Surat Cinta Istimewa edisi HUT Kafabillah


Muhammad Kafabillah Amary
Doc. Pribadi


Akhirnya tanggal 6 Desember 2019 tiba juga. Itu artinya, genap satu tahun usia Kafa. Selamat ya nak, doa-doa terbaik akan selalu ibu usahakan untuk ibu panjatkan kepada Tuhan wa bil khusus untukmu. Karena satu dan sekian hal, maafkan ibu yang berencana untuk tidak merencanakan perayaan apapun di hari kelahiran pertamamu ini. Awalnya ibu kira Kafa akan ultah dan dirayakan di Magelang, tetapi ternyata Kafa dan Ibu pulang ke Jakarta, sehingga saat hari ulang tahun kafa, ayah tidak bisa hadir. Maafkan ibu yang tidak berupaya lebih, semua tart dan balon-balon, ditemani bude Tia ibu beli seperti tahu bulat alias dadakan padahal sebetulnya Ibu bisa memberikan yang lebih dari itu. Maafkan ibu yang tidak membuat selebrasi seperti ulang tahun pertama ‘pada umumnya’. Karena ibu fikir saat ini kafa belum butuh itu, kafa belum mengerti tentang perayaan, tiup lilin, kado, dan sejenisnya. Meski begitu, pelukan, keluarga yang hangat, senyuman, kasih sayang, doa-doa tulus lah yang ibu usahakan untuk ibu hadirkan di setiap hari Kafa.

Maafkan ibu juga lagi-lagi telat menulis surat cinta untuk Kafa. Akhir-akhir ini ibu jarang membuka laptop karena laptop ibu masih dalam masa perbaikan, karena saat ini ibu sedang libur sholat, maka ibu fikir, inilah saat yang tepat untuk menulis surat cinta yang tertunda untuk Kafa.

Selama sebulan terakhir, banyak sekali yang sudah ibu lalui bersama kafa. Terlebih ketika ibu dan kafa akhirnya memutuskan untuk menjalani hari-hari di Jakarta ketika ayah mengurus pesanan kayu yang kemudian hari berencana untuk mencoba peruntungan di Samarinda. Sebenarnya banyak hal yang ibu pertimbangkan, apalagi terkait Kafa. Mulai dari Kafa bangun tidur hingga Kafa terlelap di malam hari. Atau hal-hal seperti mencuci baju, karena mesin cuci di rumah Yangti dan Engkong saat itu rusak dan belum diperbaiki, sehingga untuk cuci-mencuci harus manual atau menggunakan tangan. Tetapi setelah ibu fikir-fikir lagi, ah sama aja, di Magelang juga kalau air lagi habis ya nyuci pakai tangan gak bisa pakai mesin cuci. Dan ternyata ya setelah ibu lalui hari-hari di Jakarta bersama Kafa untuk persoalan cuci-mencuci dan lain-lain ya sesantai itu, ibu tetap bisa mengurus Kafa dan mengerjakan pekerjaan yang lainnya, tak selelah yang ibu bayangkan.

Akhirnya pikiran-pikiran halu itu ibu tepis jauh-jauh, belum apa-apa kok sudah ketakutan. Lagi pula, mumpung ada kesempatan, kapan lagi kan ibu bisa mudik ke Jakarta dalam jangka waktu yang lama? Meskipun pada akhirnya Ibu harus memberanikan diri pergi ke Jakarta seorang diri membawa Kafa dalam perjalanan dengan kereta api. Ya karena apalagi kalau bukan kendala di biaya? Tetapi ternyata setelah dilalui sangat menyenangkan, walaupun awalnya dagdigdug derrrr. Ternyata the power of Sounding Alhamdulillah sering kali berhasil. Kafa sangat menikmati perjalanan dan mau bekerja sama dengan ibu Selama di perjalanan. Rewelnya hanya ketika mengantuk dan ingin rebahan. Tapi akhirnya semua itu berlalu. Ibu bahkan bisa membuat satu thread untuk pengalaman naik kereta hanya berdua bersama Kafa. Kapan-kapan akan ibu post ya :)

Namanya anak-anak, pasti ada masa lupa-lupa ingat terhadap anggota keluarga yang jarang bertemu. Sesampainya di Jakarta, anggota keluarga yang langsung bisa akrab dengan Kafa adalah Kakak Y yang saat itu berusia 3 tahun. Selebihnya Kafa menganggap anggota keluarga di Jakarta adalah stranger. Akhirnya, setiap kali digendong oleh Yangti, Engkong, Bude Tia, Bude Bila, Bulek Ririn, Kafa langsung menangis dan merengek mencari Ibu. Untungnya keadaan ini tidak berlangsung lama. Pada akhirnya Kafa mulai beradaptasi dan memudahkan kegiatan yang harus ibu lakukan selama di Jakarta.

