Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengajari Anak Menulis di Usia Tiga Tahun

tahapan menulis pada batita
Mengajari Anak Menulis di Usia Tiga Tahun

Ibu dan Nana Belajar Menulis Bersama (Sebuah Cerpen) 

“Ibu.... Ibuuuuu.” Nana berteriak dan berlari menghampiriku. Ku lihat putri kecilku kini telah tumbuh semakin besar. Usianya kini sudah 3.5 tahun. “Ibu, Nana mau nulis.” Ungkapnya dengan gaya bicara anak batita. “Oh, Nana ingin belajar menulis?” tanyaku memperjelas perkataannya. Ia mengangguk. “Boleh.” Lanjutku. Nana berteriak kegirangan, “Yeee.....”. Oke berarti sekarang waktunya ibu mengajari anak menulis, batinku.

Mengajari Anak Menulis

Sejak kecil ia sering melihatku menulis, membaca dan membuka laptop karena begitulah setiap hari yang aku lakukan sebagai freelance content writer dan juga seorang ibu dari satu anak. Aku sadar bahwa dimasa adaptif ini, Nana menyerap segala hal dari apa yang aku dan suamiku lakukan.

Ia suka menari dan bernyanyi. Suka meminta untuk dibacakan dongeng sebelum tidur. Suka mewarnai dan menulis meski yang ia gambar atau yang ia tulis hanya terlihat sebagai sebuah benang kusut. Tapi itulah proses yang harus ia lalui.

Baca juga: Perjalanan Menulis Bersama Kafa

Aku pernah membaca sebuah artikel yang diunggah di situs Dancow, dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa anak akan mulai belajar menulis dimulai dari belajar menarik garis, menggambar lingkaran, menghubungkan titik demi titik, dan juga mewarnai. Maka meski gambar Nana belum berbentuk, aku tetap mengapresiasinya bahwa yang ia lakukan adalah sesuatu yang hebat.

Aku mengajak Nana ke kamar tidurnya. Kami sengaja tidak memisahkan ruang bermain dan ruang tidurnya. Namun dengan memberi matras berbentuk kumpulan abjad, kami bilang padanya bahwa di sanalah ia boleh bermain. Aku mengambil dua buku gambar dan dua alat tulis. Untuk Nana dan untukku tentunya.

Alat tulis Nana aku pilih dnegan alat tulis yang lebih besar agar lebih mudah digenggam olehnya. Kemudian tanpa diminta Nana langsung mulai membuat lingkaran-lingkaran kecil yang asimetris. Yah, itulah yang ia maksud untuk menulis.

Kemudia agar suasana belajar menulis tidak kaku dan membosankan, aku mulai menyanyi sambil merangkai sebuah lingkaran menjadi seekor panda. “Lingkaran besar, lingkaran besar, lingkaran besar. Lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran kecil. Enam, enam, tiga puluh enam. Enam, enam, tiga puluh enam. Yeee jadi deh mama Panda.” ucapku.

Baca juga: Tips Agar Tulisanmu Diterima di Mubadalah.id

Nana yang tadinya asik sendiri langsung melihat hasil karyaku. “Nana juga mau membuat seperti ini Ibu.” Pintanya. “Oke baiklah, tapi sambil menulis, ikuti ibu menyanyi juga yaaa...” pintaku. Nana mengangguk. Kami pun bernyanyi bersama. “Lingkaran besar, lingkaran besar, lingkaran besar. Lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran kecil. Enam, enam, tiga puluh enam. Enam, enam, tiga puluh enam. Yeee jadi deh anak Panda dan papa Panda” ujarku.

Nana senang sekali. Ia jadi membuat banyak keluarga Panda dibuku gambarnya. Sedangkan aku merekamnya untuk aku bagikan kepada ayahnya yang sedang dinas di luar kota. “Ibu, Ibu, ini pandanya namanya Ibu yang ada mahkotanya.” Jelas Nana sambil menunjuk salah satu panda buatannya ketika aku merekamnya. “Yang ini ayah panda” tunjuknya pada Panda yang memiliki kumis. “Yang ini putri panda, namanya Putri Nana”. Usainya bercerita.

Baca juga: Terbitkan Ceritamu Jadi Buku

Aku pun menimpali, “Waaa... bagus sekali. Nama ibu pandanya siapa Nana?” tanyaku. “Namanya Ibu Mira.” Jawab Nana. “Kalau ayahnya?” tanyaku lagi. “Ayah Thomas”. Betapa senangnya aku, Nana sudah bisa menyebutkan siapa nama orang tuanya. “Hebat sekali, Nana. You did it so well” pujiku padanya. “Thank you...” ucap Nana tersipu malu.

Aku yakin, cepat atau lambat Nana akan semakin mahir dalam menulis dan membaca. Semoga aku senantiasa membersamai tumbuh kembangnya dengan optimal. Tamat.

Keyword: Belajar menulis, mengajari anak menulis, anak batita menulis

Karimah Iffia Rahman
Karimah Iffia Rahman Seorang ibu yang kini melanjutkan studi S2 jurusan Kebijakan Publik. Karya pertamanya yang berhasil diterbitkan berada dalam Buku Antologi Menyongsong Society 5.0. Sebagian pemasukan dari artikel berbayar pada blog ini disalurkan untuk pendidikan anak-anak yatim dan duafa. Untuk bekerjasama ataupun menjadi donatur pendidikan S2 yang sedang ditempuh, dipersilahkan menghubungi via iffiarahman@gmail.com

6 komentar untuk "Mengajari Anak Menulis di Usia Tiga Tahun"

  1. emang baiknya berarti di stimulasi dikit2 ya mbak, misalkan dikasih alat tulis biar si kecil mainan sambil corat coret gitu

    BalasHapus
  2. umur 3 tahun anak udah mulai tertarik memegang pensil atau pulpen yaa, biasanya mereka coret-coret dan mewarnai pas seumuran segitu.. kita perlu mendampingin dengan memfasilitasnya ya

    BalasHapus
  3. bang Rasyiid juga mulai nulis pas umur 3 tahun nih, sekarang alhamdulillah udah bisa bentuk-bentuk huruf sendiri, meskipun masih diberi contoh, hihi..

    BalasHapus
  4. anak usia dini memang harus di stimulus ya agar terbiasa menulis walau awalnya pasti agak sulit belajar menggengam pinsil atau crayon. Kilan juga sama nih, lagi ada di tahap ini

    BalasHapus
  5. Aku kalau usia 3 tahun masih fokus di motorik halusnya sih.. megang pensil dengan benar.. biar otot2 tangannya kuat. Nanti baru pelan2 belajar bikin bentuk dan mewarnai.. baru deh kalau udh tertarik huruf.. bisa mulai nulis huruf.

    BalasHapus
  6. diajarkan mungkin boleh saja ya kak, asal gak dipaksakan untuk bisa ya :) mungkin lebih ke mengenal aja gt corat coret dulu lah buat pemansana yaa biar anak gak kaget sama kegiatan menulis hihi

    BalasHapus