-->

Empat Lifestyle yang Bisa Mencegah Banjir

Global Warming atau pemanasan global. Tapi sebagian orang menyebutnya bukan pemanasan global melainkan global dipanasi. Kata dipanasi cenderung terdengar lebih masuk akal karena kata tersebut menunjukkan adanya sesuatu atau seseorang atau sekelompok yang melakukan kata kerja aktif yaitu memanasi (membuat panas). Tanpa adanya segelintir oknum yang memanasi global untuk tujuan tertentu, dampak global warming agaknya tidak akan sedrastis beberapa tahun terakhir hingga hari ini.
Tentu saja perubahan iklim, banjir dan air bah menjadi salah satu dampak dari global warming. Penyakit berbasis lingkungan seperti leptospirosis, demam berdarah dengue, disentri, diare, influenza, iritasi kulit juga menjadi dampak turunan akibat banjir (Depkes, 2013).


وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ



Artinya: Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan di bumi; QS. Asy-Syu'ara, Ayat 183




Hampir tak dipungkiri lagi jika masyarakatlah yang pada akhirnya terkena dan merasakan dampak-dampak tersebut. Oleh karena itu, menjadi masyarakat yang sadar akan lingkungan kemudian menjadi hal yang perlu dilakukan untuk setiap individu sebagaimana yang telah Allah SWT firmankan dalam QS. Asy-Syu'ara ayat 183 di atas. Hal ini bisa dilakukan dari lingkup paling mendasar dalam hidup bersosial yaitu lingkaran rumah tangga. Berikut adalah langkah mencegah banjir yang dapat dilakukan di lingkup rumah tangga:


Karimah Iffia Rahman
Ilustrasi: Freepik.com


1. Menerapkan 2R (Reuse, Reduce) dengan Membawa goodie bag dan/atau food container sebagai pengganti kantung plastik


Menghilangkan penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari memang bukanlah hal yang mudah tetapi bukan juga suatu hal yang sulit jika sudah diniati. Oleh karena itu yang dapat dilakukan dengan penggunaan plastik adalah dengan meminimalisirnya. Masyarakat tentu banyak yang sudah mengetahui hal ini, sehingga pebisnis pun mau tak mau mengikuti green lifestyle ini terlihat dari swalayan dan restoran-restoran cepat saji yang kini memberlakukan tarif terhadap sekantung plastik mulai dari 200 rupiah hingga 5000 rupiah.

2. Menerapkan 3Ng


3Ng adalah ide kampanye Walhi Yogyakarta bersama Sahabat Lingkungan untuk meminimalisir penggunaan air minum dalam kemasan (AMDK) dengan cara Nggodog, Nggowo, Ngunjuk yang artinya merebus air sendiri di rumah, membawa air dengan botol minum pribadi, dan kemudian meminum air tanpa perlu membelinya. Semakin banyak masyarakat yang membawa botol minuman pribadi, semakin meminimalisir sampah-sampah AMDK.

3. Recycle dengan Menabung di Bank Sampah


Ironis jika kaleng, botol, maupun wadah bekas lainnya terabaikan begitu saja dan menjadi tempat berkembang biak binatang vektor atau menjadi faktor penghambat saluran air limbah hingga dibuang sembarangan dan mencemari perairan, lebih baik dikumpulkan dan ditabung ke Bank Sampah. Selain mendapatkan untung berupa pundi-pundi rupiah, rumah bersih dari sampah, sampah tersebut juga biasanya dapat didaur ulang oleh pengelola Bank Sampah menjadi kerajinan tangan seperti tas, vas bunga, lukisan, dan sejenisnya.
4. Yang terakhir bisa kalian baca di sini :). Semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan jejak terbaik di kolom komentar ya :)
Karimah Iffia Rahman
Seorang perempuan sagitarius yang hidup dalam peran ganda sebagai istri, ibu, dan penulis lepas. Karya pertamanya yang berhasil diterbitkan berada dalam Buku Antologi Menyongsong Society 5.0

Related Posts

10 komentar

  1. Aku baru tahu tentang 3ng..untuk air minum di jakarta aku ga berani pake air tanah euy cemarannya udh banyak jadi mau ga mau memang hrs beli air kemasan 😥

    BalasHapus
  2. Istilah bank sampah ini pertama denger dari akunnya Dr gamal yang di Malang itu. Alhamdulillah, di kampungku juga sudah menerapkan itu. Mereka2 ga begitu aja buang sampah plastik. Tapi dikumpulin di bank sampah RT trus mereka dpt tabungan. Hehehe MasyaAllah mudah2an langkah kecil bawa perubahan besar ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. inisiator Bank Sampah pertama kali adalah bapak Bambang Suwerda, kebetulan saya adalah salah satu mahasiswa beliau. Nah, beliau jg pernah cerita pernah seminar bareng dr. gamal dan konsep bank sampah ini dipakai dr. gamal untuk memudahkan pasien yang ingin berobat namun tdk mempunyai biaya dan alternatif membayarnya adalah dengan menabung sampah :)

      Hapus
  3. Penting banget Menjaga bumi agar tidak memiliki beban yang berat dengan mengurangi penggunaan plastik. Kesadaran yang harus kita pupuk selalu dari lingkungan terkecil kita.

    BalasHapus
  4. Di daerahku kayaknya gak ada bank sampah deh jadi belum ada pengalaman untuk poin itu.

    Tapi poin 1 udah pernah aku terapkan pas zaman ngekos. Tapi kok semenjak pulang ke rumah balik lagi ke plastik ya.. duuh :(

    BalasHapus
  5. Kalo di Bali ya, beberapa cara-cara di atas sudah lumayan terterapkan dengan baik, tergantung orang-orangnya juga kali yak, hehe..

    BalasHapus
  6. Bank sampah jadi ide solutif untuk dikerjakan bersama😊 apalagi misal setiap agustusan ada perlombaan nya bagi setiap RT.

    BalasHapus
  7. semua memang harus diawali dari hal kecil, dari rumah sendiri. menurutku itu intinya sih, walau mungkin belum terlihat efeknya, but at least we try to reduce itu pemanasan global, eh.... pengurangan sampah. saya pribadi sih tiap belaja ke minimarket udah gak pake plasti, ato belanja ke warung yg cuman 1-3 item, pegang tangan ajah. kadang khilaf klo belanja ke pasar lupa bawa bag sendiri. nakal ya

    BalasHapus
  8. Wah bener banget ini mba, tapi entah kenapa saya tuh gak bisa pakai minum rebusan, jadi tetep beli air galon sih. Kalau kemana-kemana jg pakai tumblr sendiri terus belanja jg pakai tas belanja. Emang plastik jg udah jarang ya di supermarket.

    BalasHapus
  9. Wah saya baru tahu istilah 3Ng. Tapi dalam praktiknya alhamdulillah sudah berusaha dipraktikan terlebih dalam menggunakan godibag saat berbelanja

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter