Surat Cinta 131415 untuk Kafabillah

Muhammad Kafabillah Amary
Doc. Ayah, Ibu dan Kafa setelah sholat maghrib

Surat Cinta Untuk Kafabillah yang Ketiga Belas


Waktu itu, menjelang kafa berusia 13 bulan, ibu fikir, ah, tidak ada tumbuh kembang yang perlu dipetik hikmahnya. Selain waktu Ibu dan Kafa jatuh bersamaan dari tangga Bank BTPN dekat rumah sepertinya sebulan terakhir ini biasa-biasa saja. Mau cerita sedikit tentang jatuhnya Ibu dan Kafa dari tangga, waktu itu ibu habis transaksi di teller Bank. Nah pas ditangga ayah nelfon, jadilah ibu berniat membuka gawai. Niat mau menerima panggilan eh ibu jadi gak fokus sama tangga, akhirnya keseimbangan ibu jatuh, kaki ibu tertekuk seperti duduk diantara dua sujud kemudian ibu terjun bebas sampai lantai dasar. Waktu itu yang ibu syukuri kafa aman, tidak tertindih sama sekali karena ibu berusaha menahannya meski kaki ibu sakit. Pegawai bank menghampiri ibu, sebetulnya ibu mau menangis, tapi ibu tahan dengan menertawakan kejadian hari itu agar orang-orang tidak terlalu khawatir dan agar ibu segera pulang. Tetapi akhirnya ibu menangis sewaktu perjalanan pulang. Kaki ibu bengkak dan malam harinya Ibu langsung diurut. Sayangnya hasil urutan hari itu tidak mempan, ada benjolan di tulang kaki ibu dan akhirnya ibu urut lagi di Mbak Nas dan alhamdulillah benjolannya langsung hilang selang 3 hari setelah diurut. Yah walaupun saat diurus sakitnya  minta ampun...



Yah, selain itu hari-hari memang terlihat biasa saja. Ternyata ibu ketulah. Sombong!!! Akhirnya Allah menegur ibu dengan sakit.



Awalnya sebulan terakhir ya memang biasa saja. Kafa sudah bisa jalan sendiri, ngoceh makin lancar, sudah bisa mengucap Da untuk panda, Ta untuk Unta, Jah untuk Gajah. Dan ayah untuk kata ayah tentunya. Kadang bilang dah untuk udah kalau sudah kenyang atau gak nafsu makan (seringnya menggeleng). Kadang2 kafa juga bilang mbah untuk neneknya (yangti) 😅 dan yangti kesal kalau dipanggil mbah (kesannya kaya tua banget ceunah). Kadang-kadang memanggil ibu dengan sebutan mbu, kadang juga mamah. Suka2 anaknya lah. Ibu masih okay dan menanggapi panggilannya selama masih sebutan untuk ibu.



Makan juga udah mulai mau makan sendiri, tapi karena ibu malas membersihkan remehan makanannya, jadi ibu memilih tetap menyuapi kafa, sambil sesekali gak papalah dia pegang nasi atau lauknya. Anaknya juga suka banget ternyata sama gorengan, kerupuk, dan tulang ayam! Buat diemut-emut doang tapi waktu makan jadi lebih lahap kalau dibandingkan dengan anaknya megang tulang ayam daripada tidak memegang apapun. Dan karena sudah 1 tahun, jadi kafa dapat hadiah dari ibu, hadiahnya makan buah duren (dari Engkong) dan mie 😂😂😂. Awalnya mie bayi, lama-lama ibu makan mie dia ikutan makan. Ya sudahlah, ibu mah bukan tipikal orang tua yang melarang anak makan ini itu, santai aja. Toh anak gak selamanya hand on sama kita, takutnya nanti ibu sudah melarang ini itu sudah memberikan peraturan banyak perfect saulaika, eh kecolongan orang lain yang kasih, jadi mending sekalian ibu aja yang kasih, biar gak nambah pikiran motherhood. Bulan ini juga Kafa akhirnya perdana ikut posyandu, jadi tinggi dan berat badan Kafa masih terpantau.



Sebulan terakhir kemarin karena ada tante Kiki liburan akhir tahun dari pondoknya, akhirnya pas ibu sakit, tante kiki yang bantu memandikan kafa. Karena ibu tiba-tiba sakit meriang gak jelas, kena air dikit menggigil, badan panas dingin. Eh tau-tau liat ibunya sakit, anaknya malah ikutan sakit. Tiba-tiba demam dari dicek anget-anget pakai tanganmeter sampai akhirnya dicek pakai termometer sudah 40°C tapi ibu denial dengan mempercayai hasil termometer yang pertama yaitu masih 39.2°C. Kata yangti langsung aja ke Puspita.



Akhirnya subuh-subuh hari Jumat ke Puspita. Dokternya bilang, "ini dua-duanya sakit, mesti cek darah, karena gak tau demamnya karena apa". Lagi-lagi pasti kalau demam yang ditakutkan itu kalo gak tipes ya dbd. Akhirnya kami berdua cek darah ke Puskesmas ditemanin Mas Kholison murid ayah. Sebenarnya gak enak karena masnya harus kerja, berkali-kali bilang udah mas kerja aja, akhirnya jam stgh 9 pagi masnya pamit kerja. Tinggal ibu dan kafa sendirian nunggu giliran ambil darah. Sebelum dikasih rujukan dari Puspita, dokternya ngasih obat panas untuk kafa yang dimasukin ke lubang feses. Pernah baca-baca lupa dipostingan siapa, katanya obat demam yang dimasukin "ke sana" lebih ampuh dan cepat dalam menurunkan panas. Maka akhirnya ibu memperbolehkan permintaan dokter karena sebelumnya juga sudah diberi  Paracetamol tapi gak mempan.



Tiba giliran kami dipanggil untuk diambil darahnya, ibu sudah tidak demam, kafa demamnya mulai turun di angka 38.2°C. Pas cek darah, karena ibu tau biasanya hasil laboratorium keluar sekitar jam 3 sore, maka ibu bilang ke tenakesnya, "kata dokternya kalau bisa hasilnya sebelum jumatan jadi ya pak" padahal sih enggak, cuma emang kalau gak dibilangin begitu, hasilnya keluar jam 2 siang, nah kalo jam 2 siang baru keluar, berarti periksanya mesti lanjut keesokan harinya, jadi ibu gak mau. Akhirnya darah kami berdua pun diambil untuk dicek. Setelahnya kami menunggu lagi. Sambil menggendong kafa, ibu menahan ngantuk karena hari itu ibu terakhir tidur jam 3 sore hari sebelumnya (efek minum obat dari Engkong). Jadi semalaman ibu belum tidur. Tiba-tiba kafa muntah, kena jaket, baju, celana, kemana-mana. Akhirnya ibu meminta tolong orang rumah untuk menyusul dan membawa perlengkapan baju ganti Kafa. Datenglah bude Tia.



Jam 11.30 hasil lab keluar, ibu (seperti biasa) kena gejala tipes. Agak sedih juga sih, sakit yang sama dengan bulan Oktober/November sebelumnya. Yang bikin kaget justru hasil tes darah kafa baik-baik saja, yang tidak baik-baik saja hanya satu yaitu kadar Hbnya. Hbnya rendah diangka 10, padahal bayi minimal diangka 13 dan itu yang bikin anaknya demam tinggi, seperti pusing (bingung juga kan menceritakan bayi kalau pas pusing bagaimana) jadi intinya suka tidur. Jadi kalau anak sering demam tinggi tanpa sebab (tidak setelah imunisasi), itu juga bisa jadi salah satu tanda-tanda Hb rendah. Ibu sedih. Jadi keinget dulu sebelum berusia 40 hari kafa juga pernah cek darah karena kasus udel, dan yaaaa Hbnya memang rendah. Waktu itu karena masih ASIX, jadi domplengnya ya hanya ASI. Ibu harus memakan segala-gala yang membuat kandungan nutrisi pada asi optimal. Dan pas waktunya MPASI, ibu kira MPASI homemade dan MPASI terfortivikasi sudah cukup mendongkrak Hb. Tetapi oh ternyata tidak semudah itu fergusooonnnn...



Walaupun sedih, sambil menahan nangis dan emosi, ibu tetap tanya-tanya di grup wa mamah muda alias mahmud barang kali ada yang pernah senasip. Sambil nanya pengalaman, sambil ibu compare dengan hasil resep dari dokter, akhirnya sesuai dengan anjuran dokter dan belajar dari ibu-ibu di grup, sekarang kafa sehari sekali masih mengonsumsi vitamin penambah Zat Besi. Harusnya sih 3 hari setelah cek lab, anaknya cek darah lagi (kontrol), melihat hasilnya ada perubahan atau belum. Tapi belum ibu lakukan, ya karena sedih melihat anak diambil darahnya (lagi) walaupun ternyata anaknya hebat pas diambil darah gak nangis gak apa, malah ngeliatin pas ibunya ambil darah 😅.



