Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tips Sukses Mondok Sambil Kuliah ala Ibukafa

Beasiswa Santri
Tips Sukses Mondok Sambil Kuliah ala Ibu Kafa

Eksistensi Santri dalam Membangun Peradaban Bangsa dalam Era Milenial

Eksistensi santri dalam membangun peradaban bangsa tentu telah kita ketahui bersama bahwa kiai, pondok pesantren, dan santri berperan dan memiliki rekam sejarah yang nyata sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga saat ini yaitu era milenial.

Peran ini tentu erat kaitannya dengan proses kegiatan menuntut ilmu selama di pesantren baik di dalam pondok maupun di luar pondok mengingat santri milenial tidak hanya beraktivitas di dalam pondok tetapi juga memiliki kewajiban belajar di luar pondok.


Ketika kita menuntut ilmu di luar pondok, kuliah misalnya, tentu ada hal-hal yang harus kita perhatikan agar prosesnya terlalui dengan seoptimal mungkin meskipun harus berbagi waktu dengan kegiatan di dalam pesantren.

Saya pribadi sebetulnya belum merasa menjadi santri yang sukses dalam hal ini, tetapi karena saat ini posisinya saya sudah selesai mondok dan juga menyelesaikan jenjang pendidikan S1, maka berikut adalah tips menyelesaikan kuliah sambil mondok setelah mengalami trial eror berdasarkan pengalaman pribadi.

Tentukan Niat, Prioritas, dan Fokus

Pertama, kita harus memahami betul alasan mengapa harus melakukan dua aktivitas di waktu yang bersamaan karena inilah yang akan membawa kita pada niat atau tujuan utama kita berada di pesantren tetapi juga melakukan aktivitas menuntut ilmu di bangku perkuliahan.

Membagi waktu dan menjadi multitasking bukanlah sesuatu yang mudah. Terkadang kita diberi pertanyaan menjebak, "Pilih mana, mondok atau kuliah? " Nah kalau sudah seperti ini kemudian akhirnya akan ada beragam cerita yang membuat santri harus memilih salah satu. Baik itu fokus pada pesantren saja lantas memilih cuti atau berhenti kuliah ataupun akhirnya memutuskan untuk keluar dari pesantren untuk melanjutkan jenjang perkuliahan.

Sepemahaman saya setelah akhirnya saya menyelesaikan keduanya, prioritas di sini bukanlah memilih salah satunya, wong kita sampai di titik ini untuk menyelesaikan keduanya. Tetapi prioritas yang di maksud adalah ketika jamnya mondok, maka mondoklah dengan tekun dan mengikuti kewajiban selama kegiatan di pesantren berlangsung.

Sebaliknya, ketika jamnya kuliah, maka kuliahlah dengan rajin sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Jika kita mengerjakan keduanya menjadi prioritas di waktunya masing-masing, maka kita akan bisa fokus saat melakukannya. 

Jadi pas waktunya setoran hafalan al-Qur'an ataupun mengaji kitab kuning, ya fokus saja, jangan terdistraksi dengan tugas kuliah. Begitu juga ketika kuliah. Pas waktunya praktikum di kampus ya sudah jangan fokus menghafalkan pelajaran di pondok, karena nantinya akan membuat proses praktikum menjadi tidak optimal.

Pintar Membagi Waktu

Kedua adalah pintar membagi waktu. Hal ini mutlak bagi siapapun terutama dalam hal ini adalah santri yang juga beraktivitas di luar pondok. Jangan sampai ada cerita kuliahnya jam 08.00 WIB tapi baru selesai piket, sarapan, dan persiapan untuk berangkat kuliah jam 07.45 WIB padahal jarak tempuh antara pondok dan kampus membutuhkan waktu minimal 25-45 menit.

Sama halnya ketika jam pulang mondok. Jika peraturan di pondok harus pulang ke pondok sebelum pukul 17.00 WIB atau sebelum maghrib, maka sebisa mungkin manfaatkan dan maksimal waktu selama di luar pondok untuk kegiatan yang memang menjadi prioritas saat itu. Jangan sampai pulang kuliah setelah adzan maghrib, kecuali jika sudah izin karena hal penting untuk keperluan proses kegiatan belajar di perkuliahan.

Harus Kuat Hati untuk Mengikuti Peraturan yang Berlaku

Hal ini berlaku untuk kegiatan di pondok ataupun di perkuliahan agar dapat menjadi penuntut ilmu yang baik. Contoh: ada beberapa pondok yang memperbolehkan santrinya mengikuti kegiatan berorganisasi diluar pondok dan juga sebaliknya. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Yang memperbolehkan berorganisasi di luar pondok, bisa jadi pengasuh pesantren ingin santrinya lebih mengenal dunia di luar pesantren, memiliki banyak pengalaman dan relasi agar ketika tiba masanya berkiprah di masyarakat tidak kaget.

Sebaliknya, yang  tidak mengizinkan berorganisasi di luar pondok mungkin ingin santrinya lebih fokus dalam hal menuntut ilmu mengingat waktu yang dibutuhkan untuk keduanya tidaklah sebentar. Sehingga baik di pondok maupun di pesantren bisa lulus tepat waktu karena fokus untuk mengerjakan tugas utama saja diantara keduanya.

