya tidak masalah sampai akhirnya sang bayi launching.

Selepas lebaran, akhirnya bellybump yang awalnya belum terlihat lambat laun semakin membesar dan menarik tulang-tulangku sehingga sering kali terasa sakit terutama dibagian panggul dan tulang ekor. Aku juga mulai memilah-milih baju mana yang harus aku pakai karena beberapa sudah tidak pantas dipakai selama hamil terutama celana-celana bahan yang entah kenapa selama hamil aku lebih senang dengan pakaian sejenis longdress dan celana bahan untuk pasangan baju potongan. Karena setelah lebaran sahabatku Vani akan melangsungkan pernikahan, maka sebelum berangkat menghadiri acaranya, aku kembali melakukan check up sekaligus meminta surat keterangan hamil agar selama perjalanan dimudahkan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.


Awalnya aku dan suami ingin check up kali ini di tempat praktek dr.P, Sp.Og. Namun sayangnya beberapa hari menjelang keberangkatan kami menuju Bandung beliau berhalangan dan tidak bisa melayani pasien yang akan periksa kehamilan. Akhirnya kami memutuskan periksa di dr. HS, Sp.Og di RSIA Aisiyyah Muntilan. Karena selama hamil tensi darahku selalu rendah, maka beliau memintaku untuk kembali ambil darah memastikan kadar dalam kandungan darahku normal. Walau begitu beliau hanya menganjurkanku untuk banyak istirahat saja alias tidur; karena hal tersebut normal ketika hamil dimana terjadi pengenceran darah karena ada pendistribusian nutrisi yang tidak seperti biasanya (hanya untuk diri sendiri) yaitu untuk ibu dan untuk janin. Alhamdulillah hasil dari tes darah tersebut masih normal dan aku pun mendapatkan surat keterangan hamil yang kubutuhkan untuk selama diperjalanan nanti. Namun sayangnya, agak sedih karena beliau terburu-buru ada jadwal menguji mahasiswa, maka kmi pun tidak bisa periksa dengan waktu yang cukup untuk mengetahui jelas jenis kelamin anak kami. Padahal saat itu posisinya sedang bagus, yaitu kepala berada di bawah (panggul). Dan sebalnya beliau mencetak hasil usg saat gambarnya hanya terlihat dari atas (bagian kepala). Untung saja sebelum periksa, aku sudah mewanti suamiku untuk merekam hasil usg selama pemeriksaan berlangsung. Jadi kami masih bisa berbesar hati dengan melihat ulang hasil rekaman jika sewaktu-waktu rindu.


Perjalanan menuju Bandung pun dimulai. Kami menggunakan jasa kereta api untuk perjalanan kali ini. Sudah sejak dini kami mendidik anak kami untuk berpergian, dan berpergian ala backpacker. Di mana perjalanan tersebut berkomposisi sedikit manja, banyak mengandalkan keberuntungan dan relasi. Sayangnya ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Aku berkali-kali mencari posisi duduk yang nyaman tapi sulit. Sepanjang perjalanan aku merasa pegal-pegal. Akhirnya kereta sampai juga di stasiun Kiaracondong dini hari saat gerhana bulan berlangsung. Kami melihat fenomena alam tersebut dari jalan raya kota Kembang yang sementara dipakai untuk pasar induk setiap malamnya sambil menunggu mobil ojol yang akan mengantarkan kami ke penginapan yang sebelumnya sudah dipesankan oleh Vani untuk kami berdua (maturnuwun Ndoro, akhirnya tanpa disadari kamu jadi ngasih hadiah penginapan di Bandung ya, hihi. Niatnya buat honeymoon tapi kepakainya pas babymoon). Agak lama kami menunggu karena memang sebagian daerah di Bandung masih sangat sensitif apabila berhubungan dengan ojol dan opang.


Sampai di penginapan kami sholat gerhana bulan dan menunggu shubuh. Setelahnya baru kami beristirahat di tengah dinginnya suhu kota Bandung saat itu. Namanya trimester dua, dimana nafsu makan pas enak-enaknya dan cepat sekali laparnya, setelah cukup beristirahat kami menuju tempat makan yang sudah disediakan oleh penginapan dan tentunya makan besar sebelum bersiap mengitari Bandung :D


Karena aku sudah paham bahwa rute jalan di Bandung selalu macet (apalagi saat akhir pekan) meski angkutan umumnya tergolong stand by 24 jam, kami memutuskan untuk menyewa motor milik Royan (adik kelas di MASPA yang saat ini kuliah di Bandung) untuk keperluan transport selama di Bandung. Itu sangat memangkas biaya dan waktu lho! Sambil menunggu motor datang, kami menghabiskan waktu dengan berjalan di Sky Walk menuju Cihampelas Walk. Setelah cukup waktu, cukup lelah juga, dan motor tiba, akhirnya kami menuju ke rumah calon pengantin yang sedang me time before the day. :D


Dari sana kami berangkat menuju Setiabudhi untuk pindah penginapan. Setelah menaruh semua barang, akhirnya kami mencari wisata alam terdekat. Ada beberapa, namun yang kami tuju adalah Floating Market. Biaya masuk perorangnya 25rb dan ada banyak jajanan di sana. Tapi tujuan kami adalah maternity photoshoot ala ala :D Jadi jelas kami lebih banyak mencari spot-spot bagus dibandingkan mencoba jajanan yang yah sudah terlalu sering kami makan; gulali, mendoan, dll. Setelah maghrib kami kembali ke penginapan alias rumah calon manten dan beristirahat untuk keesokan harinya karena kami berniat datang saat akad dan resepsi.


