Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Surat Cinta untuk Kafabillah 222324

Surat Cinta untuk Kafa ke Dua Puluh Dua

Kafa, Ibu menulis surat ini setelah Kafa tertidur pulas hanya dengan sebuah pelukan dari Ibu. Malam ini Ibu yang sedang rebahan tiba-tiba didatangi oleh Kafa dan Kafa pun Ibu peluk. Sambil mengantuk tidak lama, Kafa pun tertidur. Ibu ingat bahwa hari ini adalah tanggal 6 Oktober, tetapi Ibu lupa bahwa kini di setiap tanggal 6 ada momen penting dalam kehidupan Ibu.

ibukafabillah
Surat Cinta untuk Kafa

Pertama, setiap tanggal 6, Kafa selalu bertambah usia disetiap bulannya. Kedua, setiap tanggal 6, Ibu dan anggota keluarga lainnya mengenang kepergian Engkong. Ya Kafa, doa kita di penghujung tulisan bulan lalu bukan lah takdir yang Allah gariskan. Allah menakdirkan garis kehidupan yang lain untuk Engkong khususnya. Mudah-mudahan Engkon senantiasa bahagia di alamnya kini dan kelak kita akan dipertemukan di waktu yang tepat.

Kafa, maafkan ibu belum bisa menjadi Ibu yang baik untuk Kafa. Kini ibu semakin rajin menulis karena ibu sadar, saat ini Allah sedang membuka pintu rejeki keluarga kita melalui jalan ini. Tetapi sering kali yang ibu lakukan adalah memberikan gawai pada Kafa ketika ibu menulis karena itu salah satu hal yang membuat Kafa senang.

Sesungguhnya ibu sedih. Tetapi sementara waktu yang terjadi saat ini seperti itu. Bahkan demi menemani Kafa dan mengerjakan sebuah tulisan, Ibu jarang sekali membantu pekerjaan domestik apalagi semenjak satu bulan terakhir ini. Ibu tidak tahu apa yang ibu lakukan ini salah atau benar.

Ibu mulai tidak ambil pusing dengan berbagai keharusan-keharusan dalam kehidupan patriarki. Ibu memilih menenangkan pikiran dan tubuh ibu meski beberapa kali ibu sadar ibu sedang dibicarakan. Tetapi ibu bersikap biasa saja. Ibu tidak mau tertekan, karena terakhir kali keadaan itu terjadi pada ibu, ibu berusaha keras untuk pulang ke Jakarta dan ternyata saat itu pula lah kesempatan terakhir Ibu bertemu dengan Engkong.

Di sisi lain ibu bersyukur, karena ibu sudah tidak memusingkan pikiran-pikiran yang bersliwiran ini, maka hidup ibu lebih tenang. Walaupun tentu sebenarnya ibu sedih karena tidak enak dan tentu dipandang tidak menjadi wanita khususnya istri-ibu-mantu yang sesungguhnya. Ah, hidup memang pelik. Apalagi jika mendengar pertanyaan kapan Kafa akan bicara sepatah dua patah kata. Ibu juga tidak bisa menjawabnya.

Tetapi ibu yakin sebentar lagi ibu akan mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Kafa, apa itu, ibu kafa mau makan, kafa mau bobo, tidak mau, mau pup, mau mandi, dan lainnya. Ibu yakin sebentar lagi Kafa akan mulai berbicara.

Kafa, saat ibu menulis surat ini, ini adalah malam terakhir kita berada di Samarinda untuk bulan dan tahun ini. Karena besok kita akan kembali ke Jakarta. Sesungguhnya ibu cemas, mengingat kini kehidupan di Jakarta berbeda cukup banyak setelah kepergian Engkong. Tetapi ibu harus yakin akan pertolongan Allah. Semoga ibu dan ayah serta anggota keluarga yang lain bisa meneruskan perjuangan Engkong.

Selama sebulan semenjak kepergian Engkong, Ibu dan ayah tidak lagi belajar usaha ayam. Kami kembali ke rumah Pakde Valthen dan mengirim doa untuk Engkong selama sepekan. Sebetulnya sebelum tujuh harian Engkong, ibu dan ayah akhirnya diizinkan untuk ke Jakarta oleh Bunda Uti, tetapi ternyata takdir berkata lain. Setelah rapid ayah, ibu dan Kafa diharuskan swab dan menunggu hasil swab selama dua minggu.

Tetapi parahnya selama dua minggu bahkan tiga minggu tidak ada kejelasan hasil swab selama kita melakukan isolasi mandiri. Ternyata hal itu dikarenakan ada eror pada data laboratorium dan kita tidak langsung dihubungi padahal sudah memberikan narahubung apabila hasil lab keluar. Ibu tau hal ini karena ibu hampir setiap beberapa hari sekali menghubungi pihak lab untuk mengetahui hasil swab kita bertiga.

Karena menunggu hasil swab, maka ibu lebih sering diam di kamar bersama Kafa. Jarang ikut masak atau hanya membantu sekedar mencuci piring. Sambil menulis dan mempersiapkan Mubadalah Virtual Class, hanya itu yang sering ibu lakukan.

