-->

SURAT CINTA UNTUK KAFABILLAH EDISI 192021

SURAT CINTA KESEMBILAN BELAS UNTUK KAFA

Halo anak sholih, selamat 19 bulan ya sayang...

Muhammad Kafabillah Amary
Surat Cinta Edisi 192021 Bulan

Sejujurnya bulan ini ibu sedang dikejar deadline dan target menulis. Tetapi mengingat surat cinta untuk Kafa edisi ke 19 bulan ini belum ibu buat dan sudah terlewat satu minggu dari tanggal 6 Juli 2020, akhirnya ibu memutuskan untuk mendahulukan Kafa. Gak apa lah dikejar deadline, karena jujur energi ibu sedang habis. Ibu sering lelah akhir-akhir ini, mungkin karena perpindahan rumah. But it's okay...

Sebulan kemarin Ibu berhasil nulis minimal 10 tulisan untuk di unggah di blog, Mubaadalah News, dan media online lainnya. Cape tapi seneng... Meski nulisnya nyuri-nyuri waktu, meski mau nulis tapi Kafa lagi mau main sama Ibu akhirnya tertunda, meski pas mau nulis ayah minta tolong ina inu. Ya, memang tidak mudah bekerja sebagai freelancer plus stay at home mom. Tetapi ibu berusaha untuk tidak menyerah sampai titik ibu merasa baik, sepertinya kita harus istirahat sejenak meratapi keluh kesah ini.

Sebulan ini Kafa sudah semakin pintar, tanpa diajak atau diarahkan, Kafa bisa ngajak main petak umpat di sekat kantor Pakde Valthen. Kafa juga sayang dan gemas sekali sama kucing. Kucingnya sampai takut kalau main sama Kafa. Kafa bisa menengadahkan tangan seperti sedang berdo'a, dan mengangkat tangan setinggi telinga seperti sedang takbir. Pernah sekali dua kali Kafa berucap Allahu Akbar dan selamat pagi.

Kafa sudah bisa melawan dan menolak ketika dijahilin, tidak seperti pertama kali datang ke Samarinda sering pasrah menjadi korban. Meski memang untuk bicara, Kafa masih perlu usaha lebih. Pelan-pelan ibu sadar bahwa Kafa adalah anak dengan tipe pembelajar dengan gaya kinestetik dan visual. Kafa suka sekali menonton video dan mencontoh hal apapun yang ada di video Baby Bus yang Kafa lihat. Berlari, pura-pura menyikat gigi padahal kalau disuruh menyikat gigi teriak-teriak.

Anak-anak kinestetik memang cenderung lebih suka praktik langsung daripada berbicara. Kalau diminta mencontohkan gerakan sesuatu Kafa lebih mudah meniru daripada diminta mengulang ejaan. Ibu suka kelelahan sendiri karena Kafa seperti tidak habis-habis energinya. Tetapi yang lebih melelahkan adalah ketika ibu berkali-kali harus mendengar soal perbandingan anak.

Mungkin niatnya baik, membanding-bandingkan untuk memotivasi. Si ini sudah bisa menyanyi lho, Fa. Si itu sudah bisa bilang mamamama. Kafa juga sudah bisa, kadang-kadang kalau ibu gak peka akhirnya Kafa bilang mamamam untuk menyuarakan rasa laparnya. Tetapi memang Kafa lebih sering menunjuk gelas ketika haus daripada berkata num (untuk minum). Jadi ibu dengarkan saja, lumayan, kalau sedih kan do'a ibu jadi lebih khusyu' dan mudah-mudahan (semakin) didengar oleh Allah.

Sebulan terakhir ini, Kafa sudah bisa duduk dimotor sendiri tanpa harus digendong. Jadi kalau pergi kemana-mana, pundak ibu tidak lagi menggendong Kafa karena Kafa sudah mau duduk sendiri untuk melihat sekitar. Sangat meringankan beban ibu apalagi jika mengingat berat Kafa sudah 10,8 kg. Kadang-kadang Kafa tertidur di dalam perjalanan, lucu sekali. Yang masih menakutkan, kadang-kadang Kafa ingin berdiri ketika motor sedang berjalan.