Hal pertama yang membuat Ibu panik dalam mengurus Kafa di Jakarta adalah ketika Kafa harus mandi. Biasanya di Magelang, Kafa masih mandi dengan bak bayi, tetapi karena di Jakarta tidak ada bak bayi, mau tidak mau, akhirnya Kafa harus mulai beradaptasi untuk mandi dengan berdiri sambil berpegangan ke bak kamar mandi. Untungnya Kafa sudah bisa berdiri cukup tegak, sehingga hanya beberapa kali Kafa nyaris dana tau terjatuh ketika mandi. Walaupun terjatuh, tetapi Kafa jarang sekali menangis J Malah semakin hari semakin pintar berkeliling kamar mandi melihat dan menunjuk-nunjuk keramik bergambar ikan di dinding kamar mandi setiap kali sesi mandi berlangsung.

Adaptasi selanjutnya adalah kasur lantai. Karena di rumah Yangti tidak menggunakan springbed, sering kali di awal-awal hidup di Jakarta, Kafa sering kepentok kepalanya ketika bangun atau hendak tidur. Biasanya kalau di Magelang kan dimana-mana ibu sediakan kasur, jadi Kafa sering bergulung-gulung ria tanpa harus terjembab dan benjol karena jatuh di lantai. Tetapi hal ini juga tidak berangsur-angsur, beberapa hari kemudian Kafa sudah tidak menjembabkan diri ke lantai.

Kemudian waktu makan. Meskipun ibu sudah menyiapkan MPASI Instan agar memudahkan ibu ketika waktu makan tiba, dan Kafa jufa sudah mulai bisa memakan nasi, tetapi ibu tetap saja agak panik. Jadi ibu agak berhati-hati, Ibu lebih memilih memberi makan secukup dan se-mood nya Kafa daripada Kafa trauma makan yang kemudian hari bisa menambah beban ibu jika sampai terjadi trauma. Ibu mencoba untuk chill, ya sudah kalau memang pas maunya makan sebanyak 1 sendok makan orang dewasa ya gakpapa. Alhamdulillah Kafa lebih sering makan banyak daripada sedikit makan dan itu sangat membantu Ibu. Selama di Jakarta jadwal makan Kafa sudah tiga kali. Pagi hari makan bubur MPASI Instan yang diberi campuran abon, kemudian siang dan sore atau malam hari nya menu makan Kafa adalah masakan keluarga. Menu keluarga yang paling sering Kafa makan adalah ikan kembung dana yam goring, sesekali bakso.

Akhirnya setelah 6 bulan Kafa tidak berenang, Kafa kembali lagi bermain di wahana kolam renang. Awal-awalnya sebelum nyemplung di dalam air, Kafa sangat bersemangat. Setelah tau airnya dingin, Kafa selalu berpegangan erat dengan ibu dan menolak mengambang di ban spiderman yang sudah Engkong belikan. Untungnya semakin lama Kafa mulai mau main kecipak kecipuk alias menepuk-nepuk air. Yang ibu sayangkan adalah sepatu Kafa yang tertinggal di tempat wahana bermain air. Karena itu adalah sepatu terkecil dan termuat yang bisa Kafa pakai dari 3 pasang sepatu yang Kafa punya. Akhirnya walaupun saat itu Kafa belum bisa berjalan, beberapa hari kemudian, ibu membelikan Kafa sandal cit cit alias sandal yang bisa berbunyi. Waktu itu yang ibu fikirkan, barang kali dengan sering pakai sandal, jadi otot kaki Kafa semakin kuat sehingga Kafa bisa lebih cepat untuk berani berjalan sendiri.

