Afiliasi Domainesia

hosting indonesia

Jangan Lupakan Untaian Mutiara Ini Wahai Hamilul Qur'an

Bismillahirrahmanirrahim.

Kali ini saya akan menulis sedikit banyak hal-hal yang berkaitan dengan Guru kami yang tercinta, KH. Mufid Mas'ud pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta.

Beliau adalah salah satu kyai masyhur khususnya dalam ilmu-ilmu yang mempelajari tentang al-Qur'an. Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA) didirikan pada tahun 20 Desember 1975. Pondok Pesantren ini memang dikenal sebagai pesantren al-Qur'an. Setiap tahunnya tepatnya tanggal 17 Sya'ban, PPSPA selalu mengadakan haul dan wisuda khotmil Qur'an yang diikuti oleh santri-santri yang dinyatakan lulus tes hafalan al-Qur'an dengan kategori bilghoib Juz 30, binnadzri 30 Juz, dan yang paling istimewa tentu bilghoib 30 Juz.


Menghafalkan al-Qur'an tentu menjadi impian bagi siapapun yang menginginkannya. Tetapi tentu tidak mudah. Selain karena perlu keuletan, kerajinan, kesungguhan niat, waktu yang lama, tentu akhlak pun seharusnya menjadi hal yang juga perlu diperhatikan dalam menghafalkan al-Qur'an. Oleh karena itu KH. Mufid Mas'ud memberikan nasihat-nasihat ini untuk para santrinya:


KH. Mufid Mas'ud
Dokumen Pribadi Ilustrasi: Canva

Riyadhoh

Pertama, yen wes Khatam Qur’an, kudu riyadhoh, diposoni, dideres ono jero sholat sampek Al Qur’an benar-benar mendarahdaging. Artinya kalau sudah khatam, al-Qur’an harus diriyadhohi/ditirakati dengan puasa, baca hafalan Al-Qur’an dalam shalat sampai benar-benar mendarahdaging).

Tadarus

Kedua, yen kowe wes khatam Qur’an ojo kemaki wes lancar, tur ora sregep nderes, aku iki wes hatam puluhan tahun ngroso durung lancar isih kudu nderes. Artinya kalian itu (jika) sudah khatam jangan sombong, merasa sudah lancar, lalu tidak rajin tadarrus. Saya ini sudah khatam puluhan tahun (tetap) merasa belum lancar sampai sekarang masih harus terus tadarrus.

Masih tentang tadarus, beliau juga berpesan, "Al-Qur’an saiki dideres ibarat koyo ngombe jamu rasane pahit, ning awak sehat, mengko-mengko nek wes istiqomah nderes rasane manis koyo madu. Artinya, al-Qur’an jika dibaca saat ini ibarat minum jamu rasanya pahit, tapi menyehatkan badan. Nanti kalo sudah istiqomah dibaca rasanya manis seperti madu. Hal ini berkaitan dengan kelancaran hafalan yang dimiliki oleh para penghafal al-Qur'an atau hamilul Qur'an. Semakin sering dibaca, akan semakin lancar hafalannya.

Tidak Merokok

Aku ora ngaramke rokok, kerono akeh kyai sing podo ngerokok. Tapi aku nderek Kyai Munawwir sing ora ngerokok. Dadi kowe kabeh santriku yo ojo ngerokok! Cangkem gawe deres Qur’an kok di obong. Arti kalimat ini adalah Saya tidak mengharamkan rokok. Karena banyak kyai yang merokok. Tetapi saya ikut Kyai Munawwir yang tidak merokok. Jadi kalian kalau jadi santri saya, ya jangan merokok! Mulut untuk baca Al-Qur’an kok dibakar.

Takutlah Kepada Gusti Allah SWT

Ahli Qur’an iku wong kang wedi karo Gusti Allah. Dudu karo makhluk. Artinya Ahli Qur’an adalah orang yang takut kepada Allah. Bukan kepada makhluk.

Huffadz Bukan Huffasy

Ahli Qur’an iku ojo seneng omong kosong, bengi melek ora nderes iku dudu huffadz tapi huffasy. Artinya ahli Qur’an itu jangan sering bicara yang tidak berfaedah. Bangun malam tidak tadarrus itu bukan huffadz tapi huffasy (kelelawar).

