Find The Author in You; Sebuah Perjalanan Menulis



Setiap orang yang gemar menulis pasti pernah terbesit di dalam fikirannya ingin memiliki sebuah karya tulis yang bisa dibukukan dan dibaca banyak orang. Begitu pula dengan setiap mimpi yang ditulis menjadi wishlist. Konon katanya, jika seseorang membuat wishlist atau menulis dan memvisualisasikan harapan-harapan yang ingin dicapai di dalam hidupnya, suatu hari, entah kapan, pasti harapan tersebut akan terwujud.

Aku pun begitu.

Meski aku sadar tulisanku masih banyak yang perlu dibenahi, malah terkadang aku menulis sesuka hati, tak beraturan, sehingga diperlukan editan disana sini, tetapi yang aku lakukan aku tetap menulis.

Tetapi pada dasarnya aku senang menulis. Bahkan tulisanku lebih hidup daripada ketika aku berbicara. Karena bagiku, tulisan adalah salah satu upaya berkomunikasi bagi sebagian orang, khususnya aku. 

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, aku rajin menulis. Buku catatanku selalu rapi dan lengkap. Meski waktu itu aku belum percaya diri untuk mengikuti lomba sinopsis yang sering ditawarkan oleh guruku. Kegemaranku menulis masih berlanjut sampai tingkat sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA). Saat SMP aku rajin menulis untuk majalah dinding (mading) milik sekolah. Bahkan selama SMP aku sering kali mendapat tugas sekretaris di dalam kepengurusan kelas. Pernah suatu hari saat aku SMP aku menulis sebuah cerita (benar-benar ditulis dengan buku dan tinta pulpen), dan teman-temanku sangat menyukai cerita tersebut. Sayangnya buku tersebut hilang entah kemana. Akhirnya aku pun sempat kehilangan rasa ingin menjadi penulis saat itu.

Memasuki masa-masa 'aliyah (SMA), aku mulai mengikuti kegiatan ekstrakulikuler (ekskul). Sebenarnya saat itu, aku tidak diperbolehkan mengikuti ekskul lantaran aku tidak tinggal di asrama khusus pelajar di pesantren tempat aku mondok saat itu. Tetapi diam-diam aku tetap mendaftarkan diri ke sebuah ekskul yang aku minati dan tidak memakan waktu banyak apalagi kalau bukan ekskul Jurnalistik. Meski aku jarang masuk karena faktor yang aku sebutkan, aku berada di asrama yang berbeda, teman-teman tetap memberikanku job sebagai editor di majalah sekolah kami. Walaupun yah lagi-lagi saat itu karena keterbatasanku, aku tidak bisa membantu banyak alias hanya numpang nama saat majalah itu terbit (antara senang dan sedih sebenarnya). Buku catatanku jangan ditanya, masih serapi dahulu. Bahkan aku menjadi sekretaris khusus pelajaran kitab yang diampu oleh bapak KH. R. Muhammad Faiq (Gus Faiq Krapyak), karena beliau berkata tulisan arabku bagus. Oleh karena itu, setiap pelajaran beliau, sekretaris kelas selalu tergantikan tugasnya olehku. Jika mengingat akan pujian beliau, mendadak aku mengenang sosok nenek dari ibuku yang mengajarkan aku menulis tulisan arab melalui fotokopian pengajian ibu-ibu mingguan yang beliau rintis dan sampai saat ini dilanjutkan oleh ibuku. Khushushon ila Hj. Acih lahal faatihah...

Akhirnya aku lulus dan memasuki bangku perkuliahan. Setiap mata kuliah pasti selalu ada PJ alias penanggung jawab mata kuliah yang bertujuan melobi dosen untuk mata kuliah tertentu. Saat itu aku mendapatkan tugas menjadi PJ mata kuliah Bahasa Indonesia. Dari dosen mata kuliah tersebut lah akhirnya aku yang tulisannya masih berantakan ini memberanikan diri untuk mengikuti ajang menulis di dunia maya. Memang belum pernah aku memenangi ajang tersebut. Paling banter masuk menjadi Finalis 5 Besar. Tapi saat itu aku sudah sangat bersyukur.

Meski begitu aku tetap rajin menulis. Hanya saja catatan perkuliahanku mulai berbeda tidak seperti saat aku duduk di bangku sekolah sebelum-sebelumnya *LOL

Kegemaranku menulis membawakan aku kepada dunia peradminan. Saat aku kuliah dan berada di organisasi (luar kampus), aku sering kali diminta untuk mengisi konten web atau fanpages dan menjadi admin sosial media. Hal tersebut ternyata berlanjut ketika aku menjadi seorang first jober. Bahkan postinganku (dengan arahan pimpinanku seorang drg. yang menurutku manajemennya sangat baik) mendadak viral. Tidak hanya itu, akhirnya aku mendapatkan tumpukan tugas ketika bekerja karena skill ini. Memang kadang melelahkan, tetapi jika bekerja sesuai passion ada rasa senang dan ingin memberikan hasil yang terbaik.

Sebenarnya belum puas aku bekerja, tetapi aku sudah cukup tau bekerja itu seperti apa. Akhirnya aku memutuskan untuk resign setelah menikah. Pasti kalian tahu apa yang tetap aku lakukan, yap, aku masih tetap rajin menulis, meski saat itu blog ini bersarang cukup lama karena aku hanya rajin menulis status di sosial media instagram dan whatsapp.

Sampai ketika aku hamil pun kegiatan menulis masih aku lakukan. Aku menulis tentang momen kehamilan pertamaku dan membuat jurnal kehamilan di sebuah catatan harian. Meskipun tidak semuanya aku unggah di sosial media.

Baca: Jurnal Kehamilan
Uniknya lagi, memasuki usia kandungan trimester 3, tepatnya 15 Oktober 2018, aku malah mengikuti workshop women writer yang diadakan oleh AMAN Indonesia yang bekerja sama dengan Fahmina dan Fatayat Yogyakarta dalam rangka menulis dengan konsep mubaaddalah (setara). Selo banget yah bumil, tapi mau bagaimana lagi, tidak aku pungkiri, kadang jenuh juga kalau hanya di dalam rumah untuk seseorang yang seperti aku yang sebelumnya penuh dengan kegiatan setiap harinya *LOL. Mengikuti kegiatan sejenis ini pun bukan karena aku asal mau ikut, ada maksud dan tujuan pastinya. Hanya saja belum bisa aku ceritakan disini.

Akhirnya aku melahirkan dan hari-hariku dipenuhi dengan tumbuh kembang anak pertamaku. Tapi hal ini tidak menggugurkan impianku. Meredam mungkin iya, tetapi aku tetap menyimpannya di dalam hati sambil ku persiapkan hal-hal yang aku butuhkan untuk suatu hari nanti ketika aku siap kembali berkiprah di luar rumah.

Sampai suatu hari aku bertemu dengan slogan Find The Author in You di sebuah broadcast whatsapp group.





0 Comments:

Post a Comment