Jangan sombong! Tamparan halus buat ibu, sekalipun cuma ngebatin. Alhamdulillah badai pasti berlalu, kafa berangsur-angsur normal lagi suhu badannya, batuknya juga sudah sembuh, dan yang tadinya badannya sampai sempat menggigil juga karena demam, lemes sampai jalan sendiri aja gak mau, yang tadinya suka bebenah depan tv dan sekitarnya saking aktifnya sampai gak mau bebenah sama sekali, akhirnya sekarang sudah ceria lagi, sudah mau jalan lagi, sudah mau bebenah lagi 😅😅😅Malah waktu kafa sakit lucu-lucu kesalnya, lagi-lagi ibu dikaitkan sama mitos, katanya sakit gara-gara sudah bisa jalan tapi gak disawer-sawer sih. Masya Allaaaaahhhhh (begitulah grandparent kolonial) waktu itu ibu bilang, "gak ada kaitannya tradisi sawer sama Hb rendah". Tapi diomongin begitu sih, ibu masih gak nangis, gak baper, cuma kesal tapi geli lucu aja. Nangisnya  malah pas ditelfon ayahnya kafa, eaaa. Sedih juga ya ternyata Long Distance Married (LDM) tuh apalagi kalau dapat ujian seperti ini. 



Tapi ibu yakin, badai pasti berlalu. Insya Allah, mudah-mudahan sebulan berikutnya dan selanjutnya kafa sehat selalu. Dan mudah-mudahan ibu juga bisa lebih rajin. We love you.


Surat Cinta untuk Kafabillah yang Keempat Belas



Surat kali ini ibu tulis lebih awal sebelum hari H tiba, hari dimana Kafa berusia 14 bulan. Entah kenapa ibu merasa perlu menulis lebih awal. Selalu ada fikiran, ayo ndang nulis, ayo ndang nulis... Akhirnya daripada kepikiran terus, mending ibu tulis saja meskipun ibu punya deadline tulisan yang harus segera ibu kirim untuk sebuah acara. Selain itu, mungkin juga karena bulan lalu ibu lebih banyak menulis kesedihan ibu ketika kafa sakit jika dibandingkan tumbuh kembang kafa yang pesat.

Ibu throwback sebentar. Kemarin setelah Kafa sakit dan cek lab, seharusnya ibu kontrol, tetapi ibu enggan melakukannya. Akhirnya setelah mangkir, ibu datang juga ke poli MTBS karena kafa demam, bapil, dan seperti masuk angin setelah sebelumnya menemani ibu menonton film IP Man 4. Sebenarnya tidak ada niatan nonton film sama sekali, apalagi terakhir kali kafa nonton film adalah film Gundala yang mana kafa cukup tidak kondusif dan pada akhirnya ayah memilih mengalah menggendong kafa keluar studio dan membiarkan ibu tetap menonton film tersebut dengan dalih me time. Kemarin ketika menonton film Ip Man 4 adalah rejeki ibu dan bude tia yang tiba-tiba bertemu dengan bude bila bersama teman2nya yang mau menonton film ip man 4. Akhirnya ditraktirlah kita.

Kembali ke poli MTBS, Dokter yang bertugas hari itu tentu membaca rekam medis kafa dan menegur ibu yang seharusnya membawa kafa untuk kontrol. Karena gejala yang kafa rasakan baru 1 hari, akhirnya dokter memutuskan untuk menunggu dan meminta ibu untuk kembali kontrol di hari Jumat sembari memberikan resep agar kafa lekas pulih karena kafa memiliki 2 agenda penting yaitu menghadiri wisuda s1 tante ririn dan menjenguk om adil. Yangti lagi-lagi seperti biasa mengaitkan sakit kafa dengan tradisi sawer yang belum ibu laksanakan. Sebelum sesi konsultasi selesai, Ibu juga bertanya dan dijawab oleh dokter tentang keluhan ibu karena kafa tidak mau makan selama sakit ini. Dokter bilang gpp bu, satu sendok aja udah alhamdulillah jangan dipaksa, nanti dicoba lagi 1 jam kemudian. Maka akhirnya seharian kafa tutup mulut dan hanya mau dbf, ya sudah, ibu mencoba bersikap tenang. Alhamdulillah malam hari ketika makan malam tiba ada peningkatan, anaknya mau makan 3 suap. Habis itu kafa bermain dengan Kakak Y dan sebelum tidur dicekok obat. Panasnya pun mereda meski masih meler ingusnya.