Selain untaian nasihat di atas, beliau juga banyak memberi nasihat terkait hubungan relasi antar manusia. Karena apalah artinya jika menghafalkan al-Qur'an tetapi relasinya dalam hidup bersosial tidak sejalan lurus dengan apa yang selama ini dihafalkan. Nasihat beliau lainnya adalah:

Tidak berpoligami

Kabeh santriku ojo sampe wayoh, duwe siji sing gemati diagem sampek mat. Nek ono santri sing wayoh engko tak keplaki. Artinya himbauan untuk semua santri saya, jangan sampai poligami. Menikahlah dengan satu istri, namun cinta sampai mati. Kalau ada yang poligami saya “pukul”. Meski poligami nyata ada dalam Islam dengan segala pro-kontra, namun beliau memilih untuk tidak berpoligami.

Tentang Rumah dan Pondok

Nek gawe omah diniyati gawe hurmat tamu insya Allah barokah lan gampang rizkine. Ananda semua kalo mau bikin pondok jangan bergantung kepada makhluk. Jaluk tenenan nang Gusti Allah liwat al-Qur’an lan sholawat kanjeng Nabi.

Artinya jika kalian ingin berniat membangun rumah diniatkan untuk menghormati tamu, Insya Allah barokah dan banyak rizkinya. Dan jika kalian semua ingin mendirikan pesantren, jangan bergantung kepada makhluk! Mintalah dengan bersungguh-sungguh kepada Allah melalui Al-Qur’an dan shalawat kepada baginda Nabi SAW.

Kaburo Maqtan 'Indallah

Aku ora pingin duwe santri sing dadi muballigh ceramah-ceramah ning subuhe karipanKaburo maqtan ‘indallah. Artinya Saya tidak ingin punya santri yang jadi muballigh (penceramah), rajin ceramah, tapi subuhnya kesiangan. Tertulis dalam al-Quran, “Kaburo maqtan ‘indallah an taquluu maa laa taf’aluun,” yang bermakna orang yang mengatakan hal yang tidak dilakukan itu akan mendapatkan murka Allah SWT.

Hidupilah al-Qur'anmu, Insya Allah al-Qur'an yang akan Menghiasi Hidupmu

Terakhir, santriku ojo pengin dadi PNS dadi bature negoro. Hidmah nang Qur’an sing tenanan insya Allah mulyo dunyo akhirat. Santri saya jangan melulu ingin jadi PNS, jadi abdi negara. Berkhidmah saja kepada Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, insya Allah mulia dunia akhirat)

Nasehat-nasehat tersebut dirangkum oleh K.H. Afifuddin Dimyathi, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Memang secara khusus disampaikan KH. Mufid Mas'ud kepada para santrinya, namun secara umum nasehat tersebut juga baik diamalkan oleh para penghafal Al-Qur’an. Selain agar tetap bisa menjaga hafalannya, nasehat tersebut juga menjadikan hidup penghafal Al-Qur’an menjadi berkah.

Nasehat-nasehat ini juga sengaja saya tulis di blog saya agar menjadi cambuk dan self reminder untuk saya pribadi yang tentu masih banyak khilafnya. Dan sebuah kebahagiaan ketiga beliau masih sugeng, saya pernah bertemu dan menjadi santri beliau. Semoga saya dianggap santri oleh beliau dan ahlul baituhu, serta bertemu dan bisa berada di satu lingkungan yang sama dengan beliau di kehidupan yang akan datang. Akhiru kalam, semoga ulasan ini bermanfaat. Jika ada saran untuk ulasan lainnya, silahkan tinggalkan jejak terbaik di kolom komentar :)

Walahul faatihah...



Karimah Iffia Rahman
Seorang perempuan sagitarius yang hidup dalam peran ganda sebagai istri, ibu, dan penulis lepas. Karya pertamanya yang berhasil diterbitkan berada dalam Buku Antologi Menyongsong Society 5.0

Related Posts

2 komentar

  1. waaah, pernah baca tulisan ini mah,. Tapi, pesan utk tidak merokok itu kok baru ngeh yaa, kalo ada, banyak pasti santri putra yg rokokan, huhu

    BalasHapus
  2. Setuju banget sama nasehat ini. Memang butuh ketekunan yang gak pernah usai untuk memjadi penghafal quran. Makin banyak maksiat hafalan cepat sekali hilang. 😭😭

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter