Betapa Pentingnya Mencegah Tradisi Momshaming

Akan selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang merundung hidup seseorang dari lingkungannya yang tidak akan pernah habis. Semasa sekolah ditanya kapan lulus? kok gak ngambil jurusan ipa aja? Setelah masuk dunia perkuliahan, ditanya bagaimana skripsinya? kok gak lulus-lulus sih? Begitu pula setelah lulus, kok gak kerja? mau nyobain cpns apa kerja di perusahaan swasta? Bahkan ketika sudah kerja dan akhirnya menikah pun masih juga mendapatkan pertanyaan yang tidak ada habisnya yang bisa saja membuat orang yang ditanya merasa dirundung.
Lebih parah lagi setelah menikah masih juga diberi pertanyaan tentang momongan. Setelah memiliki momongan pun masih saja diberi pertanyaan yang sebenarnya hanya basa-basi atau tidak perlu ditanyakan seperti kok anaknya hitam sih? dijahit berapa jahitan? lho kok baru lahir sudah diberi susu formula?

Mubaadalah News
Ilustration: Freepik.com

Tak ubahnya dengan perundungan atau bullying, Menurut Roslina Verauli seorang psikolog (CNN, 2018) momshaming adalah tindakan yang dilakukan seseorang atau sekelompok untuk membuat malu seorang ibu atas pola pengasuhan terhadap anaknya seolah-olah pola pengasuhan pelaku momshaming adalah pola pengasuhan yang lebih baik jika dibandingkan korban. Seseorang yang melakukan momshaming sering kali tak sadar bahwa yang ia lakukan adalah tindakan kekerasan psikis karena efek dari tindakannya mampu mempengaruhi kesehatan mental atau psikis korban.
Biasanya pelaku momshaming atau momshamer tidak begitu peduli dengan dampak yang diterima korban momshaming akibat perundungannya. Padahal menjadi seorang ibu saja sudah berat, apalagi jika diberi beban tambahan psikis oleh momshamer.  Namun sebaliknya, seorang ibu atau orang tua yang menjadi korban momshaming akan terjadi perubahan pada sarafnya dan mengakibatkan korban tersebut merasa insecure, tidak percaya diri bahkan depresi (Ika, 2018) terhadap pola parentingnya dan dapat memicu terjadinya baby blues syndrome hingga Post Partum Depression.
Selain beberapa langkah menghadapi momshaming untuk korban, yang tidak boleh dilupakan adalah konsep mubaadalah atau konsep kesalingan. Faktanya pelaku dan korban momshaming seringkali adalah sama-sama seorang perempuan. Oleh karena itu, untuk memutus budaya momshaming, perlu bagi siapapun untuk mengingat konsep kesalingan kepada pelaku maupun korban momshaming, yang mana jika tidak ingin disakiti maka jangan menyakiti.
Seperti hadits Rasulullah SAW berikut ini, “Dari Yahya al-Mazini ra, Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak diperbolehkan mencederai diri sendiri maupun mencederai orang lain’ Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Muwathta’nya (Nomor Hadits 1435)” (Kodir, 2017).
Baik pelaku atau pun korban momshaming diingatkan kembali kepada prinsip kemanusiaan yang paling dasar yaitu persaudaraan. Jika merendahkan, mencibir, menghina saja sudah masuk tindak kejahatan, apalagi tindakan momshaming yang akibatnya dapat mempengaruhi efek Baby Blues Syndrome hingga Post Partum Depression dan dampaknya dapat membuat depresi, gangguan kesehatan mental bahkan membahayakan nyawa ibu dan anaknya.
Menjadi seorang ibu tanpa dikritik saja sudah sulit, apalagi menjadi seorang ibu yang menjadi korban momshaming. Jika memang peduli terhadap pola pengasuhan yang diterapkan kepada si anak namun takut komentar kita menyakiti orang tua terutama ibunya, maka hal yang sebaiknya dilakukan adalah menjadi baik atau diam (tidak berkomentar). Be kind please, because every single moms has her own battle.
Tulisan ini pernah dimuat di Mubaadalah News. Semoga bermanfaat dan tinggalkan jejak di kolom komentar ya :)

0 Comments:

Post a Comment