Jika sangat ingin berorganisasi, pilihlah organisasi yang kegiatannya fleksibel dan bisa dilakukan ketika waktu libur di pesantren tiba. Mengikuti komunitas daring juga menjadi salah satu alternatif untuk ikut berorganisasi tanpa harus merelakan waktu yang mungkin bisa dipakai untuk menghafalkan wirid-wirid di pesantren. Alternatif lainnya kita juga bisa mencari tempat kuliah sambil mengahafal al Quran

Hal ini juga bisa terjadi ketika ada teman yang mengajak pergi untuk berwisata misalnya, mengingat kurang afdhol jika menuntut ilmu di luar kota domisili tetapi tidak pernah tadabur alam. Ketika waktunya tidak memungkinkan, cobalah untuk menyesuaikan jadwal sehingga tidak mengganggu aktivitas mondok ataupun kuliah, tetapi tetap bisa berwisata.

Lelah? Beristirahatlah...

Nah, seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa melakukan dua hal bersamaan tentu tidaklah mudah. Sering kali ketika santri merasa lelah, lantas memutuskan untuk menyerah lalu ....? Yap benar, jawabannya yaitu menikah. Padahal tidak begitu, karena ketika kita memutuskan menikah, maka justru kita akan mendapatkan kelelahan baru karena menikah tidak semudah dan seindah seperti yang kita bayangkan.

Apalagi santri putri, ketika menikah, santri putri akan mengalami pengalaman biologis baru yaitu hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui. Belum lagi jika berada pada budaya pernikahan patriarki dimana pada pernikahan tersebut, pihak istri identik harus mengerjakan pekerjaan domestik.

Oleh sebab itu, ketika kita merasa lelah karena harus mondok sambil kuliah, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah beristirahat, me-refresh kembali tenaga dan pikiran. Lalu bersyukur, karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang kita dapatkan. 

Kemudian, berbanggalah karena waktu muda kita dilakukan tidak sia-sia begitu saja karena kita melakukan kegiatan yang produktif dan sangat memaksimalkan waktu untuk hal-hal yang positif di usia muda. Ujian pasti ada, tetapi jika kita mampu melewatinya berarti kita lulus ujian hidup dan memang diberikan kesanggupan oleh Allah untuk melaluinya, karena Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya.

Sabar dengan Proses Menuntut Ilmu

Seperti yang disebutkan dalam kitab Ta'lim Muta'lim bahwa menuntut ilmu membutuhkan kecerdasan, sungguh-sungguh, sabar, materi (dana pendidikan), mengikuti petunjuk guru, dan membutuhkan waktu.


Oleh sebab itu, jika merasa "Kok saya gak lulus-lulus, kok saya gak selesai-selesai ngajinya?" Jawabannya adalah sabar dan tetap tekun karena setiap orang memiliki momen "this is my turn" yang tidak bisa dipukul rata sekalipun dengan teman sekelas atau teman seasramanya.

Meminta Doa Restu dan Mengamalkan Amalan dengan Khusyu'

Terakhir, tentu segala pencapaian baik mondok maupun kuliah, ada rasa terbesit ingin memberikan hasil yang terbaik minimal untuk diri sendiri, orang tua, dan lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, tidak afdhol jika menuntut ilmu baik di pondok ataupun di bangku perkuliahan jika tidak meminta restu dari orang tua dan pengasuh pondok.

Selain itu tentu mengamalkan wirid-wirid yang sudah didapat dari pondok untuk menunjang proses kegiatan selama menuntut ilmu dengan khusyu'. Misal dengan rutin sholat malam, sholat dluha, puasa senin kamis, dan sejenisnya. Demikian ulasan tips sukses mondok sambil kuliah kali ini. Semoga pengalaman ini dapat diambil manfaatnya. Sekian, semoga bermanfaat. Silahkan tinggalkan jejak terbaik di kolom komentar :)

Kata kunci: Mondok sambil Kuliah, Santri Berprestasi.
Karimah Iffia Rahman
Karimah Iffia Rahman Seorang ibu yang kini melanjutkan studi S2 jurusan Kebijakan Publik. Karya pertamanya yang berhasil diterbitkan berada dalam Buku Antologi Menyongsong Society 5.0. Sebagian pemasukan dari artikel berbayar pada blog ini disalurkan untuk pendidikan anak-anak yatim dan duafa. Untuk bekerjasama ataupun menjadi donatur pendidikan S2 yang sedang ditempuh, dipersilahkan menghubungi via iffiarahman@gmail.com

2 komentar untuk "Tips Sukses Mondok Sambil Kuliah ala Ibukafa"

  1. Wah, aku malah nggak kebayang kalau bisa dijalani barengan. Yang terbayang, pondok itu keterikatannya besar dan belum tentu boleh aktivitas di luar, terlebih untuk kuliah yang lumayan menuntut komitmen. Beda dengan kuliah bersamaan dengan kerja kantoran misalnya. Tapi ternyata ada juga ya, yang bisa mondok sekaligus kuliah.

    BalasHapus
  2. Kalau bisa bagi waktuu emang kayaknya bisa yaa kak iff. Buktinya kak iff ini. Udahlah kuliah lagi, ngurus anak, ngurus komunitas, ngajar, waah ga kebayang gimana energinya. Sehat selalu kak

    BalasHapus