Terkadang ibu memang lelah dan kewalahan mengurus kafa sedang ayahnya jauh di Samarinda. Tetapi jauh di fikiran ibu yang lainnya, ibu merasa sangat ingin untuk selalu bersyukur. Bersyukur karena ditengah maraknya kasus PPD atau BBS, ibu bisa survive melihat kafa tumbuh dengan menggemaskan.

Kafa sudah semakin sering memanggil kata mbu untuk ibu. Memanggil engkong dengan baba atau papa untuk abah. Mulai bisa berkata tu tuh tuh sambil menunjuk untuk memperlihatkan sesuatu. Sudah bisa minum digelas tanpa dibantu. Sudah tahu kalau ada anggota keluarga yang rapi dia ingin ikut pergi. Sudah tahu kalau pintu terbuka dia harus segera keluar untuk bermain. Sudah ingin memakai sandal sendiri, apalagi kafa terlihat senang sekali dengan sendal tayonya yang menandakan berakhirnya ia memakai sepatu prewalker.

Semakin suka menirukan huruf-huruf yang ia dengar dari youtube maupun smarthafidz. Seperti huruf tsa, da, ya, ba, ta, ma, pa. Memang setelah usia 1 tahun ibu memperbolehkan kafa menonton youtube. Meskipun ibu harus terima resiko kadang anaknya menunjuk atau swipe up layar hp ibu untuk menonton channel yang sudah ibu donlot. Tetapi jika tidak urgen seperti diperjalanan atau ibu mau sholat tetapi tidak ada org lain, maka tidak ibu beri dan akhirnya ia menangis. Ya tak apa menangis, selesai nangis dbf tidur. Selesai. Akan berbeda ceritanya jika ibu luluh dan memberikan hp padahal mungkin saat itu ia adalah jam tidur siangnya.

Sengaja ibu memperbolehkan kafa menonton youtube atau media lainnya yang kontennya sudah ibu pilih terlebih dahulu. Karena memang sisi positifnya dari sana pula kafa ngocehnya semakin mantul dan bahkan ia bisa menyanyi lagu aurora soundtrack sekuel film frozen. Meskipun hanya huuu uuu huuu uuuu nya 🤣🤣🤣. Dari sana pula kafa sudah mulai bisa joget baby shark. Dan memang pada dasarnya anaknya suka joget. Setiap ada musik, badannya yang gempal akan bergerak seperti puding yang tersenggol wkwkwk.

Di bulan ini pula akhirnya ibu menggundul kafa untuk yang ketiga kalinya. Engkong yang membawa kafa ke tukang cukur dan alhamdulillah no drama. Kafa anteng selama digundul, apalagi ada film upin ipin yang ditayangkan saat itu. Mudah-mudahan gundulan kali ini hasilnya rapi sehingga rambut kafa bisa ibu panjangkan seperti rambut al el dul waktu kecil, hihihi.

Bulan ini juga akhirnya kafa berkenalan dengan Timezone dan saudaranya. Tetapi ia terlihat belum nyaman dan bisa menikmatinya. Its okay. Setelah acara WWC, dibulan ini akhirnya kafa menemani ibu mengikuti seminar Pasar Modal di Senayan City. Ibu senang kafa sangat kooperatif selama acara.


Daaannn akhirnya bulan ini Kafa disawer. Yaaa, setelah Yangti pulang dari ziarah wali songo, akhirnya pas hari Jum'at ibu beli cemilan-cemilan untuk bingkisan anak-anak TPA yang hari itu hadir ngaji dan ikutan saweran. Yangti bikin kalung-kalungan yang bandul-bandulnya diisi sama snack. Terus acara dimulai sederhana saja, setelah anak-anak TPA hadir, baca juz 'amma sebentar, engkong mimpin do'a, terus yangti nyawer deh, pada senang deh akhirnya. Yangti senang, Ibu lega, dan eh ternyata sehabis itu Kafa makannya lahap lho, hahaha. Pastilah Yangti bilang, tuh kan, makanya, coba dari kemarin-kemarin disawer... :D

Segini dulu ya kafa, nanti kalau sudah ada cerita baru akan ibu tambah. I love you, i dont know how much i say and i write it to you...



Surat Cinta Kelima Belas...
Kafa playdate bareng Kamila dan Gamal.
Kafa nemenin ibu ikut Kursus Pencegahan Ekstrimisme di Rumah Pergerakan Gus Dur.

are coming soon :)

2 comments:

  1. Hahahaha...saya juga kadang karena ogah bersih2 remahan atau nggak telaten nunggu Bio selesai makan, lebih memilih untuk nyuapin aja.

    Padahal harusnya nggak gitu 😥

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa, sering kali praktik parenting gak semulus baca teori parenting ya :D

      Delete