Paginya sebelum berangkat ke Dago untuk menghadiri acara, kami kembali melakukan maternity photoshoot ala ala. Setelah itu barulah kami berangkat menuju Dago. Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar. Setelah selesai resepsi, kami menuju Rabbit Town, wisata selfie nya Bandung. Apalagi yang dilakukan kalau bukan foto-foto. Perorangnya dikenakan biaya 65rb untuk masuk kesana dan ada paket lengkap 100rb perorang. Saat aku tanya yang paket lengkap itu tambahannya hanya sekedar bisa memberikan makan ke binatang yang ada di sana. Kami pun mengambil yang paket 65rb hanya karena untuk menghilangkan rasa penasaran saja, karena tempat wisata yang satu ini sempat heboh di sosial media. FYI buat millenial parents yang mau kesana, pastikan membawa kaos kaki ya!


Setelah dari sana kami ke Cihampelas Walk  berganti baju dan makan di Platinum untuk kembali jalan jalan ke Jalan Braga dan Alun Alun Bandung; kalau di Jogja seperti 0 km nya Bandung. Ada banyak teteh-teteh dan aa aa yang menggunakan berbagai macam kostum. Setelah lelah, beristirahat sejenak di alun-alun Bandung dan kemudian kembali ke penginapan.


Pagi sampai Siang hari sebelum berangkat ke stasiun, kami sempatkan diri untuk membeli sedikit oleh-oleh dan kulineran. Menu kuliner yang kami tuju ada cuangki, es kocok Bandung, mie kocok Persib, dan es durian. Sayang yang belum sempat dibeli adalah es kocok Bandung karena penjualnya hari itu ditunggu-tunggu tidak datang, biasanya bapaknya mangkal di Masjid Besar Cihampelas. Akhirnya kami menuju stasiun dan mengembalikan motor yang kami pinjam. Pertama kali itu pula, saat menunggu kereta datang, aku baru merasakan yang namanya kaki bengkak saat hamil. Kata ibuku itu terlalu banyak kandungan air di kaki dan posisi kaki menggantung (tidak njejek). Kereta pun tiba dan akhirnya kereta kami berangkat menuju Jakarta.


Untungnya perjalanan Bandung-Jakarta tidak selama Yogyakarta-Bandung, sehingga walaupun aku merasa pegal, tapi aku masih bisa menenangkan diri dengan sugesti "sebentar lagi sampai, sebentar lagi sampai". Sesampainya di Jakarta, kami langsung menuju rumah dan beristirahat karena esok harinya aku dan suami harus mengelilingi Pasar Pagi dan Tanah Abang untuk survei seragam persiapan pernikahan Mas Adam dan Mba Sely. Karena ada urusan yang tidak bisa ditinggal terlalu lama, maka suamiku pulang ke Magelang lebih awal sedangkan aku masih harus di rumah mengurus perpindahan domisili, perpanjangan STNK, dan lain-lain.


Memang sering aku dengar dari beberapa teman perkataan seperti, "Nanti juga kalau anaknya lahir KK nya berubah lagi". Memang dan sudah seharusnya seperti itu. Tapi ketahuilah millenial parents, hal-hal yang menyebabkanku harus membuat KK sebelum anakku lahir adalah:

1. Mumpung ada waktu dan diberi kesempatan mudik lama
2. Mumpung masih bisa wira-wiri sendiri
3. Mumpung segala proses pengurusannya masih dimudahkan
4. Mumpung biaya transportnya masih bisa diminimalisir

Ketahuilah, kalau membuat KK setelah anakku lahir, tentu segala sesuatunya akan lebih membengkak dan harus dipersiapkan lebih matang. Dari segi waktu, tidak mungkin aku dan suami bisa mengurus perpindahan domisili setelah anak kami lahir. Padahal kepemilikan KK setelah berkeluarga dan memiliki anak adalah hal primer untuk berbagai macam keperluan administrasi negara. Kebanyakan orang tua baru berani membawa Newborn pergi jarak jauh minimal setelah usia anak 3-4 bulan. Tentu membawa bayi yang baru lahir tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku juga tidak ingin jika kelak mengurus perpindahan domisili tidak ditemani oleh suami jika sudah ada bayi yang masih harus mengonsumsi ASI Eksklusif. No way! Dengan alasan apapun. Selain itu, karena mengurus perpindahan domisili tidak sekedar membutuhkan waktu 1-2 hari, maka jelas suamiku harus meluangkan waktu lebih banyak dan itu akan memakan biaya lebih besar. Tidak hanya itu, Jakarta-Magelang tidak sedekat Magelang-Yogyakarta. Kalaupun memang sedekat itu, mungkin kami akan mencuri-curi waktu di sela-sela kesibukan kami. Tetapi faktanya kalian tahu sendiri bukan? Setiap pilihan selalu ada konsekuensi yang harus diterima dan tentunya itu sudah kami fikirkan dengan baik. Lagi pula setelah Kartu Keluarga kecil kami jadi, aku dan suami menjadi lebih tenang karena persiapan kelengkapan berkas administrasi untuk sang anak sudah semakin lengkap dan kelak setelah anak kami lahir mengurus akte dan merubah KK bisa kapan saja. Toh rumah kami dengan kantor-kantor pelayanan terkait tidak sejauh Magelang-Jakarta, hehe. :) Selama di Jakarta, Teh Tia selalu mengantarku untuk mengurus segala persyaratan administrasi ini, terima kasih Bude :*