Bulan ini ibu membelika Kafa hadiah smarthafidz hasil dari reward tulisan-tulisan ibu yang dimuat di media online. Sisanya hasil dari reward ibu sewaktu mengajar mengaji selama di Jakarta. Belinya di teman SMP ibu, itung-itung ngelarisin usaha teman. Alhamdulillah... Jadi setelah ada smarthafidz, Kafa sudah tidak sesering dulu main gawainya. Ya kadang-kadang tetap ibu beri youtube di waktu-waktu tertentu. Tetapi seringnya Kafa menonton di smarthafidz.

Menu favorit Kafa yang terbaru adalah Nasi Goreng dan Pop Mie. Pop Mie sebenarnya sama seperti mie-mie yang sebelumnya Kafa konsumsi. Siapa sih yang gak tahan dan gak doyan sama mie? Cuma ibu juga gak mau makan mie banyak-banyak, jadi ibu nyetok popmie mini.

Nah kalo nasi goreng ini akhirnya menjadi andalan ketika Kafa malas makan seharian. Kalau seharian udah gak makan, ibu langsung aja bilang ke ayah, "yang, tolong beli nasi goreng.". Kalau nasinya sudah sampai, pasti tanpa dipaksa Kafa langsung mau makan lagi :) Dan itu nasi goreng apapun, baik yang di dekat rumah maupun yang di Tepekong.

Ya sudah segini dulu, bulan depan bicaranya tambah lancar ya sayangku. Semoga di fase new normal ini kita senantiasa diberikan kesehatan... Sampai jumpa ditulisan yang akan datang ya :) Terima kasih sudah berkenan mampir, silahkan tinggalkan jejak terbaik di kolom komentar :)

SURAT CINTA KE 20-21 UNTUK KAFA

Akhirnya hari ini ibu memberanikan diri untuk menulis perjalanan Kafa di usia ini. Sebenarnya agak sedih cerita kali ini. Tapi Kafa harus tau ceritanya. Setelah sekian lama di Samarinda, akhirnya Kafa pulang ke Jakarta sebelum Engkong ulang tahun tanggal 5 Agustus 2020. Engkong senang sekali dengan perpulangan Kafa kali ini. Engkong bertanya kepada ibu mau dibelikan apa? Ibu hanya menjawab, martabak.

Ketika Engkong ulang tahun, Engkong bahagia sekali hampir semua anak dan cucu-cucunya berkumpul. Meski perayaannya sederhana, namun bagi Engkong ini adalah perayaan istimewa. Apalagi jika mengingat tidak beberapa lama setelah Engkong ulang tahun, Engkong jatuh sakit. Karena membeli kue secara mendadak dan lebih dari jam 9 malam, akhirnya ibu dan Bude Tia berkeliling mencari toko kue.

Alhamdulillah setelah mondar sana mondar sini, ibu mencoba mencari lewat internet dan ternyata ada toko kue 24 jam. Kami pun memesan kue yang sudah tersedia disana. Kami tulis di atas kue tersebut, "HBD Engkong, We Love You". Kemudian kami sekeluarga berencana tanggal 15 Agustus nanti pergi ke Majalengka untuk menjenguk Om Adil sekaligus menghadiri acara khitan keluarga disana, kemudian melanjutkan perjalanan ke Magelang untuk mengecek rumah.

Tapi semua rencana itu kandas ketika minggu sebelumnya Ibu, Kafa, Tante Kiki, Tante Ririn, dan Bude Tia pergi ke Banten untuk menghadiri pernikahan seorang teman. Seusai menghadiri pernikahan kami mampir sebentar ke Pantai Karang Bolong. Bersama sebagian rombongan, Ibu hanya duduk-duduk di tepian pantai karena merasa sudah lelah. Sedang yang lain mencari spot foto yang instagramable.

