Memupuk Rindu pada Rasulullah melalui Dalailul Khairat



Sebelum saya bercerita tentang amalan Dalail yang saya terima dari Bunyai Fatma Krapyak dan KH. Mu'tashim Billah Pandanaran, izinkan saya menulis ulang unggahan Instagram seorang teman alumni PPSPA (Pondok Pesantren Sunan Pandanaran) yang juga lulusan Tafsir Hadits UIN Syarif Hidayatullah yang bercerita tentang Kisah Imam Jazuli (penulis Dalailul Khairat). Cerita ini ia ambil dari Kitab berjudul Jami Karamat al-Auliya karangan Syekh Yusuf al-Nabhani yang mana sumbernya berasal dari Syekh Ahmad al-Shawi dalam kitab syarahnya atas shalawat al-Qutb al-Dardir.

Dalailul Khairat; Inilah Kisah Imam al-Jazuliy


Diriwayatkan bahwa Imam Jazuli penulis Dalailul Khairat, saat itu Imam Jazuli ditanya mengapa menulis shalawat yang demikian panjangnya, maka Imam Jazuli berkata:

Suatu siang, Aku melewati padang pasir bersama murid-muridku yang kehabisan air, lalu kami melewati sebuah sumur dekat perkampungan. Kemudian kami mendekati sumur itu, namun tidak ada embernya, tidak ada talinya, tidak ada pengereknya, timbanya juga tidak ada, tetapi di dalam sumur itu ada  airnya, namun terlalu dalam. Timbul pertanyaan dari kami: "Lantas bagaimana cara orang di sini mengambil airnya? Apa mungkin setiap kali mengambil air, harus membawa timba terlebih dahulu lalu dipasang talinya?" Kami pun terdiam.

Lalu saya melihat ada seorang putri kecil berumur dibawah 10 tahun yang sedang bermain. "Hai putri kecil, timba sumur ini kemana? Ini kan sumur umum?"

Putri kecil pun menjawab, "Iya benar, ini sumur umum, namun kami disini tidak memerlukan timba untuk mengambil air di sumur ini. "Lalu bagaimana cara mengambil air sumur ini?" Putri kecil itu berkata, "Beginilah cara kami mengambil air sumur ini" seraya mendekati sumur lalu menaruh tangannya di atas sumur, lalu air sumur itu naik dengan sendirinya dari bawah ke atas, terus hingga ke bibir sumur sampai meluap di atas bibir sumur. Dan airnya pun akan turun lagi ke bawah dengan sendirinya.

Berkata Imam Jazuli :" Laa ilaaha illallaah, Muhammadurrasuulullaah. Wahai putri kecil, kau ini punya amalan apa?" Dijawab oleh putri kecil itu: "Aku hanya disuruh ayah ibuku, selain shalat dan selain berbicara, aku tidak boleh berhenti dari shalawat kepada Sayyidina Muhammad SAW. Begitulah cara penduduk di kampung ini mengambil air di sumur.

Subhanallah...

Ijazah Dalailul Khairat

Waktu saya masih duduk di bangku SD, saya belum mengerti cerita di atas. Cerita ini pula saya baca setelah saya lulus kuliah. Dulu sewaktu SD, saya sering mendengar dari mbak-mbak huffadz, katanya banyak sekali berkah mengamalkan Dalailul Khairat dan jika ingin membaca Dalailul Khairat tidak boleh sembarangan serta harus memiliki ijazah sehingga sanadnya jelas. Saat itu yang saya dengar banyak sekali cerita-cerita yang wallahua'lam jika membaca Dalailul Khairat tanpa sanad yang jelas akan mengalami hal-hal yang diluar nalar. Oleh karena itu, meskipun saya sudah mengenal Dalailul Khairat sejak usia SD, namun saya belum berani membaca dan mengamalkan Dalail sebelum saya mendapatkan ijazahnya. Sayangnya waktu itu, ketika terakhir kali Mbah Mufid (Pendiri PPSPA) memberikan ijazah Dalail kepada para santri, saya sudah lulus SD dan boyong untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya di pesantren lain.

Bertahun-tahun terlewati, akhirnya saya kembali ke PP. Sunan Pandanaran. Ketika saya sudah menyelesaikan pendidikan 'Aliyah (SMA) dan sibuk dengan tugas baru di bangku perkuliahan, barulah KH. Mu'tashim Billah memberikan ijazah Dalailul Khairat. Lagi-lagi saya belum berjodoh, karena saat itu ijazah diberikan setiap hari selama jam kegiatan belajar mengajar selama seminggu.