Bayi dalam kandunganku kian hari kian aktif. Tendang sana, cegukan disini. Aku fikir posisinya masih sama seperti terakhir kali USG, namun ternyata posisinya berubah melintang dengan kepala di bagian perut sebelah kiri setelah aku kembali ke Magelang dan  melakukan pemeriksaan rutin bulanan. Karena terakhir check up aku masih penasaran oleh jenis kelamin anakku, maka selama di Jakarta aku ingin sekali melihat anakku dari USG 4D, kata temanku di Jabodetabek ada klinik yang biaya USG 4D nya cukup terjangkau. Setelah aku cek memang ada, tetapi jauh dari rumah. Karena aku masih bersikeras ingin USG 4D yang terjangkau dari biaya maupun jaraknya, akhirnya aku mencari-cari informasi. Namun sayangnya jauh bara dari api. Klinik terdekat dari rumahku saja USG 2D biayanya 250rb-300rb belum dengan vitamin :D


Dan setelah aku fikir baik-baik, aku kembali mencoba bersikap realistis, akhirnya aku memutuskan untuk tidak memaksakan diri untuk melihat anakku dari hasil USG 4D. Hal tersebut dikarenakan, setelah aku melihat hasil USG 4D milik teman-temanku yang melakukannya, aku fikir hasilnya akan sama saja. Walau wajahnya terlihat namun tidak terlihat jelas dengan 100%. Selain itu karena bayi masih dilindungi oleh lemak-lemak dan air ketuban, maka kurang lebih hasil gambarnya ya akan lebih banyak dikelilingi oleh lemak-lemak tadi. Selain itu aku juga berfikir, awalnya check up terakhir kami ingin ke dr.P, Sp.Og. Namun karena beliau berhalangan kami berganti tempat dan anak kami tidak ingin menampakan jenis kelaminnya. Dan itu yang sempat membuatku berfikir ulang, "jangan-jangan pas USG 4D juga sama lagi hasilnya, sama-sama ketutupan atau belum terlihat karena si anak maunya di USG sama dr. P, Sp.Og". Akhirnya untuk urusan yang satu ini aku mengikhlaskannya  :)


FYI millenial parents! setiap kota berbeda-beda tarif yang dikenakan untuk check up rutin selama masa kehamilan. Mulai dari 30rb tidak dengan USG sampai dengan 500rb hanya dengan USG 2D dan 1jtan untuk USG 4D. Di Magelang sendiri selama yang aku tau, jika periksa di bidan tarifnya mulai dari 30-50rb namun belum dengan vitamin ibu hamil. Sedangkan periksa di dokter kandungan tarifnya berkisar antara 85rb-90rb belum dengan vitamin ibu hamil. Untuk vitaminnya sendiri jika tidak ada keluhan yang mengharuskan diberi obat, buibu harus bersiap menyediakan minimal 150rb untuk keperluan vitamin perbulannya. Belum jika buibu senang mengonsumsi susu ibu hamil yang rentang harganya berkisar antara 45rb-80rb. Nah, dari perhitungan ini kira-kira sudah bisa dikalkulasi pengeluaran selama hamil 9 bulan kan? Belum dengan ngidam-ngidamnya :D


Selama di Jakarta, jika tidak berpergian mengurus KK dan teman-temannya, atau jika tidak berpergian bersama keluarga, aku mulai melengkapi kebutuhan anakku dengan membeli beberapa peralatan bayi yang aku tau disana terjangkau murah. Alasan aku membeli di Jakarta karena memang sudah dari awal aku ingin membeli di rumah yang harganya jauh lebih terjangkau :D. Untuk biaya pengiriman ke Magelang jangan ditanyakan, karena aku memang sengaja mau mengirim barang-barangku via kereta api dikarenakan saat aku pulang nanti aku hanya seorang diri dan tidak mungkin ibu hamil membawa barang seberat yang sudah aku perkirakan. Saat membeli perlengkapan bayi aku juga sedikit kebingungan jika ditanya oleh penjual bayinya laki-laki atau perempuan, karena memang aku belum mengetahuinya dan berakhir dengan pilihan warna unisex. Tapi ketahuilah millenial parents, ketika kita belum diijinkan mengetahui jenis kelamin sang anak, ternyata hal tersebut sangat membantu dalam hal membeli peralatan bayi. Terutama membantu dalam hal pengiritan :D Aku merasakannya sendiri, aku menjadi tidak kalap mata saat berbelanja di babyshop dan hanya membeli atau mencari peralatan newborn dan busui yang sudah aku buat list-nya berdasarkan review dari akun ig @parentalk.id dan beberapa mahmud yang eksis di youtube.

Waktu di Jakarta, aku ingin sekali berpergian naik KRL. Akhirnya saat mengunjungi rumah temanku di Bekasi, aku berangkat dan pulang naik KRL ditemani oleh adikku. Sebenarnya aku juga penasaran bagaimana tingkat kepedulian penumpang commuter line kepada orang-orang yang membutuhkan kursi prioritas. Ternyata saat aku mengalaminya sendiri, memang ada sebagian penumpang yang bersedia memberikan tempat duduknya saat mengetahui aku hamil dan belum mendapatkan tempat duduk. Petugas yang berjaga juga sangat responsif apabila ada orang-orang yang membutuhkan kursi prioritas. Ada juga yang pura-pura tidur agar tetap bisa duduk selama perjalanan. Bahkan yang lebih parahnya lagi saat aku naik KRL, aku menemukan 4 orang millenials yang sepertinya baru saja mendaki gunung (dilihat dari barang yang mereka bawa) dan mereka duduk di kursi prioritas bahkan ketika aku berdiri karena kehabisan kursi dan tidak ada satu pun dari mereka yang memberikan tempatnya. Seingatku malah yang memberikan ku tempat duduk adalah seorang bapak yang sedang tertidur dan terhenyak bangun kemudian memberikan tempatnya kepadaku. Miris memang, tapi memang kenyataannya seperti itu. Bahkan pengalamanku merupakan hal yang masih dibilang beruntung jika saja millenial parents membaca postingan yang di upload oleh akun drama krl, entah ada ibu hamil muda atau ibu hamil tua yang terdorong sampai terjatuh saat keluar dari gerbong, bahkan bayi yang meninggal karena kehabisan udara selama perjalanan berlangsung. Na'udzubillahi min dzalik.


Saat di Jakarta, aku yang malas-malasan melakukan powerwalk dan bawaannya selalu ingin tidur (jika di Magelang), 75% semua itu lenyap. Aku rajin berjalan kaki dan lebih fit. Aku fikir hal tersebut dikarenakan akses rumahku dengan kuliner yang ada di Jakarta begitu mudah. Jalan 100 meter ke kiri sedikit sudah ada martabak telur, terang bulan, gado-gado, es kelapa muda, es campur, jus dan sup buah. Ke kanan sedikit sudah ada soto tangkar, warteg, pangsit, bakmi, nasi uduk, susu kedelai dan yah masih banyak lagi. Sehingga aku pun senang berjalan, karena setiap berjalan kaki aku mampir membeli menu A, menu B, menu C dan itu membuat berat badanku meningkat cukup signifikan. Berbeda sekali dengan di Magelang yang tetanggaku hanya 1, yaitu Mba Djihan :D. Selain itu penjual jajanan yang aku gemari sulit ditemukan di Magelang karena rumahku berada langsung di pinggir jalan provinsi Magelang-Jogja.


Aku juga senang sekali saat di Jakarta akhirnya aku menemukan bahan sayur asem lengkap dengan melinjo yang masih utuh dan kemudian diolah oleh ibuku (Akhirnya ngidamku terealisasi). Karena di Magelang di pasar Muntilan, penjual bahan sayur asem tidak ada yang menjual melinjo utuh dengan kacangnya, yang ada hanya cangkang atau kulit melinjo. Mungkin isinya sudah dibuat Emping.


Menu-menu yang aku konsumsi selama trimester 2 di Jakarta ada Pangsit, Bakmie, Nasi Padang, Ikan Tongkol (karena di Jogja/Magelang jarang), Jus dan Sup Buah, Martabak Manis, Buah Durian, Sayur Labu, Seblak, Tekwan, Buah Pisang, Pizza, Ayam Kancil, Chubby Chicken, Nasi Uduk dan Lontong Ci Mbot, Burjo, Susu Kedelai, Sop Iga Kambing, Soto Tangkar, Soto Lamongan, Bebek Goreng, Gado-Gado, Ketoprak. Selain itu aku juga mengonsumsi banyak cemilan dan es krim. Hal tersebut dikarenakan keponakanku juga sedang aktif-aktifnya ngemil, jadilah ia partnerku dalam cemil-cemilan.


Banyak yang bilang katanya kalau sedang hamil jangan banyak makan es nanti bayinya lahir dengan berat badan diatas tigakoma. Wahai millenial parents, sesungguhnya itu hanyalah mitos. Yang membuat bayi lahir dengan berat badan diatas tigakoma adalah manis-manisnya itu, bukan esnya. Tapi aku tetap mengonsumsi makanan-makanan di atas dengan alasan anakku masih berkembang dan membutuhkan nutrisi yang cukup. Mungkin jika berat badannya sudah diatas 2.5kg baru aku akan mengurangi konsumsi makanan manis di atas. Karena saat ini belum, maka aku akan terus melakukan usaha yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk anakku.


Berbicara soal mitos pasti erat akaitannya dengan kata pamali atau larangan, kehamilan pertama tentu banyak sekali mitos yang akan millenial parents dengar entah dari mana pun asalnya. Setelah banyak mendengar mitos dari para sepuh, akhirnya saat trimester 2 ibuku mulai berbicara tentang mitos kehamilan yang ditanggapi oleh kakakku. Awalnya aku merasa bagaimana begitu, tapi yah yang namanya ibu hamil, ada benarnya juga, kita tidak boleh gegabah alias sembarangan, karena memang proses kehamilan adalah proses yang sakral dimana seorang ibu tidak hanya bertugas sebagai media atau tempat tinggal untuk sang janin selama di alam kandungan, tetapi lebih dari itu, karena apapun yang kita rasakan akan diterima oleh sang janin. Berikut adalah hal-hal yang aku dengar tentang mitos kehamilan:

1. Tidak boleh makan dengan wadah/piring yang terlalu besar dengan porsi makan yang kecil
2. Tidak boleh duduk di tempat yang tidak seharusnya seperti jendela misalnya
3. Tidak boleh masuk atau keluar rumah melalui tempat yang tidak seharusnya seperti jendela misalnya
4. Tidak boleh duduk tanpa alas
5. Berbicara dan berperilaku tidak boleh sembarangan
6. Jika melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang tidak baik harus segera mengucap na'udzubillahi min dzalik
7. Harus berlaku lemah lembut dan sopan terhadap orang tua, suami, dan keluarga agar kelak persalinannya lancar
8. Tidak boleh membunuh binatang
9. Pantangan untuk memakan sesuatu agaknya mulai berkurang dengan seiringnya perkembangan zaman. Seperti ada yang tidak memperbolehkan makan duren, kambing, nanas, makanan manis, minuman es/dingin, jahe; namun ada juga yang memperbolehkannya selama masih dalam batas yang wajar
10. (((Jika aku ingat akan aku tulis lagi tambahannya)))

Karena lebaran Idul Fitri kemarin aku berada di Magelang, akhirnya suamiku memperbolehkanku lebaran Idul Adha di Jakarta. Namun selama menjelang lebaran, aku tidak bisa mengikuti puasa sunnah 'arofah dan tarwiyah karena saat itu tenggorokanku sedang tidak enak badan rasanya seperti mau flu dan mengharuskanku untuk segera mencegahnya sebelum benar-benar sakit flu karena agak sulit jika sudah terkena flu saat hamil. Selama hamil jika dirasa akan flu aku segera minum larutan penyegar sampai terasa gejalanya berkurang bahkan hilang. Saat lebaran, seperti biasa aku membantu ibuku untuk mengurus daging kurban yang akan didistribusikan kepada masyarakat yang berhak, serta membuat sup iga kambing untuk warga yang ikut membantu selama proses penyembelihan hewan qurban.