Perkembangan Kafa bulan ini, akhirnya ibu menimbang lagi berat badan Kafa dan berat Kafa berada di angka 11.2 kg. Ibu yakin sebelumnya mungkin bisa saja berat Kafa lebih dari itu, tetapi karena kemarin Kafa sempat sakit demam dan batuk pilek, maka dengan berat seperti itu dan diberi sehat wal afiat kembali ibu sudah sangat bersyukur.

Kafa suka sekali main air dan berimajinasi sedang bermain robot-robotan meskipun robot tersebut bukan mainan robot melainkan hanya botol-botol minyak telon dan kawanannya. Kafa juga sudah bisa ngupil, wkwkwk. Lucu sekali melihat anak bayi sudah bisa ngupil, maaf ya ibu tulis tetapi memang lucu. Kafa sangat berani dan kuat. Sudah bisa naik turun tangga sendiri meski tetap harus diawasi.

Sangat suka nasi goreng, dan tomyam kaldu ayam (tidak pedas). Kafa juga sangat suka ngemil promina rasa jagung keju. Kafa, ibu tidak tahu nanti di Jakarta kehidupan yang kita jalani akan seperti apa, tetapi ibu harap, Allah akan senantiasa memberikan pertolongan pada kita semua, khususnya meneruskan apa yang sudah Engkong perjuangkan dan semoga juga sebelum genap 2 tahun usia Kafa, Kafa sudah mulai berbicara satu kata per kata.

Selamat naik bulan ya anakku sayang, semoga tumbuh menjadi anak yang sholih, sehat, sempurna, pintar, dermawan, dan murah rejeki. Dari ibu yang belum bisa memaksimalkan rasa sayang Ibu pada Kafa. Im so sorry even I love you.

Surat Cinta untuk Kafa ke Dua Puluh Tiga

Hi anak sholih, lagi-lagi ibu menulis surat ini ketika Kafa tidur sore hari dan ayah pergi ke Central Park. Bulan ini ibu tidak banyak menulis, tidak ada 10 tulisan dalam sebulan. Hal itu karena akhir-akhir ini ayah dan ibu sedang sibuk mengurus perpindahan domisili dan printilan lainnya.

Ya, bisa dibilang sudah sebulan lebih Kafa, ayah, dan ibu sekarang menetap di Jakarta. Bahkan domisili kita pun bukan lagi menjadi warga Magelang, tetapi warga Jakarta. Sebenarnya sih ibu belum siap, karena selalu begitu. Ketika kepepet atau butuh seseorang untuk di Jakarta, barulah keluarga meminta ibu untuk menetap.

Sekarang ibu dan ayah menetap di Jakarta diminta untuk membantu mengurus yayasan. Ibu di pondok dan ayah di masjid. Tetapi jujur saja masih banyak yang ibu tidak ketahui selain hanya untuk formalitas dan mengajar ngaji sehari-hari.

Pertama kali datang ke Jakarta sudah tidak ada Engkong. Rasanya sepi sekali, seperti ada yang kurang. Malam harinya ketika ibu dan ayah hendak beristirahat, ibu mematikan lampu kamar. Oiya, ibu, ayah dan Kafa saat ini menempati kamar yang dulunya ditempati oleh Yangti dan Engkong. Lampu yang tadinya dimatikan, tiba-tiba menyala sendiri, cetek, jelas sekali bunyinya. Ibu dan ayah saling bertanya siapa yang mematikan lampu. Sejak saat itu lampu kamar tidak benar-benar kami matikan.

Seperti biasa, semenjak di Jakarta, Kafa sulit sekali untuk makan. Badan Kafa juga mulai mengurus dan kulit Kafa tidak semulus dulu entah karena tidak cocok dengan airnya atau bagaimana ibu juga kurang paham. Ibu sebenarnya sedih, tetapi ibu bingung, kalau dipaksa, Kafa nanti mengelak. Jadi sebisa mungkin ibu dan ayah menyediakan camilan kesukaan Kafa, seperti snack keju 8+ dari Promina, good time, malkist abon, chitato, dan sejenisnya.

Tetapi ayah dan ibu ingat menu favorit Kafa yaitu nasi goreng. Jadi kadang-kadang ibu membuatkan Kafa nasi goreng atau ayah pergi keluar untuk membelikan Kafa nasi goreng. Kafa juga ternyata suka dengan susu bebelac soya, alhamdulillah, hihi, karena susu tersebut ibu dapat free samplenya secara cuma-cuma.

Karena menetap di Jakarta, maka ayah dan ibu pun berusaha untuk kembali ke Magelang untuk membersihkan rumah Mbah Lek Arwan yang dulu sempat kita singgahi beberapa tahun di awal pernikahan ayah dan ibu. Ibu dan ayah ke Jogja ikut rombongan travel Om Firas, temannya ayah. Palawa Tour. Lebih aman dan nyaman untuk berpergian jarak jauh karena tidak memerlukan rapid test dan sejenisnya.

Kita bertemu di Central Park, kemudian kembali ke rumah untuk berpamitan pada Yangti setelah salat Maghrib di sana. Setelah berpamitan, kita kemudian berkemas, salat Isya' dan berangkat ke Bogor. Di Bogor kita menginap di rumah Om Firas, bertemu dengan bapak ibunya. Kafa pulas sekali tidur di sana, alhamdulillah.

Bapaknya Om Firas sangat suka berdiskusi, maka sesampainya di rumah, kita banyak mengobrol ngalor ngidul, paginya pun begitu sebelum berangkat ke Jogja. Kafa dihadiahi oleh Ibunya Om Firas mainan tempel mobil sebelum berangkat. Sehabis itu, kita pun berangkat lewat jalur tol dan mampir di Pemalang untuk menjemput penumpang lainnya yang ternyata masih alumni Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Tetapi karena sebelumnya pas di rest area ibu dan ayah salah makan, maka sesampainya di Magelang (malam hari) ibu dan ayah lemas dan sakit. Untungnya Kafa tidak begitu juga dan Om Firas. Baru keesokan harinya kita pergi bersilaturahmi ke rumah Mbah Lek Arwan untuk meminta kunci rumah agar bisa membersihkan rumah.

Selama 10 hari ayah dan ibu membersihkan rumah dibantu oleh Pak Abror dan juga Budhe Jihan dan Pakde Masykur. Alhamdulillah meski masih ada beberapa barang yang belum bisa terangkut tetapi secara garis besar rumah sudah mulai kosong. Tinggal beberapa barang dan juga kayu-kayu dagangan ayah yang masih menumpuk satu outlet. 

Sewaktu di Jogja ayah dan ibu sedikit bernostalgia, makan Olive, makan nasi kucing di angkringan Agus Krapyak, sowan ke ndalem Dongkelan. Alhamdulillah ibu diberi ijazah ayat-ayat hafadzah oleh Bunyai Fatma. Pondok sudah sangat berbeda, bangunannnya lebih bagus, santrinya juga banyak dan lebih rajin tentunya. 10 hari tidak terasa, lalu kita pun pulang kembali ke Jakarta, masih  dengan rombongan Om Firas.

Kali ini penumpang lainnya masih alumni Pandanaran, Tante Maftuhah namanya. Karena pulangnya ke Cirebon, maka kami pun bersilaturahmi ke rumah Tante Dzakirotillah. Waktu kita mau pulang Mas Qirel sedih, katanya, "kenapa Om Alfath  (Ayah) dan Tante Ima (Ibu) pulang?" Tapi ayah dan ibu bilang nanti kita bertiga akan kesini lagi ngeberesin barang yang belum selesai. Akhirnya Kafa bertemu lagi dengan Mas Asif dan Mas Qirel walaupun singkat.

Oiya, ibu lupa bercerita, akhirnya kita pergi ke makam Engkong. Nanti ibu ceritakan di postingan yang berbeda ya. Surat ini juga mungkin akan sampai di 23 bulan saja, karena di bulan ke 24 Kafa genap 2 tahun, jadi tentu ibu akan membuatkan postingan tersendiri.

Sejauh ini untuk berbicara, Kafa belum mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Tapi ibu berharap semoga secepatnya Kafa bisa segera berbicara dengan lancar.

Tambahan: Kaki Kafa dibagian telapak kaki kiri pernah terkena knalpot karena waktu itu Kafa ikut ayah dan Om Adil naik motor untuk membeli galon, tetapi Kafa ingin turun lebih cepat. Tiba-tiba Kafa berteriak kesakitan, dan ternyata setelah dilihat ada gelembung di telapak kaki Kafa. Alhamdulillahnya sekarang lukanya sudah mulai membaik. Semoga sehat selalu ya anak ibu yang tambah ganteng, rambutnya lagi gondrong, dan sudah mulai bisa merajuk mewek kalau ingin sesuatu.

I love you. Kalau ada yang kurang seperti biasa nanti ibu tambahkan ya :)









Karimah Iffia Rahman
Karimah Iffia Rahman Seorang ibu yang kini melanjutkan studi S2 jurusan Kebijakan Publik. Karya pertamanya yang berhasil diterbitkan berada dalam Buku Antologi Menyongsong Society 5.0. Sebagian pemasukan dari artikel berbayar pada blog ini disalurkan untuk pendidikan anak-anak yatim dan duafa. Untuk bekerjasama ataupun menjadi donatur pendidikan S2 yang sedang ditempuh, dipersilahkan menghubungi via iffiarahman@gmail.com

2 komentar untuk "Surat Cinta untuk Kafabillah 222324"

  1. aaww.. surat untuk Kafa sudah terbit. Btw, memang selalu ada kelucuan diusia Kafa sih bu. bahkan cuma sekedar ngupil ya, wkwk..

    Sehat terus Kafa sekeluarga, peluk jauuuh :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, terima kasih mama abang rashid :)
      sending virtual hug juga :)

      Hapus

Berlangganan via Email