Masa KKN pun tiba. Karena wilayah KKN saya berada di daerah Bantul yang mana jauh dari PPSPA yang berada di daerah Sleman, akhirnya saya memutuskan untuk sementara waktu mengerjakan Skripsi dan KKN sambil mondok di Ndalemnya Pakyai Zaky Krapyak.

Karena saat itu saya santri baru, sewaktu saya berhalangan untuk setor hafalan kepada Bunyai Fatma (istri Pakyai Zaky yang juga dzurriyah dari Mbahyai Abdul Hamid Pasuruan), beliau bertanya kepada santri yang sedang mengantri untuk setoran, "Karimah dimana?". Dijawab oleh seorang santri, "nembe udzur, Bu (lagi haid)". Akhirnya beliau kembali berkata, "tolong dipanggil mbak, baca Dalail.".

Mendapat pesan seperti itu lantas saya buru-buru mengenakan seragam mengaji (baju setelan hitam putih) dan ke tempat mengaji. Saat hendak setor, saya matur kepada beliau bahwa saya belum pernah dan belum berani membaca Dalail karena saya belum memiliki ijazah Dalail. Akhirnya saat itu juga beliau ngendikan, "saiki tak ijazahi, wes dibaca Dalaile". Akhirnya melalui beliau saya mendapatkan ijazah Dalail.

Pengalaman Mengamalkan Dalailul Khairat


Setelah itu setiap berhalangan mengaji, sama seperti santri yang lain, saya selalu setoran ngaji Dalail. Ini adalah pengalaman pribadi saya selama mengamalkan bacaan Dalail. Karena saya adalah seorang mahasiswa di bidang kesehatan (sanitarian), maka seperti calon atau tenaga kesehatan lainnya, saya harus menghadapi Ujian Kompetensi Sanitarian. Saat itu, uji kompetensi ini begitu menjadi momok bagi mahasiswa, karena ujiannya di akhir menuju wisuda dan ada kemungkinan harus remidi apabila dianggap tidak kompeten. Saat hendak memasuki ruang ujian, hampir seluruh mahasiswa pasti membuka-buka handout soal-soal uji kompetensi, tetapi saat itu yang saya lakukan hanya membaca Dalail. Masya Allah, wallahu a'lam, selang beberapa hari kemudian saat pengumuman uji kompetensi saya dinyatakan sebagai salah satu mahasiswa yang lulus uji kompetensi, sedangkan yang tidak dinyatakan kompeten harus mengikuti ujian ulang.

Kemudian kehidupan berlanjut, akhirnya hari itu tiba. Hari dimana saya bisa diijazahi Dalail di PPSPA. Saat itu saya membuka grup alumni PPSPA karena ada broadcast tentang agenda ijazah kubro Dalailul Khairot. Saya yang saat itu sudah menikah dan baru saja resign dari tempat saya bekerja, langsung mengajak suami untuk mengikuti agenda ini. Alhamdulillah ia bersedia. Bahkan kami mendapatkan kitab Dalail langsung dari KH. Masykur ketika sowan ke ndalem beliau bersama keluarga sebelum hari H.

Kali itu ijazah Dalail diberikan serentak kepada seluruh santri, alumni, dan jama'ah yang hadir oleh KH. Mu'tashim Billah. Seluruh isi Dalail dibacakan runtut oleh Gus Aim beserta keterangan-keterangannya dari awal hingga akhir. Acara dimulai dari pagi hari dan selesai ketika menjelang sholat Jum'at pada tanggal 16 Februari 2018 di aula komplek 3 putri.

Saat itu banyak sekali wejangan yang disampaikan oleh Pakyai Tashim yang membuat saya tergerak untuk terus mengamalkan Dalail meskipun diperbolehkan dibaca minimal satu kali khataman saja. Mungkin karena belum memiliki momongan pula, maka ketika itu saya niatkan dalam hati dan berdo'a agar diberi keturunan saat membaca bagian sholawat yang dikhususkan untuk berdoa.

Masya Allah tabarakallah. Tidak berapa lama setelah hari itu, saya terus mengamalkan Dalail, akhirnya Allah memberikan amanah dengan menghadirkan kabar gembira atas kehamilan saya.

Setelahnya, selama 39 minggu 2 hari di masa kehamilan, Alhamdulillah saya diizinkan Allah bisa riyadhoh Dalail yang mana salah satu amalan rutin yang saya lakukan selama hamil adalah setiap minggu perkembangan janin selalu diiringi dengan satu kali khataman Dalail.

KH. Mufid Mas'ud dan Dalailul Khairat


Ketika memberikan ijazah Dalailul Khairat, Pakyai Tashim (selaku putra KH. Mufid Mas'ud sekaligus pengasuh PPSPA) ngendikan bahwa Dalailul Khairat adalah salah satu wirid shalawat karya Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli yang secara istiqomah diamalkan oleh KH. Mufid Mas'ud semasa hidup beliau.  Tentu setelah wirid ayat suci al-Qur'an. Oleh karena itu, al-Qur'an dan Dalailul Khairat adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan dari sosok beliau.