Setelah dokumen-dokumen yang harus kuurus lengkap, aku segera mengirimnya ke Magelang dan bersiap untuk kembali. Sebenarnya ibuku meminta untuk menunda kepulanganku sampai pernikahan sepupuku di Majalengka dilaksanakan dan baru setelah itu pulang ke Magelang dengan pesawat rute Bandung-Yogyakarta. Namun karena saat itu aku berfikir berkas yang akan aku kirimkan untuk persyaratan Call Women Writer yang (aku ikuti) yang diselenggarakan oleh sebuah LSM belum selesai dan tidak kondusif jika dikerjakan di Jakarta, maka aku memesan tiket kepulangan sebelum deadline usai. Namun ternyata deadline berlangsung saat hari kepulanganku dan aku baru sadar setelah aku melengkapi berkasku yang tetap aku kirim walau sudah melewati batas pengiriman :D Saat aku mengirim berkas, aku hanya berdo'a agar aku beruntung sehingga bisa menjadi salah satu peserta yang terpilih :D


Sebelum pulang ke Magelang, karena banyak hal yang mengharuskanku wira-wiri kesana kemari dan badanku terasa semakin pegal, akhirnya setelah berkonsultasi mengenai pijat saat hamil oleh ibu dan kakakku, aku memutuskan untuk ikut dipijat oleh Mak Sarah. Selain itu aku juga mengikuti prenatal class and belly dance yang diadakan oleh RS Royal Taruma. Registrasinya hanya 20rb untuk 1 kali pertemuan. Ada juga sesi prenatal gentle yoga yang biaya registrasinya sama seperti kelas kehamilan. Namun karena aku baru pertama kali ikut kegiatan tersebut maka tidak dikenkan biaya. Kelas kehamilan saat itu membahas tentang vaksin dan aku termasuk 3 penanya yang beruntung mendapatkan doorprize :D


Kesehatanku selama trimester dua terbilang cukup baik. Keluhanku hanya ada pada kepalaku yang terkadang migrain, gusiku yang terkadang suka berdarah (mungkin karena asupan kalsiumku kurang), bagian tulang punggung-pinggang-tulang ekor-dan panggul yang terasa nyeri seperti ditarik-tarik, gejala flu yang sembuh hanya dengan minum larutan penyegar, 1 kali fesesku berdarah karena kurang makan berserat. Selebihnya aku baik-baik saja. Aku rasa aku cukup beruntung, karena baca-baca di akun ig @bidankita banyak sekali ibu hamil yang saat hamil mengalami wasir, dan aku juga sempat mendengar secara langsung keluhan beberapa ibu hamil tentang itu. Alhamdulillah mudah-mudahan aku tidak mengalami hal tersebut bahkan sampai post partum. Ketahuilah bahwa melihat darah yang keluar dari area intim ketika hamil merupakan hal yang membuat ibu hamil panik. Namun mungkin ada banyak ibu hamil di luar sana yang kesehatannya selama hamil jauh lebih beruntung daripada yang aku rasakan. Tapi itu semua tidak masalah bagiku, karena setiap kehamilan memiliki pengalaman indah tersendiri.


Kepulanganku menuju Magelang kali ini hanya diantar oleh Ririn, Teh Tia dan keponakanku. Ayah Ibu tidak bisa mengantar karena harus menjenguk Adil dan Kiky serta menghadiri pernikahan sepupuku di Majalengka. Untungnya lagi kali ini tidak ada penundaan jadwal keberangkatan atas pesawat yang akan aku naiki, mungkin Asian Games salah satu faktor yang mempengaruhi hal ini. Selain itu aku juga tidak harus melakukan cek kehamilan di bandara seperti yang sebelumnya sudah diwanti-wanti oleh beberapa teman yang melakukan perjalanan via pesawat selama hamil. Hanya saja waktu akan masuk ke pesawat, petugas menanyakan usia kandunganku karena perutku sudah terlihat mulai membuncit. Setelah aku jawab usia kandunganku saat itu (24 minggu +) akhirnya petugas memperbolehkanku untuk melanjutkan perjalananku. Sungguh dimudahkan semuanya. Namun ada yang tidak sengaja ku lakukan saat di bandara. Saat kami kelaparan dan memesan menu paket di A&W, aku lupa dan meminum air sodanya. Untung saja tidak banyak. Beberapa hari setelah dari Jakarta, akhirnya usia kandunganku memasuki Trimester Ketiga.



Trimester Ketiga


Sekembalinya aku ke Magelang, aku disambut oleh dampak musim kemarau yang terlihat dari asatnya sumur air di rumahku dan warna airnya berubah tidak sebening biasanya. Selain itu, kedatanganku sudah memasuki jadwal check up ku. Terlebih saat itu aku juga akan kembali melakukan perjalanan ke Ngawi untuk menghadiri pernikahan Firas dan Faizah bersama rombongan teman-teman Klabanan. Setelah mengantri cukup lama alias 2 jam dari nomor antrian 6 ke 13, akhirnya giliranku menjenguk janinku, yeeeey! (lagi-lagi aku mewanti-wanti suamiku untuk merekamnya). Alhamdulillah semuanya normal dan meski ternyata posisinya belum njejek, tetapi yang patut disyukuri adalah keadaan anakku baik-baik saja meski sudah kesana kemari. Memang ternyata memasuki usia kandungan tujuh bulan, yang kurasakan adalah ia sering sekali mutar kesana kemari, dan menendang di hampir seluruh bagian perut sudah ia putari sepertinya :D Tapi tidak apa-apa, karena itu semua adalah tanda bahwa janinku baik-baik saja. Selain itu akhirnya pupus sudah rasa penasaranku terhadap jenis kelamin anak pertamaku :) (tunggu tanggal main dipostingan selanjutnya ya, tapi kalo penasaran banget boleh nanya kok, insya Allah dijawab :))

Memang saat periksa kehamilan berat badanku turun 1kg, mungkin karena jetlag. Namun setelah beberapa hari akhirnya kini kenaikan berat badanku dari awal kehamilan sudah di angka 10kg. Bagiku yang sulit menaikan berat badan adalah hal yang luar biasa, yah walaupun masih saja aku kesulitan tidur malam dan sangat nyenyak tidur sepanjang pagi hingga siang hari. Tapi tidak apa.


Saat ini aku memiliki kegiatan baru, yaitu sima'an setiap hari Senin-Kamis. Betapa senangnya meskipun aku harus berusaha untuk melawan rasa kantukku untuk nderes. Selain itu yang membuat aku senang adalah ternyata berkas yang aku kirim untuk Call Women Writer diterima dan aku dinyatakan lolos menjadi peserta pelatihan yang akan diadakan pertengahan September nanti. Yey! Mudah-mudahan semua kegiatan tersebut berdampak positif untuk keseharianku dan janinku.


Memasuki trimester ketiga, meskipun di trimester sebelumnya aku juga melakukan hal yang sama hanya saja tidak serutin di trimester ini. Setiap perpindahan minggu usia kehamilan, aku selalu mengonsumsi satu butir air kelapa. Walau ada banyak mitos yang beredar salah satunya adalah supaya kulit anaknya bersih. Tapi tujuan utamaku adalah untuk mencukupi kebutuhan cairan ketuban agar janinku aman dan agar cairan ketubanku jernih. Hal ini karena ada temanku yang semasa kehamilannya mengalami ketuban pecah dini (KPD) dan ia menyarankanku untuk sebisa mungkin sebelum usia kandungan ke 34 perbanyak minum cairan elektrolit (bisa didapat dari air kelapa) sebanyak mungkin agar cairan ketuban cukup dan selaput ketuban sehingga dapat meminimalisir kejadian KPD pada ibu hamil. Mengapa sebelum 34 minggu? Karena cairan ketuban tidak diproduksi lagi setelah 34 minggu ke atas. Oleh karena itu sering kali terjadi kasus semakin tinggi usia kehamilan semakin berkurang cairan ketuban dan sejenisnya. Wallahu a'lam.


Usia kandunganku genap 27 minggu ketika memasuki awal tahun baru hijriyah. Saat memasuki trimester 3, aku sempat bertekad untuk rutin powerwalk di pagi hari. Namun sayangnya hal itu belum bisa aku lakukan karena aku harus menghemat tenaga untuk hari-hari selanjutnya, dimana pada kenyataannya walau tidak rutin powerwalk pagi atau sore hari, tetapi aku selalu berjalan dengan durasi yang cukup lama ketika berpergian. Karena saat ini usia kandunganku bertepatan di bulan Muharram, maka aku kembali berpuasa di hari ke 9 dan peringatan 7 bulanan pun kami lakukan bertepatan dengan hari 10 asyura' baik di Jakarta maupun di Magelang.


Di trimester ketiga ini, aku mulai rutin memeriksakan kandunganku di klinik yang kelak akan aku tempati pada saat persalinanku tiba. Bagiku persalinan merupakan hal yang penting di dalam siklus kehidupan, oleh karena itu, aku tidak ingin provider yang menangani proses persalinanku nanti tidak mengetahui riwayat kehamilanku (istilahnya sing penting teko mbantu mbrojolke, karena hal tersebut bisa berdampak fatal jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan). Selain karena untuk mengisi riwayat pasien, agar kelak bidan yang menangani persalinanku tau kondisiku dan tau treatment apa yang harus dilakukan, aku juga sengaja pindah tempat kontrol kandungan ke klinik tersebut agar asuransi yang aku miliki bisa terpakai (lumayan bu bayarnya, kalau udah masuk trimester tiga kontrol rutinnya dua minggu sekali). Oleh karena itu, di trimester ini aku sudah mulai jarang USG dan hanya EKG saat bidan memeriksaku. Karena periksa di bidan juga lah aku akhirnya tahu bahwa seorang ibu hamil bisa memperkirakan berat badan janin (bbj) melalui tinggi fundus uterus (TFU) atau istilah awamnya mengukur tinggi perut secara manual menggunakan meteran kain. Namun karena posisi janinku masih melintang saat terakhir kali bidan mengecek kandunganku, maka bidan tersebut menyarankanku untuk melakukan gerakan sujud hamil atau istilah yoganya knee chest dan merujukku untuk melakukan USG. Betapa pintarnya janinku, ketika kami melakukan pemeriksaan USG, posisinya sudah kembali kepala berada di arah panggul. Saat itu sudah memasuki usia kehamilan 31 minggu. Sejak saat itu, aku langsung rutin menggunakan gymball atau birthing ball agar kelak kepalanya semakin turun masuk ke panggul. Selain itu (walau belum rutin karena harus menghemat tenaga) aku juga mulai kembali melakukan yoga dengan gerakan-gerakan yang biasa digunakan agar posisi kepala janin masuk panggul. Gerakan-gerakan yang aku praktekan berasal dari youtube bidankita dan bidan jamilatus sa'diyah (yang merangkap sebagai doula dan pelatih prenatal gentle yoga di proviclinic).


Uniknya di trimester ketiga ini, kebanyakan orang berkata semakin tua masa kehamilan, ibu hamil akan semakin sulit tidur. Nyatanya yang aku alami justru di trimester ini jam tidurku kembali normal dan aku justru bisa mengontrol jam tidurku serta tidurku jauh lebih nyenyak dibanding trimester satu maupun dua.


Sebelum berangkat ke Tegal untuk menghadiri pernikahan Mas Adam, aku sempat mengalami kram di bagian perut ke bawah karena faktor x (kelak akan aku beri keterangan faktor apakah itu jika sudah saatnya) yang iseng aku dan suamiku lakukan. Mungkin karena ada lecet atau luka dibagian tersebut akhirnya aku mengalami rasa sakit, saat itu aku berfikir jangan-jangan aku mengalami kontraksi palsu. Namun karena yang kedua kalinya kami lakukan hasilnya tetap sama (aku mengalami njarem-njarem yang tidak bisa diungkapkan), kami memutuskan untuk tidak melakukannya lagi. Mengingat acara keluarga belum dimulai, akhirnya dokter dan bidan serta Bunda memintaku untuk beristirahat agar aku bisa ikut ke Tegal dan Cirebon.


Setelah berdiskusi panjang dan hampir saja aku tidak jadi berangkat ke Tegal, akhirnya aku diperbolehkan ikut ke Tegal namun tidak ikut ziarah ke Cirebon. Perjalanan pun dimulai saat usia kandunganku memasuki minggu ke 33. Saat di Tegal aku bertemu juga dengan keluargaku dari Jakarta, ada Ibu, Teh Bila, Teh Tia, dan keponakanku. Alhamdulillah selama perjalanan baik pulang maupun pergi, aku tidak mengalami muntah, dehidrasi dan rasa ingin pipis, maupun pegal-pegal yang berlebihan. Mungkin karena sepanjang perjalanan aku mencoba untuk tidak menggunakan telepon seluler yang sering kali membuatku muntah, atau karena aku tertidur sepanjang perjalanan sehingga kantung kemihku cukup kuat untuk tidak buang air kecil (juga karena jika tertidur maka tidak terhidrasi terus) sejak berangkat sampai berhenti untuk ishoma, atau mungkin karena aku juga membawa ballance ball (bola yoga berdiameter 25 cm) untuk aku duduki dan bantal-bantal agar aku tidak merasa pegal dibagian panggul, tulang ekor dan pinggang. Alhamdulillah juga acara pernikahan berlangsung dengan khidmat dan semua berbahagia.


Aku pikir perjalanan jarak jauh selama masa kehamilan akan berakhir setelah acara di Tegal. Tapi tidak, ternyata setelah itu kami sekeluarga berpergian ke Kebun Binatang Gembira Loka sebelum berangkat untuk berlibur ke Jawa Timur menuju Tuban, Batu, Jombang, dan Trenggalek. Alhasil, aku yang sudah memasuki 34 minggu usia kehamilan, harus berjalan mengelilingi Kebun Binatang Gembira Loka. Yah, setidaknya ternyata aku masih kuat meskipun pulang dari sana aku meminta kepada suamiku untuk ekstra pijat kaki malam harinya.


Akhirnya aku kembali konsultasi sebelum perjalanan ke Jawa Timur, dan sedihnya meskipun posisi janinku sudah njejek letak kepala di arah panggul, namun ternyata Hbku menurun drastis dari 11.1 hingga 8.6 (untuk ibu hamil minimal 11/12). Bidan menyarankanku untuk mengonsumsi makanan-makanan yang bisa meningkatkan kadar zat besi dan memberikan ku tablet kalk dan suplemen penambah darah (yang kalau dikonsumsi efek sampingnya selalu bikin mual, untung saja aku diberi tahu temanku yang seorang dokter untuk meminum vitamin B6 berbarengan dengan suplemen penambah darah tersebut agar tidak muntah). Meski begitu, aku tetap mengikuti agenda keluarga, menuju Jawa Timur.


Perjalanan pun kembali dimulai, dan usia kandunganku sudah 35 minggu. Sepanjang perjalanan menuju Tuban, suamiku selalu siaga memijat kakiku yang sejak memasuki trimester tiga mulai terasa ngilu terutama dibagian lutut sampai jari kaki, kalau orang jawa bilang gringgingen. Sampai Tuban kami ziarah ke makam keluarga dan bersilaturahmi ke kampung halaman Bapak. Ini kali pertama Bapak membawa seluruh keluarga lengkap; Bunda, anak-anak, menantu, dan cucu-cucu ke Tuban. Namun saat perjalanan menuju Batu aku mengalami mual sehingga muntaber karena kondisi jalan yang kurang baik dan makanan yang aku konsumsi ternyata di tolak oleh anakku. Akhirnya sesampai di penginapan aku langsung tertidur.