Viola! Ternyata benar! Tepat di penghujung awal Desember, Kafa bisa melangkah sebanyak  3 langkah, usianya saat itu nyaris satu tahun. Satu tahun kurang 5 hari. Setelah itu, akhirnya Kafa semakin sering berdiri, semakin bisa menyeimbangkan diri dan bisa berdiri sendiri tanpa harus dibantu, persis seperti yang Nenek Aam bilang, katanya kalau bayi sudah bisa jongkok kemudian berdiri sendiri dari posisi jongkoknya, maka sebentar lagi pasti bisa berjalan. Alhamdulillah semua proses itu sudah Kafa lalui dan proses berjalan Kafa sangat memudahkan ibu karena ibu tidak perlu repot-repot memapah Kafa berjalan :)

Selama Kafa di Jakarta juga Kafa sering bersilaturahmi baik bersama anggota keluarga yang berdomisili atau yang tidak berdomisili di Jakarta maupun teman-teman Ibu yang berniat bertemu dengan Kafa. Kafa bertemu dengan keluarga dari Engkong ketika menjenguk Om Adil di Majalengka dan Tante Kiky di Bandung. Saat itu Kafa sempat masuk angin dan malas makan, baju Kafa juga habis terkena muntahan. Akhirnya Ibu membeli baju piama baru untuk Kafa di rest area. Selain keluarga, Kafa bertemu dengan teman-teman Aliyah Ibu seperti Tante Bedri, Om Ahya, Pakde Mardhon tepat saat Kafa berulang tahun. Kafa juga bertemu dengan teman-teman SMP Ibu di Cikampek saat menghadiri resepsi pernikahan salah satu teman. Kafa bertemu dengan Una anaknya Mama Vani, Lubna anaknya Mama Qonita, Azhar anaknya Mama Tim-tim, dan Om Imam. Di Cikampek juga Kafa menghadiri akad dan resepsi Uwa Ardi anaknya Nenek Mama dan bertemu banyak keluarga dari Yangti yang menghadiri acara namun tidak berdomisili di Tanah Sereal.

Acara pernikahan yang Kafa hadiri di Cikampek berbeda hari, Sabtu dan Minggu. Akhirnya Ibu memutuskan untuk naik kereta dari Stasiun Tanjung Priuk – Stasiun Cikampek pada hari Jum’at. Alhamdulillah, meski bawaan Ibu cukup banyak, Ibu dan Kafa mendapatkan kursi untuk duduk. Bahkan sesampainya di Stasiun Cikampek, ada bapak TNI bernama Imam B. yang bersedia menolong Ibu untuk membawakan tas perlengkapan Kafa. Sesampainya di Cikampek, Ibu nostalgia bersama Mama Una yang keesokan harinya barulah bertemu dengan teman-teman ibu yang lainnya dan pada hari Minggu Ibu dijemput oleh Yangti untuk menuju tempat akad dan resepsi Uwa Ardi yang tidak jauh dari tempat tinggal Mama Una.

Tidak hanya pergi berdua bersama Kafa ke Cikampek, Ibu dan Kafa juga pergi berdua ke Cirebon selama 5 hari. Waktu itu ibu mendapatkan broadcast akan ada Women Writing’s Conference (WWC) yang diadakan oleh Mubaadalahnews.com dan Institut Fahmina. Iseng-iseng karena laptop Ibu sedang rusak, sambil menyusui Kafa, Ibu membuka aplikasi note di ponsel ibu dan mulai membuat naskah yang harus Ibu kirimkan ke panitia untuk di seleksi dalam rangka mengikuti konferensi tersebut. Alhamdulillah dari sekian ratus naskah, ternyata naskah Ibu masuk, akhirnya mau tidak mau dari Cikampek, Kafa bersiap ke Cirebon. Saat itu ibu tidak bilang kepada panitia bahwa ibu akan membawa Kafa, tetapi ternyata ada peserta lain yang konfirmasi kepada panitia akan membawa anaknya ke acara tersebut dan sedang mencari daycare. Padahal saat itu sedang booming kasus di Kalimantan ada anak balita hilang dari daycare dan ditemukan dalam keadaan tewas. Ternyata Allah berbaik hati dan memberikan kabar melalui pernyataan panitia WWC di grup whatsapp yang berisikan bahwa penyelenggara WWC menyediakan panitia dari Mahasiswa ISIF yang ditugaskan khusus untuk menjaga anak-anak peserta WWC selama kegiatan WWC berlangsung. Masya Allah tabarokallah, sebuah bantuan psikis yang luar biasa untuk meringankan tugas ibu-ibu dalam mengurus anak yang kami bawa di acara tersebut.