KH. Mufid Mas'ud  menekankan secara eksplisit bahwa dalam menjalani kehidupan, al-Qur'an dan Dalail adalah senjata yang harus siap ditangan kanan dan kiri. al-Qur'an di tangan kanan dan Dalail di tangan yang kiri. Kalimat tersebut menjadi kiasan bawa keduanya harus dipegang teguh yang mana harus dipelajari dari guru yang sanadnya berkesinambungan sampai kepada Nabi Muhammad SAW dan diamalkan semaksimal mungkin.

Berdasarkan Kitab Dalailul Khairat edisi cetakan PPSPA, KH. Mufid Mas'ud menghafalkan al-Qur'an kepada KH. Abdul Qodir Munawwir, KH. Muntaha dan KH. Dimyati (Comal). Beliau juga menerapkan dawuh dari KH. Mukhlash (Pemalang) bahwa seorang penghafal al-Qur'an harus memperbanyak bacaan sholawat. Oleh karena itu KH. Mufid Mas'ud sangat rutin mengamalkan berbagai macam sholawat yang dibaca pada berbagai mujahadah. Salah satu shalawat yang beliau amalkan adalah Dalailul Khairat karya Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli. Thariqah yang ditempuh oleh beliau adalah Thariqah Mulazamati Qiroatil Qur'an wa Dalailul Khairat.

KH. Mufid Mas'ud mendapat sanad Dalail dari KH. Ma'ruf (Surakarta), seorang mursyid Thariqah Syadziliyah. Di sisi lain beliau juga mendapatkan ijazah Dalail dari Prof. KH. Muhammad Adnan (Surakarta), KH. Abdul Hamid Pasuruan, Dr. Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki (Makkah), Syaikh Yasin al-Padangi (Padang), dan Habib Muhammad Ba'abud (Lawang). Ijazah dari KH. Abdul Hamid termasuk unik sebab beliau mendapatkannya tanpa meminta, melainkan diberi langsung oleh KH. Abdul Hamid.

Sanad lengkap Dalailul Khairat KH. Mufid Mas'ud adalah sebagai berikut: KH. Ma'ruf dari KH. Abdul Mu'id dari KH. Muhammad Idris dari Sayyid Muhammad bin Ahmad al-Maghriby dari Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad al-Mutsana dari Sayyid Ahmad bin al-Hajj dari Sayyid Abdul Qodir al-Fasiy dari Sayyid Ahmad al-Muqri dari Sayyid Ahmad bin Abbas ash-Shum'i dari Sayyid Ahmad Musa as-Simlaliy dari Sayyid Abdul Aziz at-Tiba'i dari Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli (penulis kitab Dalailul Khairat).

Semasa hidupnya, KH. Mufid Mas'ud selalu membaca Dalail setelah menyelesaikan tadarus al-Qur'an sekian juz perhari. Pada bulan Ramadhan, selama lebih dari 30 tahun, beliau rutin mengkhatamkan Dalail di dua tempat. Awalnya ketika beliau muda, beliau mengkhatamkan Dalail di Masjid Jami' Singasari Malang dan dilanjutkan di Masjid Komplek 3 PPSPA setelah beliau lanjut usia.

Bahkan berdirinya Pondok Pesantren Sunan Pandanaran juga tak lepas dari usaha dan riyadhoh beliau melalui al-Qur'an dan Dalailul Khairat hingga mendapatkan berbagai karunia luar biasa yang semuanya tentu terjadi atas izin Allah SWT.

Membaca al-Qur'an dan Bersholawatlah...


Hidup hanya sekali, sholawat adalah bentuk cinta kita kepada Rasulullah yang kelak di hari kiamat memberikan syafa'at kepada umatnya. Seberapapun banyaknya harta yang dimiliki atau setinggi apapun pangkat duniawi yang disandang, bila sampai tak memiliki cinta kepada Nabi Muhammad SAW maka sungguhlah merugi. Dengan banyak membaca al-Qur'an dan Shalawat, semoga kita semua memperoleh manfaatnya di dunia dan di akhirat.

Bersholawatlah, karena al-Qur'an dalam surah al-Ahzab ayat 56 pun menyerukannya;

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا


"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan padanya."

Allahumma sholli wa sallim, wa barik 'alaihi...







2 comments:

  1. Allahumma sollii alaa muhammad,, maa syaa Allah mbak hebatnya solawat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Allahumma sholli 'alaihi... iya kak memang sholawat itu berkah dan manfaatnya luar biasa...

      Delete