Keesokan harinya saat di Batu, kami sekeluarga berwisata menuju Jatimpark 2 dengan paket Museum Satwa dan Batu Secret Zoo. Mengingat total luasnya lebih dari 15 hektar, akhirnya saat memasuki Batu Secret Zoo aku meminta kursi roda agar tidak terlalu lelah karena sebelumnya di Museum Satwa aku sudah berjalan cukup lama. Hari selanjutnya di Jatimpark 1 pun aku meminta kursi roda agar aku tidak terlalu lelah mengingat masih ada perjalanan ke Jombang (makam Gus Dur) dan bersilaturahmi ke Trenggalek. Saat perjalanan pulang menuju Jogja, kami mendapati longsor di Ponorogo dan harus melewati jalan alternatif yang curam dan menegangkan. Terlebih saat itu salah satu mobil keluarga mengalami kejadian genting dimana mobil tidak mampu menaiki jalan dan harus ditarik. Alhamdulillahnya kami sekeluarga bisa melewati masa itu dan sampai di rumah dalam keadaan selamat tidak kekurangan suatu apapun. Setelahnya, meskipun aku tau posisi anakku sudah mapan tetapi aku meminta untuk diurut atau pijat kehamilan di Mbah Dana (dukun pijat bayi dan ibu hamil legendaris sejak jaman Bunda kecil yang direkomendasikan oleh sepupu untuk pijat hamil di beliau). Alhamdulillahnya setelah dipijat badanku terasa lebih ringan dan pegal-pegal dibagian panggul karena perjalanan pun hilang (yah walaupun kemudian datang lagi, mungkin karena posisi tidur yang tidak sesuai atau faktor lainnya).


FYI, Untuk pijat bayi mohon dengan sangat, jika readers adalah ibu hamil yang ingin pijat hamil, sebaiknya benar-benar mencari yang sangat direkomendasikan karena jika asal-asalan atau abal-abal dapat berakibat fatal. Sebelumnya mengapa aku mau pijat di Mbah Dana, karena sepupu ipar yang kurang lebih 6 bulan sudah lebih dulu melahirkan, dari usia kehamilan 5-8 bulan posisi janin masih sungsang, dan akhirnya janin pun kepala posisi panggul setelah 4-5 kali pijat di Mbah Dana (selain rajin dan aktif bergerak juga). Referensi inilah yang meyakinkan aku untuk mencoba pijat hamil di beliau.


Perjalanan panjang di masa kehamilan pun usai bertepatan dengan usia kandunganku yang akhirnya cukup bulan yaitu 36 minggu atau 9 bulan. Setelahnya kami hanya mengunjungi tempat wisata di sekitar rumah seperti The World Landmarks di Kaliurang, Perayaan Sekaten di Alun-Alun Utara, mendatangi Konser Jazz Tahunan Ngayogjazz yang tahun ini berlokasi di Bantul, dan ke Taman Bunga Ramadanu. Dekat memang dari rumah tapi kalau untuk powerwalk lumayan lah.


Setelah usia kandungan yang cukup bulan ini, akhirnya aku mulai berani untuk melakukan induksi alami dengan mengonsumsi buah nanas mentah/matang, buah kurma, kopi (walaupun hanya sebatas capcin). Aku juga mulai rutin powerwalk baik pagi atau sore hari dan juga rutin yoga dua hari sekali serta belly dance setelah yoga dengan songlists yang membuatku senang tentunya. Sesekali suamiku juga membantu me-rebozo ku. Tapi yang paling menyenangkan dari proses pemberdayaan ini, suamiku juga ikut membaca buku bebas takut hamil dan melahirkan karya bidan Yesie Aprilia yang sudah banyak aku tandai pada paragraf-paragraf tertentu yang menurutku sangat penting terutama untuk proses persalinan kelak. Selain itu, di trimester ini juga aku akhirnya menyelesaikan tantangan 21 hari selama masa kehamilan yang di posting di web bidankita. Walau tidak rutin setiap hari ku kerjakan tantangan tersebut, namun bagiku tantangan tersebut banyak memberikan perubahan pengetahuan, sikap dan mental di masa kehamilan pertamaku.


Di usia kandungan yang tinggal menunggu kapan anakku siap dilahirkan ini, akhirnya aku mengetahui bahwa TFU ku sudah setinggi 32 cm dengan berat badan yang secara keseluruhan sejak awal kehamilan meningkat hingga 17.5 kg dan kadar Hb terakhir 9.8 yang masih perlu dan harus ditingkatkan. Posisi kepala anakku juga sudah mulai memasuki panggul (dan gerakannya terasa sekali jika hendak turun panggul, terlebih dari perut pun sudah terlihat semakin menurun). Hingga di minggu ke 38 aku merasa belum mengalami mules-mules rutin yang orang bilang kontraksi (baik itu palsu maupun asli), dan aku juga belum mengalami tanda-tanda persalinan lainnya seperti flek (keluar lendir darah) maupun ketuban pecah dini. Hanya saja ngilu yang aku rasakan semakin sering dan lokasinya semakin menyebar. Mulai yang hanya dari jari kaki ke lutut hingga jari kaki ke pakngkal pinggul. Semoga saatnya segera tiba di waktu yang tepat dengan momen yang indah dan seluruh afirmasi yang aku rapalkan terwujud menjadi kenyataan.



to be continue ... at Kafabillah's GentleBirth Story


Sampai sini dulu yaaa, besok dilanjut lagi kalau sudah melewati masa persalinan. Doakan agar senantiasa sehat selama masa kehamilan dan diberikan proses persalinan yang nyaman, lancar, aman, normal, dan tenang, serta sehat sempurna setelahnya ... :)

Intinya tujuan jurnal ini dibuat salah satunya adalah hadiah kecil untuk si janin ketika ia sudah mengerti nanti. Semakin awal menulis jurnal adalah semakin baik, karena jurnal kehamilan akan lebih detail ceritanya, walaupun mungkin jadinya terlihat agak rempong, tapi ah biarin aja :D


Silahkan tinggalkan jejak terbaik di kolom komentar ya :)

2 comments:

  1. Wah serasa mengikuti perjalanan kehamilan mba nih 😊 klu aq bru skrg tau hipnobirhting bru dhe bisa hlng sdkt demi sdkt rasa cemasnya hehe, doakan yH mba mdh2an aq jg mlhirkan dgn normal dn slmt 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga sehat selamat lancar semuanya dan harapannya terkabul :) semangaaat :)

      Delete