Yang ibu syukuri lagi, Kafa sangat anteng dan kondusif selama di Cirebon, jarang sekali menangis, menangis hanya ketika mengantuk tetapi tidak bisa tidur karena mau direct breastfeeding (dbf). Mandi juga tidak kesulitan karena dari hotel sudah disediakan air hangat, awal-awalnya saja Kafa kaget dengan air yang muncul dari shower. Waktunya makan juga mudah, meski Ibu sudah wanti-wanti untuk membawa MPASI Instan, tetapi karena Kafa sudah bisa memakan masakan keluarga, maka Ibu coba tawarkan menu sajian pihak hotel yang ibu santap, alhamdulillahnya Kafa suka. Hanya di hari terakhir Kafa malas makan. Nantinya akan ibu tulis di postingan yang berbeda tentang acara ini, mudah-mudahan dalam jangka waktu dekat.

Selesai 4 hari mengikuti acara WWC, akhirnya Ibu bertemu dengan Mama Salsa atau Hera teman semasa SD ibu yang bersedia bertemu dan mengantarkan ibu ke Pesantren Madrasatul Huffadz 1 di Gedongan. Sebelum menuju ke Gedongan, Ibu dan Kafa diajak berkeliling Keraton Kasepuhan dan mendengarkan cerita-cerita tentang Raden Kiansantang dari guidetour yang mengantarkan kami. Alhamdulillah selama perjalanan menuju Gedongan Kafa akhirnya mau makan pudding alpukat yang Mama Salsa bawakan. Hanya saja karena mengantuk atau bosan, akhirnya kafa rewel sebelum sampai di Gedongan.

Sesampainya di Gedongan, Kafa bertemu dengan teman SMP Ibu yang baru saja melahirkan putri pertamanya. Di pondok tersebut Kafa juga anteng, mau diajak ke kamar santri dan ikut menyantap masakan rumah yang telah disediakan. Saat tau akan ke Cirebon, Ibu memang sengaja mampir ke Gedongan, karena sudah sejak lama ibu ingin sowan ke orang tua teman Ibu yang juga adalah bunyai dari pondok tersebut. Keesokan harinya, walau pun agak susah mencari taksi online di daerah tersebut, Alhamdulillah lagi-lagi Allah berbaik hati membawakan kepada kami Elf yang rutenya menuju Stasiun Cirebon. Alhamdulillah kami bisa sampai stasiun sebelum jam keberangkatan. Walaupun perjalanan pulang ke Jakarta harus dilalui dengan ketidaknyamanan Kafa karena pup, tetapi akhirnya Ibu dan Kafa sampai di rumah dengan selamat.

Alhamdulillah, meskipun selama tinggal di Jakarta beberapa kali Kafa lagi-lagi terkena ruam popok (yang membuat ibu ingin pulang ke Magelang dan memakaikan Kafa clodi lagi) dan atopik Kafa kembali muncul karena harus beradaptasi dengan kondisi, cuaca dan lingkungan di Jakarta, tetapi  ibu sangat sangat bersyukur, terlebih perkembangan kafa selama satu bulan terakhir ini. Selain bisa berdiri dan berjalan sendiri, Kafa juga sudah bisa mengikuti ritme musik dan menggoyangkan badan apabila mendengarkan instrumen musik. Kafa juga semakin pintar bablingnya dan semakin ekspresif. Ibu semakin mudah mencerna ocehan-ocehan dan gerak gerik Kafa, begitu pun dengan Kafa yang juga mulai sedikit demi sedikit mengerti ucapan Ibu.

Mungkin cukup sekian ya nak surat cinta kali ini, sudah ada lebih dari 2000 kata yang ibu rangkai dalam surat ini. Jika sewaktu-waktu ada yang ibu ingat lagi, pasti akan ibu tulis. Peluk cium untuk anak ibu, muridnya Habib Umar, santrinya Kyai Tashim dan Gus Baha’. Sehat dan Bahagia selalu ya nak, semangat untuk naik bulan berikutnya. Love you.



2 comments:

  1. lucu mba dedeknya. gemessss ehehehe

    ReplyDelete
  2. Miladuka saidd adek Kafa. Semoga sehat selalu yaa. Selamat bertumbuh menjadi anak yg ceria, bahagia dan dilingkupi oleh orang2 yang membuatmu nyaman dimanapun. Salam ketjup dari kakak Nahla.

    ReplyDelete