Sesudahnya karena perjalanan menuju Jakarta masih panjang, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di rumah salah satu teman. Cukup lama kami di sana karena ada kelas google meet yang harus ibu ikuti dan juga Bude Tia perlu istirahat. Tetapi karena kelas tak kunjung selesai, akhirnya ibu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang dan mengikuti kelas google meet di dalam mobil.

Sebelum sampai di rumah dalam perjalanan pulang, ibu sudah merasa tidak enak badan. Badan ibu menggigil kedinginan, ibu fikir AC di dalam mobil terlalu dingin. Tetapi yang lain merasa tidak. Akhirnya sesampainya di rumah, ibu langsung tertidur. Apalagi ibu merasa badan Kafa agak hangat. Semua yang berpergian hari itu langsung beristirahat.

Keesokan harinya, kami semua tidak enak badan. Seperti meriang, flu, pusing, dan seperti ingin batuk. Akhirnya ibu meminta untuk dicarikan tukang pijat, namun tidak ada tukang pijat di sekitar rumah karena pandemi ini permintaan jasa pijat menurun. Ibu pun berinisiatif menelpon Mba Nas dan ternyata Mba Nas  tidak pulang kampung ke Madura. Ibu, Kafa, Tante Kiki, Kakak Y, dan Bude Bila akhirnya pergi ke rumah Mba Nas untuk pijat. Semua dipijat termasuk anak-anak kecil.

Setelah dipijat, badan ibu terasa agak mendingan, begitu juga dengan Kafa. Akhirnya ibu ingat, ibu punya madu dari Madu Azura. Ibu pun mengonsumsi madu dan juga mengonsumsi obat paracetamol. Beberapa hari kemudian ibu pun membaik. Namun anggota keluarga yang lain masih belum juga membaik seperti Bude Tia dan Tante Kiky. Kafa meski sudah sembuh tetapi jarang sekali makan karena selalu menutup mulut.

Tiba-tiba saja Engkong mengeluh badan Engkong tidak enak badan. Ada rasa sesak di dadanya dan juga meriang. Rencana kami untuk pergi ke Majalengka dan seterusnya pun batal karena saat Engkong sakit, Yangti pun menyusul sakit tak lama kemudian. Suatu pagi tante Kiky menangis karena Engkong dikelilingi oleh para santri yang sedang membaca surah yasin.

Engkong seperti meringkuk kesakitan, akhirnya kami pun memutuskan membawa Engkong ke klinik Cendana. Ketika diperiksa, tensi badan Engkong tinggi, mereka bilang gejala hipertensi ada pembengkakan jantung. Setelah mengonsumsi obat, Engkong agak membaik, dan beraktivitas kembali seperti biasanya, mengajar ngaji dan pergi ke kantor. Padahal kami sudah bilang untuk beristirahat dulu di rumah.

Akhirnya Engkong pun kembali sakit. Saat itu hampir seminggu Kafa tidak mau makan. Ibu khawatir, begitu pula dengan ayah. Akhirnya ayah menawarkan ibu untuk kembali ke Samarinda mengingat surat keterangan rapid test ibu belum genap 14 hari. Ditambah sebentar lagi ayah akan memulai proses belajar usaha fried chicken dan ibu diminta untuk menemani.

Ibu pun akhirnya pergi ketika Engkong masih menahan sakit. Ditengah kesakitan itu ketika berpamitan, Engkong masih saja berkata, "Ima, nanti ayah belikan sepeda ya untuk Kafa, hadiah sunatan." Ibu sedih sekali. Sambil mencium pipi Engkong dan salim, Ibu mendoakan agar Engkong lekas sembuh. Begitu juga dengan semua keluarga yang sedang sakit.

Kafa dan Ibu diantar ke bandara oleh Bude Tia, Tante Ririn, dan Tante Kiki. Bawaan kami tadinya sedikit cukup untuk dibagasi, tetapi menjadi tidak cukup karena Yangti menitipkan oleh-oleh untuk keluarga di Samarinda satu kardus penuh. Akhirnya ibu agak kesulitan membawa barang dan juga menggendong Kafa di waktu yang bersamaan. Apalagi jika mengingat Kafa sepanjang perjalanan sangat tidak kondusif.

Untung ada bapak-bapak yang berbaik hati ditengah pandemi seperti ini beliau menawarkan bantuan membawa barang. Bahkan beliau hampir menawarkan tumpangan untuk mengantar sampai ke rumah jika Kafa dan ibu tidak ada yang menjemput. Ibu sangat terbantu namun ibu tidak menerima tumpangan beliau karena ayah sedang dalam perjalanan menuju bandara.

Setelah itu, ibu dengar kabar dari keluarga di Jakarta bahwa Engkong baru saja menjalani rapid test dan hasilnya negatif. Tapi Engkong harus dirawat di rumah sakit karena masih terus mengalami sesak. Untuk menjadi pasien rumah sakit, Engkong harus menjalani swab test covid sebelum di rawat di rumah sakit. Engkong selektif memilih rumah sakit karena Engkong takut jika ternyata sakit yang Engkong alami ini adalah sakit akibat pandemi. Engkong takut tidak bisa pulang ke rumah seperti kebanyakan berita yang beredar di media.

Tetapi akhirnya tepat tanggal 17 Agustus Engkong dirawat di rumah sakit swasta. Tiga hari kemudian Yangti menyusul dirawat di rumah sakit negeri dengan gejala yang sama seperti yang Engkong rasakan. Tanggal 25 Bude Tia menyusul dirawat namun tidak di rumah sakit karena gejala yang dirasakan tidak seberat Engkong maupun Yangti.

Ibu yang sudah di Samarinda menemani ayah belajar usaha kuliner, akhirnya hanya bisa menangis sambil memantau perkembangan kesehatan keluarga melalui gawai dan mendoakan yang terbaik. Sesekali ibu membantu apa yang bisa ibu bantu. Kafa, ibu pun bernadzar untuk kesehatan Engkong, Yangti, dan untuk semua keluarga khususnya yang sedang menjalani proses penyembuhan.

Semoga do'a Ibu, dan do'a kita semua sekeluarga serta do'a orang-orang yang peduli dengan keluarga kita dikabulkan oleh Allah dan Allah memberikan kesempatan kedua untuk keluarga kita berkumpul bersama kembali di rumah.

Perkembangan Kafa dua bulan ini Kafa senang berlari, senang berputar-putar dan menyanyi, meski menyanyinya belum jelas bunyinya. Kafa sudah bisa bilang lari, aduh, ayah, mamam, hmmm apalagi yaaa... Karena terlalu sering makan ayam, jadi Kafa suka malas kalau makan ayam, menu favorit Kafa masih sama, nasi goreng.

Sekian dulu ya Kafa, nanti ibu lanjutkan kembali di surat yang akan datang. Selamat ulang bulan ke 21 anakku. Tumbuh sehat, ceria, sholih, dan berbakti yaaa... Semoga kita dapat berkumpul lagi bersama Engkong, Yangti, dan semua anggota keluarga yang kita sayangi dan menyayangi kita.



















Karimah Iffia Rahman
Seorang perempuan sagitarius yang hidup dalam peran ganda sebagai istri, ibu, dan penulis lepas. Karya pertamanya yang berhasil diterbitkan berada dalam Buku Antologi Menyongsong Society 5.0

Related Posts

1 komentar

  1. Masya Allah, ibuu.. Bagi semangatnya dooong, huu..
    Kalo buat anak, yg laen mah lewat ya bu.. Insya Allah kalo ibunya begini mah, anaknya pasti hebat. Semangat buat kita semua.. Aamiin..

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter